<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860</id><updated>2012-01-15T18:31:16.265-05:00</updated><category term='SDA'/><category term='Tata Ekonomi'/><category term='Pertanian'/><category term='Kesehatan'/><category term='Subsidi'/><category term='Fiskal'/><category term='Komoditi'/><category term='Energi'/><category term='Finansial'/><category term='Ketenagakerjaan'/><category term='Ekonomi Islam'/><category term='Properti'/><category term='Perbankan'/><category term='Makro'/><category term='Ekonomi politik'/><category term='Belanja pemerintah'/><category term='Keuangan Islam'/><title type='text'>Komentar Ekonomi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6080921953092639862</id><published>2012-01-10T00:24:00.000-05:00</published><updated>2012-01-10T00:24:41.854-05:00</updated><title type='text'>Paradoks Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mayoritas tabungan di bank syariah menggunakan akad mudharabah yang merupakan akad kemitraan dalam investasi. Sebagai investasi, tentu nasabah mengharap agar bank menyalurkan dana mereka ke berbagai jenis bisnis yang menghasilkan keuntungan, bukan untuk aktivitas sosial. Keperluan sosial dipenuhi dari alokasi dana terpisah, seperti zakat dan sadaqah. Lain halnya jika investasi tersebut ditanamkan pada bisnis yang juga memberikan banyak manfaat pada masyarakat. Yang pasti, bank syariah tidak boleh menggunakan dana tersebut untuk selain aktivitas bisnis, misal untuk bonus karyawan bank, dipinjamkan, maupun diberikan pada fakir miskin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah kemudian muncul ketika bank syariah memiliki beberapa variasi produk yang menggunakan akad pinjaman (qardh), seperti talangan haji, gadai emas syariah, anjak piutang, dan kartu kredit syariah. Pada produk-produk ini, bank syariah memperoleh penghasilan atas jasa yang mereka berikan pada nasabah. Pada produk talangan haji, bank syariah memberikan jasa pengurusan haji. Pada gadai emas syariah, bank syariah memberikan jasa titipan barang gadai. Pada kartu kredit syariah, bank syariah memberikan jasa pembayaran ke merchant.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping menyediakan jasa, pada produk-produk ini bank syariah juga memberikan pinjaman&amp;nbsp;ke nasabah. Dana yang dipinjamkan bisa jadi berasal dari modal bank sendiri maupun dari dana nasabah, yang mana keduanya ditanamkan untuk mendapatkan keuntungan, bukan dana sosial.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika dana pinjaman berasal dari nasabah, berarti bank syariah telah menyalahi kontrak kemitraan dengan nasabah yang menyatakan penggunaan dana untuk investasi. Karena itu, sebagian, kalau bukan seluruh, bank syariah mengalokasikan sebagian pendapatan mereka dari produk-produk berbasis akad qardh tadi sebagai bagi hasil ke nasabah tabungan. Praktik ini kemudian tidak hanya dibolehkan, namun juga diwajibkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) pada Fatwa DSN nomor 79 tahun 2011 tentang Qardh Menggunakan Dana Nasabah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Keuntungan bagi Pemilik Dana Pinjaman&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ringkasnya, penggunaan dana investasi untuk pinjaman ini menjadi dimaklumi atau dibenarkan, oleh pemilik dana dan DSN, ketika pinjaman itu mendatangkan keuntungan bagi pemilik dana. Alasan ini juga berlaku ketika dana pinjaman bersumber dari modal bank sendiri. Pemilik bank syariah tidak akan keberatan jika modal mereka disalurkan sebagai pinjaman tanpa bunga, selama dengan adanya pinjaman itu jasa perbankan yang mereka tawarkan menjadi lebih laku atau bisa mengenakan tarif lebih tinggi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika pinjaman itu tidak memberikan keuntungan dalam bentuk lain, tentu saja pemilik bank akan menganggap pinjaman itu sebagai inefisiensi, karena keuntungan bank akan lebih besar jika modal diinvestasikan, bukan dipinjamkan cuma-cuma. Kalaupun pemilik bank ingin berbuat kebaikan dengan pinjaman itu, biasanya mereka akan mengalokasikan dana terpisah untuk keperluan sosial, misal dalam bentuk program-program &lt;i&gt;corporate social responsibility &lt;/i&gt;(CSR).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br class="Apple-interchange-newline" /&gt;Di sinilah kita perlu hati-hati akan kemungkinan terdapatnya riba karena pinjaman itu diberikan dengan niat untuk mendapat keuntungan. Memang keuntungan itu didapat tidak secara langsung dengan meminta tambahan pengembalian atas pinjaman yang diberikan. Akan tetapi, keuntungan tersebut diperoleh dari pendapatan jasa yang menyertai pinjaman tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Cara Mendeteksi Riba&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika riba didefinisikan secara sempit sebagai tambahan pembayaran atas pokok pinjaman, maka seorang yang ingin mencari keuntungan dari bisnis pemberian pinjaman dengan mudah berkelit dari tuduhan riba dengan menyelinapkan keuntungan itu melalui segala macam transaksi jual-beli barang maupun jasa yang menyertai pemberian pinjaman. Mereka sebenarnya bukan berbisnis jual-beli barang dan jasa tersebut, melainkan berbisnis pinjaman. Mereka menitipkan keuntungan bisnis pinjaman ke dalam harga barang dan jasa tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Taktik penyamaran riba ini sudah tercium oleh para ulama sejak dulu. Dan mereka telah menyiapkan alat pendeteksi riba yang sangat akurat. Detektor itu berwujud kaidah fiqh yang menyatakan, "Tiap pinjaman yang memberikan manfaat adalah riba." Definisi manfaat sangat luas, sehingga jika kaidah ini benar-benar diterapkan, hampir tidak ada celah sama sekali bagi riba untuk bersembunyi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Contohnya, kaidah ini akan menganggap riba perbuatan seseorang yang memberikan pinjaman uang dengan syarat peminjam membantu mengerjakan sawahnya. Pada kasus ini, pinjaman tidak secara langsung memberikan manfaat moneter sama sekali. Akan tetapi kita tahu bahwa dengan adanya tenaga penggarap sawah cuma-cuma, pemberi pinjaman telah menghemat uang untuk mempekerjakan tenaga penggarap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kaidah ini, kita tidak perlu lagi mempertanyakan niat si pemberi pinjaman, apakah ketika ia menjual barang atau jasa ataupun meminta hal lain dari peminjam. Walaupun si pemberi pinjaman tidak berniat untuk mencari keuntungan dari pinjamannya, jika pinjaman itu memberikan manfaat padanya maka ia telah melakukan riba. Apakah ia berdosa ketika melakukan riba tanpa sengaja adalah perkara lain. Kaidah fiqh ini hanya memutuskan dari fakta lahiriah bahwa manfaat yang diberikan oleh peminjam pada pemberi pinjaman adalah riba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ribakah Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita terapkan kaidah fiqh ini untuk menganalisis apakah ada riba dalam pembiayaan syariah berbasis qardh. Dari penjabaran sebelumnya, jelas pinjaman itu telah memberikan manfaat berupa keuntungan bagi pemilik dana pinjaman, baik ia adalah nasabah penabung maupun pemilik bank. Karenanya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa keuntungan yang diperoleh dari produk berbasis pinjaman itu adalah riba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan ini tentu akan mengagetkan jika dikontraskan dengan fatwa-fatwa DSN atas produk-produk perbankan syariah berbasis akad qardh, mencakup antara lain fatwa nomor 26, 29, dan 31 tahun 2002 terkait gadai emas, talangan haji, dan pengalihan utang, serta fatwa nomor 54 tahun 2006 tentang syariah card. DSN bukannya tidak tahu atas kemungkinan riba pada produk berbasis pinjaman ini. Mereka sesungguhnya telah mengantisipasi agar produk itu tidak terjatuh pada riba&amp;nbsp;melalui fatwa-fatwa tersebut&amp;nbsp;dengan mengatur bahwa jasa yang diberikan oleh bank dan tarifnya tidak boleh dikaitkan dengan pinjaman yang diberikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larangan pengkaitan antara pinjaman dengan jasa ini seharusnya sudah menolak eksistensi produk yang diaturnya sendiri, karena semua produk tersebut selalu menawarkan pinjaman dan jasa dalam sebuah paket. Tidak ada bank syariah yang menawarkan pinjaman tanpa bunga secara terpisah dari jasa yang mereka berikan. Kalau memang tidak ada kaitan antara pinjaman dan jasa tersebut, semestinya nasabah bisa meminjam uang tanpa harus disertai menggunakan jasa bank syariah tersebut, baik dalam bentuk pengurusan haji, titipan gadai, jasa pembayaran, atau jasa apapun. Faktanya, bank syariah hanya menawarkan pinjaman tanpa bunga dalam paket-paket jasa mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bisa dikatakan bahwa fatwa-fatwa DSN yang mengatur larangan pengkaitan pinjaman dengan jasa bukanlah fatwa yang membolehkan, tapi justru melarang penjualan produk-produk perbankan syariah tersebut. Kenyataan bahwa produk-produk berbasiskan qardh itu bisa terus dijual bank syariah hanya bisa dijelaskan oleh keengganan untuk mengakui secara jujur bahwa semua produk itu mengkaitkan antara pinjaman dan jasa bank.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Riba vs Jual Beli&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larangan riba dalam Islam mengandung hikmah agar orang tidak mencari uang gampang dari bisnis meminjamkan uang dan juga tidak gampang meminjam uang untuk memenuhi nafsu konsumtifnya. Pinjaman seharusnya merupakan aktivitas tolong-menolong antara sesama manusia. Karena tentu saja tidak ada orang yang mau menolong orang yang hanya sekedar ingin memenuhi nafsu konsumtif, maka hanya orang yang punya keperluan benar-benar penting dan mendesak saja yang akan meminjam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hikmah tersebut, kita bisa melihat alangkah melencengnya jalan yang ditempuh produk-produk pembiayaan syariah yang berbasis qardh dan yang melayani kebutuhan konsumtif. Kekeliruan itu telah dimulai sejak awal ketika niatan dalam membuat produk-produk tersebut sekedar untuk mengikuti segala jejak perbankan konvensional, dengan alasan agar tidak tertinggal dan bisa menyaingi perbankan konvensional. Apa gunanya beradu kecepatan pada jalan yang keliru?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Allah swt menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, Dia swt memberikan solusi untuk orang mencari rizqi bukan dari riba tapi dari jual-beli. Pintu rizqi Allah swt di jual-beli sangat luas, sehingga seluruh manusia bisa hidup tanpa riba.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, semestinya perbankan syariah tidak merasa ruang geraknya dipersempit ketika mereka dilarang dari aktivitas ribawi. Mereka justru harus lebih memprotes Bank Indonesia yang membatasi ruang gerak mereka untuk melakukan aktivitas jual-beli.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jual-beli yang dilakukan pun semestinya bukan berfokus pada jual-beli kredit yang kembali lagi akan berujung pemenuhan nafsu konsumtif. Fasilitas kredit diberikan hanya untuk mereka yang membutuhkan. Bukan seperti praktik sekarang di mana kredit justru diberikan pada orang yang paling tidak membutuhkannya, karena merekalah yang punya kemampuan untuk membayar lunas utangnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalaupun regulasi dan kapasitas perbankan syariah masih tidak memungkinkan untuk melakukan jual-beli, mereka bisa tetap berfokus pada fungsi intermediasi ke sektor produktif melalui pembiayaan berakadkan kemitraan (syirkah) dengan berbagi untung-rugi. Apa bisa untung hanya dengan menyalurkan pembiayaan bagi hasil? Kalau memang tidak bisa, untuk apa nasabah penabung di bank syariah menginvestasikan dana mereka ke tabungan yang memberi mereka bagi hasil fluktuatif, bukan pendapatan bunga tetap seperti di bank konvensional. Apakah bank syariah hanya bisa mengajak masyarakat untuk berinvestasi dengan akad bagi hasil, namun mereka sendiri tidak mau melakukannya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6080921953092639862?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6080921953092639862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6080921953092639862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6080921953092639862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6080921953092639862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2012/01/paradoks-pembiayaan-syariah-berbasis.html' title='Paradoks Pembiayaan Syariah Berbasis Qardh'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6643156231814190331</id><published>2012-01-04T02:07:00.000-05:00</published><updated>2012-01-04T02:07:00.172-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><title type='text'>The Failure of Deposit Insurance and Government Bail out</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Although bank deposits are short term debt contracts, banks lend the deposit funds as long term debts. To serve regular deposit withdrawal, banks allocate some percentages of the funds in forms of cash as a reserve.&amp;nbsp;In normal situation, there is no problem with this method because the withdrawn funds will soon be replaced by other customers' deposits.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;However, bad lucks sometimes happen to some banks. If there are enough bad news, whether it's true or not, regarding to some bank that may affect its ability to repay all deposits, its customer start to line up withdrawing their money. &amp;nbsp;Certainly, the troubled bank can only serve the withrawal up to the amount of cash it has in the bank's vault. It may also borrow some money from other banks, usually at really high interest rate. The interest rate will becomes higher if other banks perceive the loan as risky, considering the possibility of the borrower bank closes its operation if the problem keeps worsening.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;If the bank can no more borrow money from other banks, it turns to the lender of last resort: the central bank. The central bank loan usually come with high interest too, and or with several prudential requirements, including handover safe assets as collateral.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Deposit Insurance and Government Bail Out&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;If even this step cannot save the banks, the troubled bank will be taken over by the deposit insurer. The deposit insurer will pay bank customers' deposits in exchange of the share of the &amp;nbsp;bank's ownership. &amp;nbsp;The deposit insurer will try to keep the bank running well, so that it can resell its share at price high enough to cover the insurer cost to pay customers' deposits.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Most of the time, the resale price of the shares or the proceeds of bank liquidation if it should close its operaton, is not high enough and the insurer experience loses. In fact, the loses burden is shared among all banks.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The logic of the deposit insurance is just the same as a common car insurance, the intended beneficiary is the unlucky one, but it turns out that most beneficiaries are the careless ones. Regardless moral hazard incentives which any insurance create, it is unfair to let the careful individuals pay for the carelessness of others.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The problem of bank failures does not necessarily stop as a burden for deposit insurer which collects money from banks. The deposit insurer can handle the problem if there are only few small bank failures. But if there are many bank failures or one too big to fail bank, even deposit insurer can do nothing about it. At this level, government may be necessary to step in to save the troubled banks.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Again, government often cannot recover all costs of bail out, thus it becomes taxpayers' burden. Now, it becomes much more unfair because most taxpayers have nothing to do with banking industry except as their customers, but they have to bear the burden. It is, however, often said that a collapse of banking industry will very possibly cause recession which advertently affect taxpayers. Because it is also taxpayers' concern to keep banking industry running, taxpayers should be willing to pay the cost for saving this industry.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Reckless Neighbor&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Now, this kind of logic is similar to the case when you have reckless neighbor who often forget to turn the stove off &amp;nbsp;after cooking, and you are asked to pay the cost of fire safety equipment for your neighbor's house because you do not want the fire from their house spread to &amp;nbsp;your house. It is definitely unfair! Instead of you pay for their fire prevention cost, your neighbor have to choose either bearing that cost by themselves, or &amp;nbsp;paying for your loss if the fire happens to burn also your house.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So, if it is unfair to let taxpayers bear the burden caused by bankers' fault, does it mean that we have to let economic crisis happens as credit crunch is taking place along with the bank failures? No, we don't. Indeed, we have to stop all those things happening since very beginning, at the very root of the problems, which is the vulnerability of our financial system.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;As I described in the beginning of this post, our current financial system can only work under normal circumstances, when everything works. But this system is very sensitive to small disturbances. All measures currently applied to prevent this small shocks becoming larger, including deposit insurance and government bail out, costs a lot of resources paid by innocent people and inducing moral hazard.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Back to my analogy on reckless neighbor, telling them to install fire prevention system and pay it by themselves perhaps is still not enough. Neither can they be told to change their reckless behavior. What should be done is replacing their stove with automatic shut off stove.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Chicago Plan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;My point is that we should transform our financial system to remove its vulnerability. I basically agree with the Chichago Plan of narrow banking. In this plan, bank is only a depository institution, not intermediary. &amp;nbsp; As merely depository institution, banks have to hold a hundred percent of deposits in form of cash reserves. Thus, they can always serve fund withdrawal and transfers any time without any risk of default.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Other institution can perform the intermediary function which always be more risky than depository function.&amp;nbsp; People who put money to intermediary institution should have been ready to accept the risk of losing their money, because they also seek the possibility of earning profit from their investment. This intermediary institutions should also protect firms from immediate liquidation of investment, thus a negative-expectation-driven rush of investor could not disturb the normal production process of companies. Thus, if some companies fail, or even some intermediary institutions fail, the panic investors of other intermediary insitutions cannot ruin the later which is still in a good condition.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6643156231814190331?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6643156231814190331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6643156231814190331' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6643156231814190331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6643156231814190331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2012/01/failure-of-deposit-insurance-and.html' title='The Failure of Deposit Insurance and Government Bail out'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7255800738870231664</id><published>2011-12-29T13:28:00.000-05:00</published><updated>2011-12-29T13:28:19.312-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><title type='text'>Keuangan Islam, Kembalilah ke Jati Dirimu!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga saat ini, sebagian besar kreasi produk keuangan Islam di Indonesia diinisiasi oleh pelaku industri keuangan Islam. Terang saja, motif pelaku ini adalah memenangkan persaingan antara mereka dengan keuangan konvensional. Persaingan antara pelaku industri keuangan terjadi pada aspek harga dan diversifikasi layanan. Permintaan fatwa produk keuangan baru didorong oleh persaingan diversifikasi layanan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, keuangan Islam hanya menjadi pengikut dalam melakukan diversifikasi produk. Dengan demikian, produk keuangan Islam tidak memiliki keunggulan atas produk keuangan konvensional selain label Islam yang mereka bawa. Di sisi harga, produk keuangan Islam selalu kalah dari produk konvensional karena skema multi-transaksi yang digunakan dalam menghasilkan tiruan produk keuangan konvensional senantiasa memerlukan biaya transaksi yang lebih besar daripada skema transaksi tunggal utang berbunga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inovasi produk keuangan Islam yang memiliki diferensiasi terhadap produk keuangan konvensional juga menghadapi masalah keasingan bukan hanya dari pasar, tapi juga dari regulator. Produk keuangan Islam yang memiliki keunggulan pada aspek risk-sharing justru mendapat penalti dari regulator keuangan yang bias terhadap keamanan dana nasabah. Penalti tersebut biasanya berwujud kewajiban penambahan modal untuk mengkompensasi peningkatan risiko.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inkompatibilitas antara berbagai elemen industri keuangan Islam, mencakup fatwa, regulasi keuangan, dan praktik pelaku, merupakan konsekuensi dari pilihan untuk melakukan perubahan secara gradual. Keunggulan dari strategi gradual ini adalah perubahan itu bisa langsung dijalankan dan terlihat hasilnya walau sedikit demi sedikit dan banyak terkendala masalah. Pilihan strategi perubahan lain, yakni perubahan seketika, hanya mungkin dijalankan jika terdapat momentum cukup kuat yang membuat semua pihak bersedia menerima, atau paling tidak membiarkan, perubahan besar tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahaya terbesar yang dihadapi ketika melakukan perubahan dengan pendekatan gradual adalah kehilangan orientasi. Alih-alih mewarnai industri keuangan yang terjangkiti wabah riba dan gharar, keuangan Islam justru menjadi bunglon yang menyesuaikan warnanya dengan keuangan konvensional serta ikut tertular riba dan gharar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kreasi produk keuangan Islam harus menghindari riba dan gharar ini secara substantif. Substansi keduanya tidak akan hilang hanya dengan mengambil jalan memutar melalui penggunaan multiakad dalam membuat replika produk keuangan konvensional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait produk pembiayaan, lembaga keuangan Islam hanya memiliki skema bagi laba-rugi sebagai pilihan yang bebas riba&amp;nbsp;selama regulator membatasi lembaga keuangan dari melakukan aktivitas sektor riil. Skema jual-beli dan penyewaan akan melanggar batasan regulator tersebut, kecuali jika transaksi jual-beli dan penyewaan itu hanya di atas kertas sedangkan praktiknya adalah sekedar peminjaman uang pada nasabah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerugian lembaga keuangan Islam dari sisi penalti regulator atas risiko pembiayaan bisa dikompensasi dengan return yang lebih besar dari pembiayaan syirkah ini. Mendapatkan ceruk pasar pembiayaan profit-loss sharing sebanding dengan pangsa aset lembaga keuangan Islam yang masih sangat kecil bukanlah &amp;nbsp;kemustahilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segmen gemuk pasar yang lebih memilih pembayaran tetap (&lt;i&gt;fixed interest&lt;/i&gt;) bisa dilayani oleh lembaga keuangan Islam jika regulator telah mengijinkan mereka melakukan aktivitas jual-beli dan penyewaan yang sebenarnya. Kalaupun hal ini tidak pernah terjadi, lembaga keuangan Islam bisa melayani segmen tersebut secara tidak langsung dengan memberikan modal pada produsen dan pedagang untuk menjual secara kredit produk mereka atau menyewakannya pada pelanggan yang tidak ingin membelinya secara tunai.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7255800738870231664?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7255800738870231664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7255800738870231664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7255800738870231664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7255800738870231664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/12/keuangan-islam-kembalilah-ke-jati.html' title='Keuangan Islam, Kembalilah ke Jati Dirimu!'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7736915078198635509</id><published>2011-10-14T18:20:00.001-04:00</published><updated>2011-10-14T18:21:51.727-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Roubini: The Gold Bubble and the Gold Bugs</title><content type='html'>Profesor ekonomi dari New York University pun bicara tentang bubble emas.&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 15px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.project-syndicate.org/commentary/roubini20/English" style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;The Gold Bubble and the Gold Bugs&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="instapaper_body" style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;NEW YORK – Gold prices have been rising sharply, breaching the $1,000 barrier and in recent weeks rising towards $1,200 an ounce and above. Today’s “gold bugs” argue that the price could top $2,000. But the recent price surge looks suspiciously like a bubble, with the increase only partly justified by economic fundamentals.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Gold prices rise sharply only in two situations: when inflation is high and rising, gold becomes a hedge against inflation; and when there is a risk of a near depression and investors fear for the security of their bank deposits, gold becomes a safe haven.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;The last two years fit this pattern. Gold prices started to rise sharply in the first half of 2008, when emerging markets were overheating, commodity prices were rising, and there was concern about rising inflation in high-growth emerging markets. Even that rise was partly a bubble, which collapsed in the second half of 2008, when – after oil reached $145, killing global growth –the world economy fell into recession. As concerns about deflation replaced fear of inflation, gold prices started to fall with the correction in commodity prices.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;The second price spike occurred when Lehman Brothers collapsed, leaving investors scared about the safety of their financial assets – including bank deposits. That scare was contained when the G-7 committed to increase guarantees of bank deposits and to backstop the financial system. With panic subsiding towards the end of 2008, gold prices resumed their downward movement. By that time, with the global economy spinning into near-depression, commercial and industrial gold use, and even luxury demand, took a further dive.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Gold rose above $1,000 again in February-March 2009, when it looked like most of the financial system in the United States and Europe might be near insolvency, and that many governments could not guarantee deposits and backstop the financial system, because banks that were too big to fail were also too big to be saved.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;That panic subsided – and gold prices started to drift down again – after US banks were subjected to “stress tests,” America’s Troubled Asset Relief Program further backstopped the financial system by removing bad assets from banks’ balance sheets, and the global economy gradually bottomed out.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;So, with no near-term risk of inflation or depression, why have gold prices started to rise sharply again in the last few months?&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;There are several reasons why gold prices are rising, but they suggest a gradual rise with significant risks of a downward correction, rather than a rapid rise towards $2,000, as today’s gold bugs claim.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;First, while we are still in a world of global deflation, large, monetized fiscal deficits are fueling concerns over medium-term inflation. Second, a massive wave of liquidity, via easy monetary policy, is chasing assets, including commodities, which may eventually stoke inflation further. Third, dollar-funded carry trades are pushing the US dollar sharply down, and there is an inverse relation between the value of the dollar and the dollar price of commodities: the lower the dollar, the higher the dollar price of oil, energy, and other commodities – including gold.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Fourth, the global supply of gold – both existing and newly produced – is limited, and demand is rising faster than it can be met. Some of this demand is coming from central banks, such as those of India, China, and South Korea. And some of it is coming from private investors, who are using gold as a hedge against what remain low-probability “tail” risks (high inflation and another near-depression caused by a double-dip recession). Indeed, investors increasingly want to hedge against such risks early on. Given the inelastic supply of gold, even a small shift in the portfolios of central banks and private investors towards gold increases its price significantly.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Finally, sovereign risk is rising – consider the troubles faced by investors in Dubai, Greece, and other emerging markets and advanced economies. This has revived concerns that governments may be unable to backstop a too-big-to-save financial system.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;But, since gold has no intrinsic value, there are significant risks of a downward correction. Eventually, central banks will need to exit quantitative easing and zero-interest rates, putting downward pressure on risky assets, including commodities. Or the global recovery may turn out to be fragile and anemic, leading to a rise in bearish sentiment on commodities – and in bullishness about the US dollar.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Another downside risk is that the dollar-funded carry trade may unravel, crashing the global asset bubble that it, together with the wave of monetary liquidity, has caused. And, since the carry trade and the wave of liquidity are causing a global asset bubble, some of gold’s recent rise is also bubble-driven, with herding behavior and “momentum trading” by investors pushing gold higher and higher. But all bubbles eventually burst. The bigger the bubble, the greater the collapse.&lt;/div&gt;&lt;div style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;The recent rise in gold prices is only partially justified by fundamentals. Nor is it clear why investors should stock up on gold if the global economy dips into recession again and concerns about a near depression and rampant deflation rise sharply. If you truly fear a global economic meltdown, you should stock up on guns, canned food, and other commodities that you can actually use in your log cabin.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="bio" dir="ltr" style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Nouriel Roubini is professor of Economics at the Stern School of Business, NYU, and Chairman of Roubini Global Economics&lt;/i&gt;(&lt;a href="http://www.roubini.com/" style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: #225995; font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none;"&gt;www.roubini.com&lt;/a&gt;).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7736915078198635509?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7736915078198635509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7736915078198635509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7736915078198635509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7736915078198635509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/10/roubini-gold-bubble-and-gold-bugs.html' title='Roubini: The Gold Bubble and the Gold Bugs'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-8524070602673791267</id><published>2011-09-24T16:49:00.002-04:00</published><updated>2011-09-24T17:01:26.499-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Harga Emas Naik, Siapa Untung?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR9pZBAWYJWDI36e3BTRgEM6FMhzDz7iBLS1o7XKh-W3uxuHVeobprLOL6AGg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR9pZBAWYJWDI36e3BTRgEM6FMhzDz7iBLS1o7XKh-W3uxuHVeobprLOL6AGg" /&gt;&lt;/a&gt;Orang yang punya emas? Dia hanya untung jika menjual emasnya. Akan tetapi pada saat yang sama, dia kehilangan peluang untung dari kenaikan harga berikutnya. Tapi jika dia tidak menjual emasnya, apa gunanya kenaikan harga emas baginya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah orang yang beli emas saat harga naik? Tentu saja bukan, tidak ada orang yang dikatakan untung ketika membeli di saat harga tinggi, kecuali jika harga naik lagi dan ia menjualnya kembali. Jika ini terjadi, maka kita kembali ke logika paragraf di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara neto, masyarakat pemilik emas tidak untung, karena ketika seseorang untung dari menjual emas di harga lebih tinggi, orang lain rugi karena membelinya di harga yang lebih tinggi. Emas hanya berpindah dari satu pemilik ke pemilik yang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita mengukur kekayaan masyarakat dari kepemilikan emas, maka tidak ada kenaikan kekayaan masyarakat karena tidak ada pertambahan emas dari jual beli sesama mereka. Kekayaan pemegang emas juga tidak akan berubah jika sumber kenaikan harga emas berasal dari penurunan nilai mata uang yang menjadi patokan perhitungan harganya. Kekayaan pemegang emas emas hanya akan naik jika nilai tukar (&lt;i&gt;term of trade&lt;/i&gt;) emas naik terhadap barang dan jasa lain. Faktanya, inilah yang sedang terjadi saat ini, dimana harga emas naik lebih cepat dari barang dan jasa lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun ingat, keuntungan dari kenaikan nilai tukar itu tidak akan bisa dinikmati jika emas hanya ditukarkan dengan uang, lalu selesai anda merasa lebih kaya karena memiliki uang lebih banyak. Kenaikan nilai tukar hanya bisa dinikmati ketika emas itu ditukarkan dengan barang dan jasa lain. Tentu saja karena emas saat ini bukan mata uang, anda harus menjual dulu emas itu, lalu baru dibelikan barang dan jasa lain. Percuma anda merasa lebih kaya karena merasa nilai tukar emas yang anda miliki naik, tapi tidak bisa menikmati buah dari kenaikan nilai tukar tersebut karena anda tidak pernah menggunakannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penikmat keuntungan utama dari kenaikan harga emas adalah produsen emas, yakni perusahaan tambang emas dan negara penghasil emas. Merekalah penerima keuntungan terbesar dari kenaikan harga emas, karena di saat yang sama biaya produksi relatif tetap.&amp;nbsp;Perusahaan tambang emas dan negara penghasil emas untung karena mereka menjual emasnya, bukan karena mereka menyimpannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seandainya seseorang bisa kaya hanya dari menyimpan emas, tentu tidak perlu ada penambangan emas sama sekali. Pemilik lokasi tambang cukup menyimpan emasnya di dalam tanah, tidak perlu menambangnya keluar dari tanah, bahkan ia bisa hemat ongkos pertambangan. Ia hanya tertawa-tawa melihat adanya kenaikan harga emas di sekelilingnya karena merasa dialah pemilik emas terbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda lihat betapa bodohnya orang seperti ini? Ini adalah karikatur orang yang menyimpan terus emasnya karena mengharapkan kenaikan harga.&amp;nbsp;Dalam komik, karakter yang paling mencerminkan orang seperti ini adalah Paman Gober, yang puas hanya dari mandi uang, tanpa ingin menikmati barang dan jasa yang bisa dibelinya dari uang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi siapa yang untung dari kenaikan harga emas, jawabannya adalah orang yang menjual emasnya dan dibelikan dengan barang dan jasa lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-8524070602673791267?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/8524070602673791267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=8524070602673791267' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8524070602673791267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8524070602673791267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/harga-emas-naik-siapa-untung.html' title='Harga Emas Naik, Siapa Untung?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-5716124910467576349</id><published>2011-09-22T04:48:00.003-04:00</published><updated>2011-09-25T01:14:04.958-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Bukti Emas Bubble (III): Harga Pangan</title><content type='html'>Apakah harga komoditas kebutuhan hidup naik seiring harga emas? Jawaban pertanyaan ini akan menentukan apakah memang penurunan nilai uang-lah yang menyebabkan kenaikan tajam harga emas sejak 2002. Saya coba mengikuti link yang diberikan&amp;nbsp;saudara Rony Mukhlison&amp;nbsp;dalam komentarnya terhadap posting &lt;a href="http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/bukti-emas-bubble-ii.html"&gt;Bukti Bubble Emas (II)&lt;/a&gt;. Anehnya, saya tidak menemukan bukti yang mengiyakan pertanyaan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini, anda bisa melihat grafik harga-harga berapa komoditas pangan pokok di Amerika Serikat yang saya dapatkan dari situs &lt;a href="http://www.indexmundi.com/commodities/"&gt;indexmundi&lt;/a&gt; yang ditunjukkan oleh saudara Rony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wfRbobYQH48/TnrXztflKaI/AAAAAAAACwM/q3KWxRdy9gs/s1600/Commodity+Price+-+Beef.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://2.bp.blogspot.com/-wfRbobYQH48/TnrXztflKaI/AAAAAAAACwM/q3KWxRdy9gs/s400/Commodity+Price+-+Beef.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-X9p31NpxWS0/TnrXz6SavOI/AAAAAAAACwQ/UnNyPAyP3V4/s1600/Commodity+Price+-+Cotton.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://2.bp.blogspot.com/-X9p31NpxWS0/TnrXz6SavOI/AAAAAAAACwQ/UnNyPAyP3V4/s400/Commodity+Price+-+Cotton.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-t98UbELR6lQ/TnrX0EYtgHI/AAAAAAAACwU/W2lBECkyxSw/s1600/Commodity+Price+-+Fish.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="221" src="http://2.bp.blogspot.com/-t98UbELR6lQ/TnrX0EYtgHI/AAAAAAAACwU/W2lBECkyxSw/s400/Commodity+Price+-+Fish.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Fr6n_ykCkG8/TnrX0aU3UpI/AAAAAAAACwY/Zp3ymXrCxFs/s1600/Commodity+Price+-+Maize+%2528Corn%2529.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://2.bp.blogspot.com/-Fr6n_ykCkG8/TnrX0aU3UpI/AAAAAAAACwY/Zp3ymXrCxFs/s400/Commodity+Price+-+Maize+%2528Corn%2529.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-KMlA7thyiIQ/TnrX0rlqutI/AAAAAAAACwc/H5iHiWQ7BjY/s1600/Commodity+Price+-+Poultry.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://3.bp.blogspot.com/-KMlA7thyiIQ/TnrX0rlqutI/AAAAAAAACwc/H5iHiWQ7BjY/s400/Commodity+Price+-+Poultry.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cHtrbmNSZbU/TnrX0lKOdII/AAAAAAAACwg/jByJ7HPqccU/s1600/Commodity+Price+-+Sugar.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="207" src="http://4.bp.blogspot.com/-cHtrbmNSZbU/TnrX0lKOdII/AAAAAAAACwg/jByJ7HPqccU/s400/Commodity+Price+-+Sugar.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9X68H6XffYk/TnrX0wBEj5I/AAAAAAAACwk/CbOXWItz05U/s1600/Commodity+Price+-+Wheat.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://1.bp.blogspot.com/-9X68H6XffYk/TnrX0wBEj5I/AAAAAAAACwk/CbOXWItz05U/s400/Commodity+Price+-+Wheat.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tabel di bawah menunjukkan rata-rata kenaikan harga 7 macam komoditas yang grafiknya saya tampilkan di atas. Sebelum 2007, hanya gula, gandum, dan jagung yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi mendekati kenaikan harga emas. Gula, gandum dan jagung naik sekitar 9-10% per tahun, sementara emas naik 12% per tahun. Komoditas lain hanya mengalami kenaikan rata-rata kurang dari 5% per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Update: pada perhitungan sebelumnya, saya salah memasukkan angka pangkat ketika menghitung rata-rata geometrik periode 2007-2011. Setelah diperbaiki, angka untuk kapas, gandum, jagung, dan ayam menjadi lebih besar. Saya juga tambahkan komoditas emas sebagai pembanding.)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Perhitungan yang keliru:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-eoJDAJwHBEA/Tn6nICs3UgI/AAAAAAAACxQ/Fe1Xc7USVGo/s1600/Ringkasan+Harga+Komoditas-false.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="46" src="http://3.bp.blogspot.com/-eoJDAJwHBEA/Tn6nICs3UgI/AAAAAAAACxQ/Fe1Xc7USVGo/s400/Ringkasan+Harga+Komoditas-false.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Perhitungan setelah diperbaiki:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ODJMZmmPMXo/Tn6nH6fhZ2I/AAAAAAAACxM/1kaqEFaTrlg/s1600/Ringkasan+Harga+Komoditas-corrected.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="40" src="http://3.bp.blogspot.com/-ODJMZmmPMXo/Tn6nH6fhZ2I/AAAAAAAACxM/1kaqEFaTrlg/s400/Ringkasan+Harga+Komoditas-corrected.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika krisis keuangan mulai berjalan di tahun 2007, kecuali ikan dan gandum,&amp;nbsp;semua komoditas&amp;nbsp;mengalami akselerasi kenaikan harga yang tajam, sekitar dua kali lebih cepat dari semula. Bahkan untuk kapas, kenaikan harga 3,5 kali lebih cepat dari semula. &amp;nbsp;Kenaikan harga emas juga menjadi dua kali lebih cepat, dari 12% menjadi 24%. Namun jika sebelum 2007, ada tiga komoditas yang kenaikan harganya mendekati emas, sejak 2007 hanya gula yang cukup dekat, yakni 21%. Kenaikan harga komoditas lainnya pasca 2007 masih di bawah 15%, sehingga masih selisih lebih dari 9% dari kenaikan harga emas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah koreksi perhitungan, kenaikan harga emas masih lebih tinggi daripada kenaikan harga komoditas lain. Memang perbandingan antara emas dan komoditas lain tidak sebesar perkiraan sebelumnya ketika terjadi kekeliruan perhitungan. Tapi kesimpulan umum bahwa harga emas naik jauh lebih cepat dari komoditas lain masih tetap valid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi, hal ini membuktikan bahwa kenaikan harga emas tidak bisa semata-mata dicari sebabnya dari penurunan nilai uang. Ketika satu barang atau jasa mengalami kenaikan harga jauh lebih cepat dari lainnya, maka kemungkinannya jika tidak ada pelambatan pasokan, pasti ada pergeseran permintaan ke arah komoditas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan pergeseran permintaan ke emas? Dari timing perubahan tren harga emas yang terjadi pasca pecahnya dot com bubble, pelonjakan volume transaksi future emas di waktu yang bersamaan, serta euforia membeli emas yang bisa kita amati dari berita dan kejadian di sekitar kita (sudah saya paparkan di posting-posting sebelumnya), maka saya simpulkan lonjakan permintaan itu datang dari permintaan spekulatif. Dan kenaikan harga dari aktivitas spekulasi selalu hanya menjadi gelembung yang siap pecah sewaktu-waktu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-5716124910467576349?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/5716124910467576349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=5716124910467576349' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5716124910467576349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5716124910467576349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/apakah-harga-komoditas-kebutuhan-hidup.html' title='Bukti Emas Bubble (III): Harga Pangan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wfRbobYQH48/TnrXztflKaI/AAAAAAAACwM/q3KWxRdy9gs/s72-c/Commodity+Price+-+Beef.PNG' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-451223243397573700</id><published>2011-09-20T05:25:00.010-04:00</published><updated>2011-09-22T05:13:16.143-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Bukti Emas Bubble (II): Inflasi dan Cadangan Emas</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Ternyata banyak juga &lt;a href="http://www.gata.org/node/7402"&gt;teori konspirasi&lt;/a&gt; yang menjelaskan mengapa emas sekarang masih undervalued. Konspirasi hanya bisa dilakukan oleh kartel. Tapi kartel penjual selalu ingin harga tinggi, bukan harga rendah. Hanya kartel pembeli yang ingin harga tetap rendah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktanya kita tahu, jumlah produsen emas (perusahaan tambang) hanya sedikit, sementara pembelinya jutaan orang di seluruh dunia. Ketahuan kan siapa yang mungkin buat kartel: produsen. Apa yang dilakukan oleh kartel produsen? Membatasi produksi agar harga naik.&amp;nbsp;Teori konspirasi yang logis seharusnya memprediksi harga emas overvalued bukan undervalued.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas ada kartel atau tidak, supply emas dari tambang relatif stabil. Karenanya, perubahan tren harga emas dari tahun 2002 cenderung dijelaskan dari sisi permintaan. Bubble tidaknya kenaikan harga emas bergantung apakah kenaikan permintaan didominasi motif fundamental atau spekulatif. Kenaikan harga yang berasal dari peningkatan permintaan spekulatif selalu menjadi gelembung yang siap pecah sewaktu-waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karenanya, orang yang berpendapat bahwa kenaikan harga emas akan berlangsung lama akan memaparkan bukti-bukti bahwa memang terjadi kenaikan permintaan fundamental. Tapi kembali lagi, masalahnya bukan ada-tidaknya kenaikan permintaan fundamental, tapi apakah motif fundamental itu dominan dalam kenaikan permintaan emas. Selama motif spekulatif dominan, maka &lt;i&gt;overshooting&lt;/i&gt;&amp;nbsp;harga akan terjadi. &lt;i&gt;Overshooting &lt;/i&gt;yang tidak segera terkoreksi, bahkan semakin jauh meninggalkan harga fundamentalnya&amp;nbsp;inilah yang disebut &lt;i&gt;bubble&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://heerybrothers.files.wordpress.com/2009/10/are-greed-and-fear-driving-your-investment-decisions-01.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="272" src="http://heerybrothers.files.wordpress.com/2009/10/are-greed-and-fear-driving-your-investment-decisions-01.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Grafik yang saya paparkan pada posting lalu menunjukkan bahwa transaksi kontrak berjangka (future) mendominasi transaksi fisik. Pola ini memang selalu terjadi pada sistem bursa komoditas yang berlaku saat ini. Tapi bukti yang kuat bahwa perubahan tren harga emas didominasi oleh spekulasi adalah peningkatan drastis tren volume future emas yang terjadi mulai tahun 2002, di saat yang bersamaan dengan peningkatan tren harga emas. Sementara arus fisik tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana dengan argumen peningkatan permintaan emas dari India dan China yang ekonominya sedang tumbuh pesat? Jika &amp;nbsp;ingin mengestimasi permintaan emas dari pertumbuhan ekonomi, maka jangan hanya China dan India yang dihitung, tapi seluruh dunia. Kenyataannya, sejak krisis pertumbuhan dunia menurun, bahkan mencapai negatif 1,9 persen di tahun 2009. Sekalipun ada peningkatan permintaan dari India dan China, penurunan permintaan dari negara lain yang mengalami penurunan pertumbuhan akan mengkompensasinya, jika tidak malah lebih besar penurunannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana dengan argumen bahwa sekarang bank sentral menerbitkan banyak uang untuk stimulus ekonomi? Pencetakan uang memang akan melemahkan nilai uang, tapi dampaknya pada peningkatan harga terjadi pada semua barang dan jasa, bukan hanya pada emas. Rata-rata peningkatan harga emas 18% per tahun jauh lebih cepat daripada peningkatan harga umum yang dicerminkan oleh inflasi, yang di seluruh dunia kurang dari 6%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe frameborder="0" height="325" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://www.google.com/publicdata/embed?ds=k3s92bru78li6_&amp;amp;ctype=l&amp;amp;strail=false&amp;amp;nselm=h&amp;amp;met_y=pcpipch&amp;amp;scale_y=lin&amp;amp;ind_y=false&amp;amp;rdim=country_group&amp;amp;idim=country_group:001&amp;amp;idim=country:US&amp;amp;ifdim=country_group:parent:&amp;amp;tstart=969422400000&amp;amp;tend=1284955200000&amp;amp;hl=en&amp;amp;dl=en&amp;amp;icfg&amp;amp;uniSize=0.035&amp;amp;iconSize=0.5" width="400"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Terkait ekspansi moneter AS, kenyataannya inflasi tahun 2010 hanya 2%, masih lebih rendah dari level pra krisis. Bahwa inflasi meningkat dibanding tahun 2009 yang justru negatif (deflasi), hal ini justru memang menjadi tujuan dari bank sentral AS untuk mendorong belanja masyarakat agar terlepas dari krisis. Poinnya, penurunan nilai dolar hanya bisa menjelaskan kenaikan harga emas sebesar 2-4%. Sisanya sebesar 14% dari kenaikan harga emas datang dari faktor lain di luar penurunan dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan argumen bahwa banyak bank sentral membeli emas untuk cadangan devisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Update II:&amp;nbsp;Saya menghapus bagian pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab untuk mendukung argumen permintaan bank sentral ini karena saya telah siap dengan jawabannya dari data baru yang saya dapatkan. Pada update lalu, saya mengevaluasi akurasi sumber di wikipedia, yang ternyata tidak akurat. Namun &lt;b&gt;ronym&lt;/b&gt; di komentar memberikan link berita yang menunjukkan pembelian emas bank sentral China. Karena itu, pada update kedua ini saya tampilkan data yang lebih berimbang dengan melibatkan keseluruhan stok emas yang dimiliki bank sentral dan IMF di dunia. Data saya dapatkan dari &lt;a href="http://www.gold.org/download/latest/quarterly_times_series_on_world_official_gold_reserves_since_2000/"&gt;World Gold Council&lt;/a&gt;.)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Data menunjukkan bahwa&amp;nbsp;memang sebagian bank sentral melakukan pembelian emas, tapi sebagian bank sentral lainnya menjual cadangan emasnya. Secara total, cadangan emas bank sentral dari tahun 2000 cenderung menurun, dengan sedikit peningkatan mulai 2009. Peningkatan di tahun 2009 memang terjadi karena China menambah cadangan emasnya dari 600 ton ke 1050 ton. Akan tetapi, peningkatan 450 ton ini sebenarnya dijalankan secara bertahap sepanjang 2003-2009, hanya saja baru dilaporkan di kuartal II 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-b3JiuUBZ4mo/TnlUsjo5c7I/AAAAAAAACwI/E-qBIgaAN-g/s1600/Cadangan+Emas.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="205" src="http://4.bp.blogspot.com/-b3JiuUBZ4mo/TnlUsjo5c7I/AAAAAAAACwI/E-qBIgaAN-g/s400/Cadangan+Emas.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, jelas bahwa permintaan emas dari bank sentral tidak bisa menjelaskan kenaikan harga emas yang sudah dimulai dari tahun 2002. Karena itu, saya masih tetap pada kesimpulan di &lt;a href="http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/bukti-emas-bubble.html"&gt;posting sebelumnya&lt;/a&gt; bahwa kenaikan harga emas dari tahun 2002 didorong oleh peningkatan permintaan spekulatif. Konsekuensi dominasi faktor spekulatif adalah peningkatan harga memiliki dasar yang lemah, sehingga menjadi gelembung yang siap meletus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di luar data-data resmi, ada satu indikator&amp;nbsp;&lt;i&gt;bubble &lt;/i&gt;kualitatif, yang tidak bisa diukur tapi bisa diamati dan dirasakan serta terbukti akurat untuk memprediksi &lt;i&gt;bubble&lt;/i&gt;, yakni &lt;i&gt;euforia&lt;/i&gt;&amp;nbsp;spekulasi. Kita bisa merasakan &lt;i&gt;euforia&lt;/i&gt;&amp;nbsp;spekulasi itu di setiap periode &lt;i&gt;bubble&lt;/i&gt;. Banyak orang memburu komoditas &lt;i&gt;bubble&amp;nbsp;&lt;/i&gt;karena mereka sangat yakin bahwa harganya akan naik lagi dan memberi mereka keuntungan pasti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Euforia &lt;/i&gt;spekulasi ini berulang kali disebut oleh pemikir dan penulis sejarah mengenai krisis dengan sebutan yang berbeda-beda. Keynes (1930-an) menyebutnya &lt;i&gt;animal spirit&lt;/i&gt;. Kindleberger (1970-an) menyebutnya &lt;i&gt;mania&lt;/i&gt;. Greenspan (1990-an) menyebutnya &lt;i&gt;irrational exuberance&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-451223243397573700?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/451223243397573700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=451223243397573700' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/451223243397573700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/451223243397573700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/bukti-emas-bubble-ii.html' title='Bukti Emas Bubble (II): Inflasi dan Cadangan Emas'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-b3JiuUBZ4mo/TnlUsjo5c7I/AAAAAAAACwI/E-qBIgaAN-g/s72-c/Cadangan+Emas.png' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6567503176168003608</id><published>2011-09-16T20:48:00.001-04:00</published><updated>2011-09-22T05:13:44.202-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Bukti Emas Bubble: Dominasi Spekulasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak cerita yang bisa digunakan untuk rasionalisasi bahwa kenaikan harga emas saat ini akan terus berlangsung, sebagaimana yang ditulis oleh&amp;nbsp;&lt;a href="http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=714:mengapa-harga-emas-akan-terus-naik&amp;amp;catid=35:dinar&amp;amp;Itemid=84"&gt;Muhaimin Iqbal&lt;/a&gt;, pemilik Gerai Dinar.&amp;nbsp;Cerita semacam ini selalu muncul mengiringi bubble di mana saja dan kapan saja. Ketika harga properti di AS sedang melonjak, banyak pakar dari penasihat keuangan dan properti yang menulis bahwa kenaikan harga properti saat itu fundamental, bukan bubble, dan karenanya akan terus berlangsung. Dan kita tahu bagaimana ujungnya: krisis subprime mortgage yang membawa keruntuhan lembaga keuangan dan perekonomian Amerika dan Eropa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di posting sebelumnya, sudah saya tunjukkan bahwa tren kenaikan harga emas baru dimulai tahun 2002, setelah dua dekade sebelumnya mengalami tren menurun. Apa yang menyebabkan perubahan tren ini? Jika kita ikuti peristiwa yang terjadi sebelumnya adalah kejatuhan harga-harga saham di AS di tahun 2001. Kejatuhan ini disebabkan oleh pecahnya bubble dot com, yakni bubble harga saham perusahaan IT dan berbasis internet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Index Komposit NASDAQ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/de/Nasdaq2.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/de/Nasdaq2.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ketika bursa saham crash, uang hasil penjualan saham tidak lalu diam begitu saja menunggu tanda-tanda bursa pulih. Investor akan mencari peluang-peluang baru untuk menggandakan uangnya. Kali ini, pilihan jatuh pada properti dan emas. Karenanya mulai tahun 2002, harga properti di AS dan harga emas mengalami akselerasi yang jauh melebihi tren jangka panjangnya, sebagaimana bisa dilihat di grafik di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Harga Emas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VFUyrE_ecZ8/TnLpMM0mQvI/AAAAAAAACv4/sIDOgebm8rw/s400/Harga+emas+per+troy+ounce-747318.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="http://3.bp.blogspot.com/-VFUyrE_ecZ8/TnLpMM0mQvI/AAAAAAAACv4/sIDOgebm8rw/s400/Harga+emas+per+troy+ounce-747318.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1f/Median_and_Average_Sales_Prices_of_New_Homes_Sold_in_the_US_1963-2010_Monthly.png/800px-Median_and_Average_Sales_Prices_of_New_Homes_Sold_in_the_US_1963-2010_Monthly.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1f/Median_and_Average_Sales_Prices_of_New_Homes_Sold_in_the_US_1963-2010_Monthly.png/800px-Median_and_Average_Sales_Prices_of_New_Homes_Sold_in_the_US_1963-2010_Monthly.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gelembung harga di sektor properti telah pecah di tahun 2007, dipicu oleh kenaikan bunga dan&amp;nbsp;permasalahan kredit yang mengikutinya. Bubble emas masih bertahan karena tidak ada yang memicu, bahkan sebaliknya bubble itu semakin besar karena menjadi &lt;i&gt;safe heaven&lt;/i&gt; dana investor yang lari dari pasar properti dan pasar uang yang hancur. Guyuran dolar dari bank sentral AS dalam rangka mendorong ekonomi AS tumbuh lagi justru menjadi bahan bakar yang semakin memperbesar bubble emas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa kenaikan harga emas sejak tahun 2002 didorong oleh permintaan spekulatif, bukan permintaan fundamental untuk perhiasan dan elektronik, bisa dicermati dari grafik di bawah yang saya ambil dari &lt;a href="http://www.cpmgroup.com/free_library1/PRECIOUS_METALS_YEARBOOKS_RELEASE_PRESENTATIONS/CPM_Group_Gold_Yearbook_2011_Presentation_March_2011.pdf"&gt;presentasi buku tahunan CPM group 2011&lt;/a&gt;. Volume perdagangan emas di pasar future (tempat spekulan bermain) meningkat drastis sejak 2002. Sementara arus pasar fisik emas sangat kecil dibanding volume pasar future, seperti kelinci bersanding dengan gajah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Volume Perdangangan Emas di Pasar Future&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rBODOBBeETo/TnPbnAauAqI/AAAAAAAACv8/2gTHFL8HGJw/s1600/Gold+Trading+Volumes+in+Futures+Market.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="255" src="http://3.bp.blogspot.com/-rBODOBBeETo/TnPbnAauAqI/AAAAAAAACv8/2gTHFL8HGJw/s400/Gold+Trading+Volumes+in+Futures+Market.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Komposisi Perdagangan Emas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RE1d5kha2nY/TnPbpazFzNI/AAAAAAAACwA/skkLaFqHzBg/s1600/Gold+Market.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="253" src="http://4.bp.blogspot.com/-RE1d5kha2nY/TnPbpazFzNI/AAAAAAAACwA/skkLaFqHzBg/s400/Gold+Market.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data dan paparan di atas merupakan bukti bahwa kenaikan harga emas sekarang ini adalah bubble yang merupakan kelanjutan dari bubble dot com dan bubble properti di AS. Ini hanya permainan spekulan yang memindah uangnya dari satu jenis aset ke lainnya, dan dari satu negara ke negara lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Serial bubble dan krisis ini sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Ketika bubble emas di akhir tahun 1970an pecah, investor lari ke Jepang. Pecahnya bubble properti di Jepang pada awal 1990 membuat uang panas lari ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia. Bubble di Asia Tenggara berakhir dengan krisis di tahun 1997, yang mana Indonesia tenggelam paling dalam. Setelah itu, uang kembali ke AS dan menciptakan bubble dot com, lalu disusul bubble properti dan emas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bubble emas adalah bubble yang tersisa. Silahkan jika anda ingin mencicipi bagaimana rasanya menjadi korban bubble pecah. Saran saya, tahan nafsu rakus anda. Tanya ke korban pecahnya bursa saham Indonesia di tahun 2008, bagaimana pahitnya kehilangan uang dari judi modern yang saat ini berbentuk pasar uang dan pasar komoditas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6567503176168003608?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6567503176168003608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6567503176168003608' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6567503176168003608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6567503176168003608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/bukti-emas-bubble.html' title='Bukti Emas Bubble: Dominasi Spekulasi'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VFUyrE_ecZ8/TnLpMM0mQvI/AAAAAAAACv4/sIDOgebm8rw/s72-c/Harga+emas+per+troy+ounce-747318.png' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-999174085617763743</id><published>2011-09-16T02:13:00.000-04:00</published><updated>2011-09-16T02:18:10.922-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Gelembung Harga Emas</title><content type='html'>Siapa yang tidak tergiur untuk "investasi" emas, jika harganya terus mengalami kenaikan rata-rata 18% per tahun sepanjang periode 2002-2010. Tahun ini kenaikannya jauh lebih spektakuler, hingga 15 September 2011 ini harga sudah naik 50% dibanding rata-rata tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun justru di sinilah letak bahayanya. Semakin tinggi pohon yang dinaiki, semakin sakit ketika terjatuh. Semakin tinggi harga emas dan semakin banyak orang yang ikut membeli, maka akan semakin banyak korban ketika harga emas jatuh dan semakin besar kemungkinan krisis mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VFUyrE_ecZ8/TnLpMM0mQvI/AAAAAAAACv4/sIDOgebm8rw/s1600/Harga%2Bemas%2Bper%2Btroy%2Bounce-747318.png"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="290" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652836878112932594" src="http://3.bp.blogspot.com/-VFUyrE_ecZ8/TnLpMM0mQvI/AAAAAAAACv4/sIDOgebm8rw/s400/Harga%2Bemas%2Bper%2Btroy%2Bounce-747318.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa iya harga emas bisa jatuh, bukankah sudah 10 tahun emas mengalami kenaikan harga terus-menerus? Kalau kita tarik horizon kita lebih jauh lagi ke belakang, harga emas pernah mengalami tren menurun dari tahun 1980 ketika harga masih $613 hingga mencapai titik terbawah di tahun 2001 seharga $272. Kejatuhan terbesar harga emas terjadi pada tahun 1981, turun 25%, setelah tahun sebelumnya naik spektakuler 99%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dari sejarah itu, kita bisa ambil pelajaran bahwa kenaikan yang sangat tajam dari harga suatu aset merupakan tanda-tanda bahwa gelembung yang terjadi pada harga aset tersebut sudah mendekati titik jenuh. Proses pembentukan gelembung harga aset cenderung mengalami akselerasi sepanjang waktu karena pemasaran dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh investor lama. Sebagaimana arisan berantai dan pemasaran berjenjang, multiplikasi investor akan terus terjadi sampai pada titik di mana sulit untuk mencari investor baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya topangan kredit, uang baru tidak harus datang dari investor baru. Selama investor masih bisa mendapatkan lembaga keuangan yang mau memberi pinjaman untuk membeli aset yang harganya sedang menggelembung, maka proses penggelembungan masih bisa dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lembaga keuangan tidak memiliki komitmen sekuat investor. Mereka bisa mencabut dukungan kredit itu sewaktu-waktu jika terjadi perubahan situasi atau kebijakan. Jika ini terjadi, efeknya pada peledakan gelembung akan jauh lebih cepat daripada kehabisan investor baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investor terpaksa menjual aset dengan tergesa untuk membayar kredit yang tak bisa diperpanjangnya. Penjualan yang tergesa ini akan mendorong penurunan harga aset. Maka pembalikan siklus harga mulai berlangsung. Penurunan harga akan mendorong pemilik aset saling berpacu untuk menjual asetnya lebih dulu untuk meminimalkan kerugian. Perlombaan menjual aset ini justru menyebabkan harga aset semakin jatuh dan mendorong semakin banyak pemilik aset untuk ikut menjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembentukan dan pecahnya gelembung harga di atas terjadi bukan hanya pada emas, tapi juga pada properti, saham, obligasi, dan komoditi selain emas. Semestinya investor di Indonesia belum lupa atas kejadian pecahnya gelembung harga saham di tahun 2008 lalu, di mana IHSG sempat mencapai level 2800-an bulan Januari lalu jatuh hingga hanya 1200-an di bulan Desember. Walau kini gelembung itu nampaknya sudah mulai terbentuk lagi, di mana mulai Juli lalu IHSG sudah menembus level 4000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu kapan datangnya bencana finansial, yakni pecahnya gelembung emas dan saham. Hanya Alloh yang mengetahui masa depan. Manusia hanya belajar pola sebab-akibat dari alam dan sejarah, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi masa-masa sulit. Dan dari pengamatan saya, salah satu kemungkinan peristiwa yang dapat memicu pecahnya gelembung emas maupun saham adalah ketika Bank Sentral AS mulai membalik arah kebijakannya, dari mengguyurkan dolar ke menyedotnya, dan dari menjaga bunga rendah ke menaikkannya. Di saat dolar mulai susah didapat, investor asing akan keluar dari negara-negara yang mengalami gelembung dan menjual emasnya. Akhir cerita, keruntuhan terjadi pada harga saham dan emas serta mata uang negara-negara yang mengalami gelembung karena selama ini disuntik oleh uang panas investor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik loncat dari balon udara sekarang, sebelum posisi terlalu tinggi ketika ia meletus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-999174085617763743?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/999174085617763743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=999174085617763743' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/999174085617763743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/999174085617763743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/gelembung-harga-emas.html' title='Gelembung Harga Emas'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VFUyrE_ecZ8/TnLpMM0mQvI/AAAAAAAACv4/sIDOgebm8rw/s72-c/Harga%2Bemas%2Bper%2Btroy%2Bounce-747318.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-4230157005710013942</id><published>2011-09-05T11:52:00.003-04:00</published><updated>2011-09-24T17:36:59.262-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><title type='text'>Obat Krisis Bukan Kebijakan Moneter, tapi Kebijakan Pembiayaan</title><content type='html'>&lt;a href="http://media.economist.com/images/20090425/D1709BB1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="192" src="http://media.economist.com/images/20090425/D1709BB1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam sejarah ekonomi, penurunan nilai mata uang (&lt;i&gt;currency debasement&lt;/i&gt;) oleh negara merupakan salah satu penyebab krisis, bukan penyembuh. Ironisnya di masa ini, sebagian besar ekonom percaya bahwa penurunan nilai mata uang adalah salah satu jalan keluar dari resesi. Penurunan nilai mata uang ini dikenal sebagai kebijakan moneter ekspansif, atau kebijakan uang longgar (&lt;i&gt;easy money&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas ekonom lebih mempercayai efektivitas kebijakan moneter dalam meredakan siklus ekonomi daripada kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal ekspansif berupa defisit menjadi tidak efektif karena kenaikan permintaan utang akibat baru pemerintah akan mendorong tingkat bunga naik dan mengurangi investasi, biasa dikenal sebagai efek mendesak keluar (&lt;i&gt;crowding out&lt;/i&gt;). Sementara kebijakan moneter longgar justru berdampak menurunkan tingkat bunga sehingga menarik lebih banyak konsumsi dan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di saat resesi besar seperti yang dialami Amerika Serikat sejak 2008 hingga sekarang, atau yang dialami Indonesia sejak tahun 1997 hingga sekarang, kebijakan moneter longgar tidak mampu mendorong ekonomi karena sistem intermediasi mengalami kemacetan bukan hanya dari sisi pasokan tapi juga permintaan. Dari sisi pasokan, keruntuhan lembaga keuangan membuat mereka mengurangi penyaluran kredit. Kondisi ekonomi lesu juga mengurangi permintaan kredit untuk investasi maupun konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti ini, kebijakan fiskal lebih efektif untuk mendorong perekonomian. Belanja pemerintah bisa ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan belanja rumah tangga dan perusahaan. &lt;i&gt;Crowding out&lt;/i&gt;&amp;nbsp;cenderung tidak terjadi di situasi seperti ini karena dana yang masuk ke pemerintah adalah dana yang cari aman, bukan dana yang cari imbalan tertinggi. Kesuksesan pemerintah menghindari &lt;i&gt;crowding out &lt;/i&gt;bergantung pada reputasi kreditnya. Jika investor mempersepsi utang pemerintah tidak lebih aman dari utang swasta, maka &lt;i&gt;crowding out &lt;/i&gt;tetap akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika resesi yang melanda perekonomian masih berskala ringan, maka mayoritas ekonom lebih menganjurkan penggunaan kebijakan moneter ekspansif. Di sinilah titik tembak kritik saya. &amp;nbsp;Kebijakan moneter ekspansif berkonsekuensi penurunan nilai mata uang. Padahal saya ungkapkan di awal bahwa dalam sejarah penurunan nilai mata uang senantiasa terkait dengan masalah ekonomi, khususnya inflasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen pendukung kebijakan moneter adalah bahwa peningkatan jumlah uang beredar akan mendorong tingkat bunga turun sehingga memberi insentif masyarakat untuk mengambil kredit baik untuk konsumsi maupun investasi. Peningkatan inflasi akibat terlalu banyak uang beredar justru dapat menjadi alat untuk&amp;nbsp;untuk mendorong rumah tangga dan perusahaan membelanjakan uangnya. Resesi dalam perekonomian cenderung dibarengi dengan deflasi, sehingga inflasi justru merupakan indikator pemulihan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang diinginkan adalah penurunan biaya kredit, maka ada alternatif yang lebih cepat memangkas biaya kredit, yakni larang pemungutan bunga atas kredit sama sekali. Orang yang masih membutuhkan pinjaman dapat memperolehnya dengan dua cara. Jika kebutuhan pinjaman untuk produktif, maka pengusaha dapat memperoleh dana dengan menjual sebagian saham kepemilikan perusahaannya pada investor. Jika pinjaman dimotivasi kebutuhan konsumtif, maka orang bisa mendapatkannya tanpa bunga dari keluarga, tetangga, rekanan, dan lembaga sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelarangan bunga tidak hanya relevan dalam masa krisis, namun urgensinya semakin terasa di saat krisis. Situasi ekonomi lesu membuat bisnis malas mengambil utang karena jika bisnisnya gagal ia masih harus mengembalikan pokok utang plus membayar bunga.&amp;nbsp;Dalam situasi resesi, bisnis perlu didorong untuk bangkit dengan memberikan pembiayaan yang relatif bebas risiko berupa penyertaan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi ini menghadapi masalah jika investor terlalu takut untuk mengambil risiko dengan menanam modal, bukannya memberikan pinjaman. Apalagi, situasi krisis semakin menurunkan kepercayaan investor bahwa bisnis tersebut dapat mencetak cukup keuntungan. Interaksi antara permintaan dan penawaran modal akan menghasilkan tingkat harga saham yang membawa keduanya pada keseimbangan. Investor akan lebih untung untuk berinvestasi di saat resesi karena harga saham cenderung lebih rendah. Keuntungannya akan meningkat ketika perekonomian pulih karena tingkat imbal investasinya lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara ini, upaya pemulihan resesi tidak perlu lagi melibatkan penurunan nilai mata uang yang merugikan masyarakat berpendapatan tetap. Peningkatan jumlah uang beredar belum tentu tersalurkan ke sektor riil, sebaliknya seringkali justru dimanfaatkan untuk berspekulasi yang dapat ditengarai dari penggelembungan harga aset dan komoditas. Penggelembungan ini sendiri berpotensi untuk menjadi pemicu krisis berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-4230157005710013942?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/4230157005710013942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=4230157005710013942' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4230157005710013942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4230157005710013942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/09/obat-krisis-bukan-kebijakan-moneter.html' title='Obat Krisis Bukan Kebijakan Moneter, tapi Kebijakan Pembiayaan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-4677646669228490223</id><published>2011-08-23T13:12:00.002-04:00</published><updated>2011-09-24T17:38:59.046-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketenagakerjaan'/><title type='text'>Wanita di Antara Pekerjaan dan Rumah Tangga</title><content type='html'>&lt;a href="http://i718.photobucket.com/albums/ww181/identie/ePuskesmas/wanita-karir.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i718.photobucket.com/albums/ww181/identie/ePuskesmas/wanita-karir.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Apa yang menyebabkan tren penundaan pernikahan di masyarakat? Artikel di&lt;a href="http://www.economist.com/node/21526350?frsc=dg|b"&gt; the Economist&lt;/a&gt; menyebukan bahwa negara-negara Asia yang ekonominya tumbuh pesat, semakin banyak wanita menunda menikah karena mereka lebih mementingkan bekerja. Kalau di Indonesia, sebab utama penundaan menikah bukan pekerjaan, tapi sekolah/kuliah. Baik yang bersangkutan maupun orang tuanya biasanya menolak atau tidak memikirkan untuk nikah sebelum selesai sekolah/kuliah karena sekali nikah dan punya anak, akan lebih sulit untuk melanjutkan sekolah. Makanya kalau zaman dulu orang Jawa menikah di usia belasan tahun, sekarang orang baru menikah di usia 20-30an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria Indonesia cenderung menunda menikah hingga punya penghidupan yang mencukupi untuk menghidupi keluarganya, atau paling tidak punya prospek untuk itu. Penundaan ini berdampak ke wanitanya yang juga tertunda menikah, akhirnya memilih bekerja untuk mengisi waktu. Polanya mungkin memang berbeda dengan wanita di barat yang justru memilih bekerja karena mereka tidak mau bergantung pada pria setelah menikah, sehingga mereka juga punya daya tawar saat bercerai. Untuk Indonesia yang tingkat perceraian masih relatif rendah, kebutuhan wanita untuk membangun kemandirian memang tidak sebesar di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor kesejahteraan, faktor yang cukup signifikan dalam keputusan wanita meneruskan pendidikan dan bekerja adalah peningkatan status. Wanita yang berpendidikan rendah dan berstatus ibu rumah tangga cenderung merasa lebih rendah ketika bersama wanita lain yang berpendidikan tinggi dan bekerja. Di Indonesia, mungkin pekerjaan belum terlalu dituntut dari wanita sebagaimana pendidikan. Tapi ketika pendidikan semakin tinggi, opportunity cost dari tidak bekerja juga lebih tinggi. Bukan hanya potensi pendapatan yang bisa diraih dari bekerja, tapi juga biaya dan effort pendidikan yang selama ini ditempuhnya menjadi tidak terkompensasi jika tidak digunakan untuk pekerjaan yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan ibu rumah tangga dianggap sebagai pekerjaan yang tidak butuh pendidikan tinggi, cukup di-outsource pada orang lain yang berpendidikan rendah SD-SMP.Padahal sebenarnya pekerjaan ibu rumah tangga bukan sekedar teknis dapur-sumur-kasur, tapi juga tugas yang butuh keahlian dan intelektualitas seperti manajemen keuangan keluarga (wealth management), pendidikan anak dan remaja (childhood and youth education). Konsultan wealth management dibayar mahal untuk melakukan pekerjaannya. Pendidikan massal di sekolah tidak bisa menggantikan bimbingan individual orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurangan intensitas bimbingan individual karena kedua orang tua sibuk bekerja mengurangi perkembangan potensi anak. Namun intensitas tinggi bimbingan juga akan kurang berarti jika orang tua yang menjadi pembimbing tidak punya cukup skill untuk itu. Mungkin perlu diadakan pendidikan tinggi S1-S3 Jurusan Ibu Rumah Tangga yang mempelajari pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan ibu rumah tangga dengan baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-4677646669228490223?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/4677646669228490223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=4677646669228490223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4677646669228490223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4677646669228490223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/08/wanita-di-antara-pekerjaan-dan-rumah.html' title='Wanita di Antara Pekerjaan dan Rumah Tangga'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i718.photobucket.com/albums/ww181/identie/ePuskesmas/th_wanita-karir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7052787258412160491</id><published>2011-02-20T13:44:00.005-05:00</published><updated>2011-09-24T17:40:28.291-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><title type='text'>Keuangan Islam: Maju atau Mundur?</title><content type='html'>&lt;a href="http://fossei-jogja.org/wp-content/uploads/2011/07/perbankan_syariah_2-150x150.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://fossei-jogja.org/wp-content/uploads/2011/07/perbankan_syariah_2-150x150.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Evaluasi perkembangan keuangan Islam bisa diukur dari sisi kuantitas dan kualitas. Dari sisi kuantitas jelas terjadi kemajuan dengan pertumbuhan tinggi aset. Namun bagaimana dengan kualitas kepatuhan syariahnya?&lt;br /&gt;Jika kita cermati ide awal keuangan Islam adalah keuangan yang berbasis bagi laba dan rugi. Namun pada praktiknya, pembiayaan berbasis bagi laba-rugi ini kalah dominan dibandingkan pembiayaan berimbalan tetap berbasis utang dan jual-beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, statistik porsi pembiayaan bagi hasil bank syariah cenderung meningkat sepanjang waktu. Padahal kenyataannya, bank syariah hanya melakukan channeling/executing dana ke BMT dengan akad mudharabah, namun terdapat syarat bahwa penyaluran dana tersebut hanya boleh menggunakan akad murabahah. Jadi sebenarnya apa yang terjadi pada keuangan Islam di Indonesia tidak berbeda dengan negara lainnya, yakni murabahah menjadi akad dominan dan porsi mudharabah/musyarakah tidak signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kkualitas keuangan Islam juga menurun sejalan dengan dikenalkannya produk-produk baru yang justru semakin mendekati riba. Produk ini biasanya dicirikan dengan penggabungan utang dan jual-beli atau jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat gelombang pertama keuangan Islam dimulai dengan pendirian BMT-BMT. Gelombang itu terus membesar hingga muncul bank-bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang pertama ini dirintis oleh minoritas kreatif dan idealis yang berjuang menggantikan keuangan konvensional dengan keuangan Islam. Setelah menjadi gelombang besar, makin banyak orang terbawa arus yang tidak punya misi dan nilai-nilai sekuat kelompok perintis tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama, jumlah orang yang terbawa arus ini menjadi lebih banyak dari kelompok perintis. Mereka pun mulai memegang peran dan menentukan ke arah mana gelombang menuju. Sangat terbuka kemungkinan gelombang berbalik arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada titik ini, kelompok minoritas idealis tidak boleh berdiam diri, atau mereka akan melihat berbaliknya arah gelombang menjauh dari ideal keuangan Islam. Mereka harus membangun riak gelombang baru yang menghadang arus balik gelombang, dan mendorongnya kembali ke arah yang dituju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riak gelombang baru ini bisa jadi berwujud lembaga-lembaga rintisan baru, sebagaimana BMT dulu menjadi rintisan gelombang lama. Lembaga rintisan baru ini merevitalisasi ide-ide lama ekonomi berbagi agar lebih dapat diterapkan di lapangan, untuk membantah dalih berbaliknya gelombang lama bahwa ide lama sulit dipraktikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara minoritas idealis dengan arus utama hanyalah pada kesabaran untuk menepati asas. Arus utama menggunakan prinsip "mau menang harus cepat dan fleksibel". Minoritas idealis berprinsip "biar lambat asal selamat".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7052787258412160491?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7052787258412160491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7052787258412160491' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7052787258412160491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7052787258412160491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/02/keuangan-islam-maju-atau-mundur.html' title='Keuangan Islam: Maju atau Mundur?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7884177225646169270</id><published>2011-02-07T22:57:00.002-05:00</published><updated>2011-09-24T17:44:52.723-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><title type='text'>Perlukah Utang untuk Beli Motor, Mobil, Rumah, dll?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UO7MCDORY-w/Tn5PRbjAkdI/AAAAAAAACxI/1poIsRa_gJI/s1600/consumercreditexpo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-UO7MCDORY-w/Tn5PRbjAkdI/AAAAAAAACxI/1poIsRa_gJI/s320/consumercreditexpo.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Pada prinsipnya, seorang muslim seharusnya menghindari utang kecuali jika ada kebutuhan mendesak. Sebaliknya, seorang muslim sangat dianjurkan memberikan utang juga dalam rangka memenuhi kebutuhan mendesak saudaranya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini banyak muslim yang terbawa arus konsumtif masyarakat Barat yang suka membeli sesuatu yang bukan kebutuhan mendesak dengan cara berutang. Cobalah evaluasi secara jujur, apakah betul-betul sudah tidak ada alternatif lain sehingga kita perlu berutang untuk membeli sepeda motor, mobil, rumah, atau lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang belum punya uang cukup untuk beli mobil, cukuplah beli sepeda motor dulu. Kalau masih belum mampu beli sepeda motor, bisa beli sepeda onthel. Kalau jaraknya terlalu jauh untuk ditempuh dengan sepeda onthel, kita masih bisa naik angkutan umum baik bis, KRL, ojek, bajaj, maupun becak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau belum punya cukup uang untuk beli rumah, bisa ngontrak dulu. Uang tabungan untuk beli rumah biar tidak tergerus inflasi bisa diinvestasikan dulu. Kalau mau dihitung benar-benar, secara finansial jauh lebih menguntungkan kontrak rumah sembari investasikan tabungan di sektor riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ngontrak rumah pun ga mampu, bisa ngekost 1 kamar dulu. Kasihan dengan keluarga jika hanya tinggal di 1 kamar, sementara keluarga titip di mertua dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bertekad kuat untuk menghindari utang dan hidup sesuai dengan kemampuan, insya Alloh selalu ada cara lain. Kecuali jika sudah terkait kebutuhan hidup yang dasar, barulah kita perlu menahan malu untuk berutang. Ironinya kini, orang justru bangga jika bisa berutang di bank dan semakin kaya orangnya justru semakin banyak utangnya. Orang kaya banyak ditawari kredit, orang miskin justru sulit dapat utangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7884177225646169270?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7884177225646169270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7884177225646169270' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7884177225646169270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7884177225646169270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/02/perlukah-utang-untuk-beli-motor-mobil.html' title='Perlukah Utang untuk Beli Motor, Mobil, Rumah, dll?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-UO7MCDORY-w/Tn5PRbjAkdI/AAAAAAAACxI/1poIsRa_gJI/s72-c/consumercreditexpo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-8670796913076657099</id><published>2011-01-11T03:29:00.002-05:00</published><updated>2011-09-24T17:48:02.346-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><title type='text'>Beda Riba dengan Jual Beli</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Otn147A_JEw/TUrpoh_qnEI/AAAAAAAAAF0/8bw1P_ddNzY/s1600/riba.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_Otn147A_JEw/TUrpoh_qnEI/AAAAAAAAAF0/8bw1P_ddNzY/s1600/riba.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Hubungan bay' (jual beli) dengan ijarah sebagaimana hubungan riba fadhl dengan riba naasi'ah. Dalam bay' dan riba fadhl, kepemilikan barang/uang penjual diserahkan pada pembeli dengan harga yang melebihi pokok modal. Sementara pada ijarah dan riba naasi'ah, barang/uang itu dipinjamkan (pokok kembali) dengan imbalan (tambahan atas pokok). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jual beli dan riba sama-sama pertukaran/peminjaman dengan tambahan/imbalan, lalu apa beda jual beli dan riba? Apa benar bedanya cuma di akad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya saya tidak setuju dengan pernyataan beda bunga (riba) dengan murabahah (jual beli) hanya pada akad saja, praktiknya sama-sama bank kasih uang lalu nasabah mengembalikan lebih banyak. Lalu diumpamakan kasus nikah dan zina, bahwa beda keduanya hanya pada akad, intinya sama yakni hubungan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikah dan zina bedanya bukan cuma di akad. Perbedaan nikah dan zina seperti perbedaan bumi dan langit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikah bukan cuma kebebasan beraktivitas seksual, namun mencakup tanggung jawab dunia dan akhirat. Tanggung jawab dunia memberikan nafkah pada istri dan anak, memelihara dan mendidik anak agar mampu survive di dunia. Tanggung jawab akhirat memelihara keluarga dari api neraka. Sementara zina cuma satu aspek saja: kesenangan seksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau beda nikah dan zina cuma akad, gampang aja datang ke pelacuran lalu melangsungkan akad nikah, tukang parkir jadi saksi pun jadi. Kalau pelacurnya sudah janda, tidak perlu ada wali. Bahkan kalau mau cari-cari pendapat fiqh yang memudahkan, ada juga yang membolehkan wanita dewasa menikah tanpa wali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga untuk kasus jual beli dan riba, kesamaan keduanya adalah pertukaran serta ada tambahan/keuntungan untuk penjual. Dalam riba, uang yang didapat lebih dari uang yang diberikan. Dalam jual beli, uang yang didapat lebih dari uang modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perbedaan keduanya bukan cuma pada akad. Perbedaan riba dan jual beli seperti perbedaan bumi dan langit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jual beli, penjual bukan cuma memberi barang dagangan (pokok modalnya), tapi juga memberikan manfaat tambahan seperti manfaat lokasi (tidak perlu pergi jauh beli ke produsen),  dan juga menanggung risiko atas barang dagangan dari pemasok hingga diserahkan ke pembeli. Orang yang menyewakan barang juga masih menanggung risiko dan pemeliharaan barang yang disewakan. Manfaat tambahan dan penanggungan risiko itulah yang patut diberi imbalan dengan keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam pinjaman dan pertukaran uang, tidak ada tambahan manfaat dan tanggungan risiko atas uang pokoknya. Karenanya, orang tidak berhak mendapatkan imbalan dari meminjamkan dan menukarkan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LKS juga bisa mengambil pelajaran dari sini, bahwa perbedaan antara produk mereka dengan produk konvensional semestinya bukan cuma di akad. LKS harus memberikan manfaat dan menanggung risiko agar berhak mendapatkan imbalan. Jika unsur manfaat dan risiko itu tidak terdapat dalam praktik murabahah maupun mudharabah/musyarakah, maka LKS tidak berhak menarik keuntungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-8670796913076657099?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/8670796913076657099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=8670796913076657099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8670796913076657099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8670796913076657099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/01/beda-riba-dengan-jual-beli.html' title='Beda Riba dengan Jual Beli'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Otn147A_JEw/TUrpoh_qnEI/AAAAAAAAAF0/8bw1P_ddNzY/s72-c/riba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6897861144298863273</id><published>2011-01-08T08:36:00.003-05:00</published><updated>2011-05-17T05:02:09.710-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><title type='text'>Cara Menetapkan Marjin Murabahah</title><content type='html'>Hingga saat ini, sebagian besar pembiayaan di lembaga keuangan syariah menggunakan basis akad murabahah, yakni penjualan yang menerangkan harga pokok dan marjin yang diambil. Sebenarnya, jika ditinjau dari sisi kredit yang diberikan, istilah yang lebih tepat adalah bay' bi tsaman 'ajil (penjualan angsuran). Penggunaan istilah murabahah menekankan pengambilan marjin oleh LKS di atas harga beli dari pemasok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik perhitungan marjin saat ini masih menggunakan pola perhitungan bunga dalam kredit konvensional. Besar marjin ditetapkan selain berdasarkan modal yang digunakan juga berdasarkan jangka waktu dan metode pelunasan. Sebagai dasar perhitungan, LKS telah menetapkan tingkat ekuivalen marjin efektif per tahun. Cara perhitungan seperti ini mengimpor dari metode perhitungan bunga nominal dan bunga efektif dalam keuangan konvensional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, metode ini tidak tepat diterapkan dalam pembiayaan Islam berbasis akad utang seperti pembiayaan murabahah. Hal ini karena hukum Islam melarang penambahan dan pengurangan total pembayaran utang, kecuali atas inisiatif dan kesukarelaan pihak yang terkena beban. Sekali harga disepakati, maka realisasi cara pembayaran tidak dapat mempengaruhi total nilai pembayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana seharusnya cara LKS menghitung marjin untuk pembiayaan murabahah ini? LKS semestinya tidak perlu memperhitungkan jangka waktu pelunasan dalam menetapkan marjin. Jadi cukup satu harga untuk satu item barang yang djual, tanpa melihat berapa lama masa pelunasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Keberatan  mungkin datang dari penjual karena semakin lama masa waktu pelunasan, semakin banyak ia kehilangan potensi keuntungan dari pemanfaatan modal barang yang belum lunas tersebut. Di sisi lain, pembeli juga keberatan jika harus membayar lebih mahal untuk barang yang ia lunasi pembayarannya lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi keberatan tersebut, bisa ditempuh dua strategi. Pertama, penjual menetapkan harga lebih tinggi untuk masa pelunasan yang lebih lama. Strategi kedua adalah harga ditetapkan dalam satuan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dijelaskan sebelumnya, strategi pertama tidak akan efektif jika dalam praktik pelunasan itu tidak tepat waktu. Efektivitas cara ini bisa ditingkatkan jika pembeli dapat didorong untuk melunasi tepat waktu. Dorongan ini biasanya berupa reputasi dan denda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang dengan sengaja menunda pelunasan utang akan memperoleh reputasi buruk yang dapat mempersulit dirinya untuk mendapatkan kredit lain, baik dari pemberi pinjaman yang ia telat membayar maupun dari pemberi pinjaman potensial lainnya. Apalagi kini Bank Indonesia telah membuat sistem basis data debitur untuk perbankan, sehingga jejak rekam buruk debitur bermasalah akan dapat diketahui oleh semua bank di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, LKS juga boleh mengenakan denda untuk keterlambatan pembayaran. Hanya saja, denda ini tidak boleh diambil sebagai keuntungan oleh LKS tersebut, tapi harus disalurkan untuk keperluan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada strategi kedua, harga tidak perlu dibedakan untuk tiap masa pelunasan yang berbeda. Akan tetapi, penjual dan pembeli bersepakat untuk menyepakati harga transaksi dalam satuan komoditas, bukan satuan mata uang. Komoditas yang dijadikan satuan harga dipilih dari jenis yang cenderung mengalami kenaikan harga setara atau lebih tinggi daripada barang dan jasa lainnya. Cara ini paling tidak bisa mengurangi risiko kerugian penjual dari penurunan nilai mata uang yang menjadi basis harga transaksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cara ini masih belum dapat menggantikan potensi keuntungan yang hilang dari tertahannya modal. Namun jika harga komoditas naik lebih cepat dari inflasi, keuntungan apresiasi harga ini bisa mengkompensasi paling tidak sebagian dari potensi keuntungan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan komoditas yang menjadi basis harga transaksi berperan penting dalam cara kedua ini. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan komoditas, selain kecenderungan perubahan harga antarwaktu, adalah likuiditas komoditas tersebut serta selisih harga beli dan harga jual pada satu waktu. Komoditas yang likuid akan memudahkan penjual untuk menukarkan komoditas pembayaran menjadi uang. Komoditas yang dipilih juga sebaiknya memiliki selisih harga beli dan harga jual yang kecil, untuk meminimalkan selisih nilai yang dibayarkan pembeli dengan yang diterima penjual.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6897861144298863273?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6897861144298863273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6897861144298863273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6897861144298863273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6897861144298863273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/01/cara-menetapkan-marjin-murabahah.html' title='Cara Menetapkan Marjin Murabahah'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-4984458395118134928</id><published>2011-01-06T20:08:00.008-05:00</published><updated>2011-05-17T05:03:17.070-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keuangan Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><title type='text'>Koreksi Paradigma Investasi</title><content type='html'>Anda saat ini punya tabungan uang, bisa di celengan maupun di bank. Anda merasa bahwa tabungan itu sudah lebih dari cukup untuk berjaga-jaga dari keperluan konsumtif non rutin dalam waktu dekat. Sebenarnya masih ada keperluan konsumtif lain di masa depan, tapi masih butuh waktu lama untuk mengumpulkan tabungan hingga mampu membelinya, seperti keperluan naik haji dan beli rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pun berpikir bahwa sayang jika uang di tabungan dibiarkan menganggur. Apalagi anda tahu bahwa harga-harga cenderung terus naik tiap waktu, sehingga semakin lama semakin sedikit barang yang bisa dibeli oleh uang di tabungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka anda mulai mempertimbangkan untuk menginvestasikan uang anda. Tentu saja anda tahu bahwa ketika diinvestasikan, maka uang itu tidak lagi tersedia sewaktu-waktu ketika dibutuhkan. Benarkah seperti itu? Tidak juga, karena ada pilihan investasi yang likuid, dimana anda bisa mendapatkan kembali uang anda sewaktu-waktu. Contoh investasi yang likuid ini adalah deposito, saham, obligasi, dan emas. Jika uang dibelikan tanah atau dijadikan modal usaha, maka anda akan sulit mendapatkan kembali uang anda sewaktu-waktu. Demikian biasanya yang diajarkan dalam perencanaan keuangan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapkan pada pilihan ini, sebagian besar orang yang hanya memiliki tabungan pas-pasan cenderung tidak memilih investasi yang tidak likuid. Dalam membeli investasi yang likuid, orang berusaha agar pokok uang yang diinvestasikan bisa kembali minimal utuh, dan harapannya ada kelebihan baik dari pembagian keuntungan, bunga, maupun kenaikan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pikir di atas keliru dalam memandang hakikat investasi.Investasi sebenarnya adalah membelanjakan uang menjadi barang, sama dengan konsumsi. Perbedaan investasi dengan konsumsi adalah barang yang dibeli diharapkan akan mendatangkan uang lagi dalam bentuk keuntungan usaha. Karenanya, keliru jika mengharapkan uang yang diinvestasikan bisa diambil sewaktu-waktu untuk konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ketika uang sudah ditukar dengan barang konsumsi maupun barang modal, maka cara satu-satunya untuk menjadikannya uang lagi adalah dengan menjualnya. Karena barang yang dijual tersebut sudah tidak baru lagi, wajar jika uang yang didapatkan tidak sebanyak uang yang dibelanjakan untuk membeli barang tersebut. Namun hal ini tidak bisa dianggap sebagai kerugian, karena barang tersebut telah memberikan manfaat konsumtif dan atau produktif pada pemiliknya sejak pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika konsumsi dan investasi dalam bentuk jasa, maka hasil belanja itu tidak bisa dijual lagi. Jika jasa itu merupakan investasi pengetahuan dan ketrampilan, maka hasil investasi akan berupa tambahan pendapatan karena produktivitas juga meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan investasi semestinya orang tidak mengharapkan uangnya bisa kembali utuh dalam satu waktu. Total uang hasil dari investasi bisa melebihi total uang yang diinvestasikan, tapi uang tersebut didapatkan secara bertahap sepanjang umur modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tetap perlu diingat, bahwa investasi bisa juga merugi dalam arti total uang hasil investasi kurang dari uang yang dibelanjakan. Akan tetapi, selama kemungkinan rugi itu lebih kecil daripada kemungkinan untung, maka sebagai mahluk rasional kita tidak semestinya menghindari investasi tersebut. Lagipula dalam investasi di sektor riil, selalu ada cara untuk meminimumkan risiko kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketika anda mempertimbangkan investasi, anda masih bisa membeli kebutuhan anda di masa depan dari akumulasi uang yang datang dari pendapatan yang meningkat hasil dari investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, misalkan pada awalnya pendapatan anda sebesar Rp 2 juta/bulan, dan anda telah memiliki tabungan Rp 20 juta. Lalu anda memutuskan menginvestasikan separuh tabungan. Uang investasi Rp 10 juta itu tentunya tidak langsung habis, karena pembelian barang modal dalam persiapan usaha juga tidak dilakukan sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah tiga bulan kemudian baru usaha mulai berjalan. Dari Rp 10 juta, yang dibelanjakan untuk peralatan usaha hanya Rp 8 juta, sementara sisanya menjadi kas operasional. Baru setelah itu, mulai ada pemasukan. Awal-awal pengeluaran lebih besar dari pemasukan, sehingga sediaan kas justru berkurang. Baru pada bulan keempat keuntungan bisa didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh untung, maka tergantung keputusan anda apakah keuntungan itu akan langsung diambil untuk menambah pendapatan anda sebagai pemodal, atau ditahan dulu di perusahaan untuk menambah peralatan dan barang dagang. Jika modal ditambah, maka harapannya keuntungan berikutnya akan semakin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah anda langsung mengambil keuntungan itu sebagai pemasukan rumah tangga. Keuntungan bersih per bulan rata-rata Rp 500 ribu. Sehingga mulai bulan keempat sejak pendirian usah, total pendapatan anda menjadi Rp 2,5 juta dari semula Rp 2 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada akhir tahun kedua setelah mulai untung, total hasil investasi sudah mencapai Rp 10,5 juta, yakni lebih Rp 500 ribu juta dari uang yang diinvestasikan semula. Jika umur barang modal ini mencapai 5 tahun, maka total hasil investasi adalah 28,5 juta. Investasi anda secara total menghasilkan hampir 3x lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keperluan jangka panjang anda baru tiba waktu setelah investasi memberikan hasil yang sepadan (&lt;i&gt;break even point-BEP)&lt;/i&gt;, yakni setelah tahun ketiga pada simulasi di atas, maka keputusan anda untuk menginvestasikan tabungan anda sudah tepat. Risiko sebenarnya dari investasi tabungan adalah jika anda sudah membutuhkan seluruh tabungan tersebut sebelum BEP&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Namun jika anda masih terus menabungkan sebagian penghasilan anda, misal Rp 500 ribu sebulan, ditambah dengan tambahan tabungan dari keuntungan usaha, maka dalam waktu kurang lebih satu tahun saja tabungan anda sudah kembali seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bandingkan dengan skenario jika anda terus bekerja dan menabung tanpa ada tabungan yang diinvestasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 juta + (b x 0,5 juta) = 10 juta + [(b-3) x 1 juta]&lt;br /&gt;b juta - 3 juta - 0,5 b juta = 20 juta - 10 juta&lt;br /&gt;0,5 b juta = 13 juta&lt;br /&gt;b = 26 bulan = 2 tahun 4 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, skenario investasi akan mencapai nilai tabungan yang sama dengan skenario tanpa investasi pada tahun kedua bulan keempat, yakni senilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 + (26 x 0,5 juta) = 20 + 13 juta = 33 juta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, tabungan dalam skenario investasi mengalami pertambahan lebih besar 500 ribu dari skenario tidak investasi. Selisih 500 ribu itu datang dari hasil investasi. Jadi setelah BEP, anda akan hanya butuh waktu separuh dari waktu yang diperlukan untuk mencapai nilai tabungan tertentu dibanding jika tidak melakukan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, berinvestasilah dengan mengharapkan tambahan pendapatan, bukan pengembalian modal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-4984458395118134928?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/4984458395118134928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=4984458395118134928' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4984458395118134928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4984458395118134928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2011/01/koreksi-paradigma-investasi.html' title='Koreksi Paradigma Investasi'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1863912817827354600</id><published>2010-12-30T21:54:00.003-05:00</published><updated>2011-09-05T12:01:53.358-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><title type='text'>Ekonomika Gadai Emas</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Emas sebagai Lindung Nilai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Emas merupakan lindung nilai yang baik dalam jangka panjang  karena nilai tukarnya dengan barang dan jasa lain cenderung stabil, bahkan 10 tahun terakhir ini mengalami kenaikan nilai tukar – kenaikan harga emas melebihi tingkat inflasi. Namun emas ini kurang baik untuk lindung nilai jangka pendek karena fluktuasi permintaan dan penawaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya bukan pada apakah emas baik sebagai lindung nilai, tapi apakah lindung nilai itu sendiri baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menggunakan logika emas sebagai uang, manfaat uang adalah memfasilitasi pertukaran. Uang tidak dapat memberi manfaat langsung bagi pemiliknya. Karenanya, jika seseorang menahan uang, tidak membelanjakannya, ia telah berbuat sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emas dalam bentuk koin maupun batangan juga tidak memberi manfaat ketika hanya disimpan.&lt;br /&gt;Emas bisa memberikan manfaat jika digunakan sebagai alat tukar, perhiasan, bahkan sekarang ada yang menjadikannya bahan kosmetik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang dimaksud konsep emas sebagai lindung nilai? Apakah lindung nilai ini berarti mempertahankan daya beli, bermakna tujuannya adalah suatu saat emas itu digunakan untuk membeli kebutuhan lain di masa depan? Ataukah lindung nilai ini berarti mempertahankan nilai total kekayaannya, sebagai bagian dari portofolionya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pihak memandang bahwa gadai emas memberi manfaat lindung nilai dan monetisasi. Manfaat lindung nilai diperoleh dari kepemilikan emas yang masih di tangan orang yang menggadaikan. Manfaat monetisasi diperoleh dari uang yang diutangkan LKS, sehingga bisa digunakan untuk transaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model gadai emas untuk lindung nilai seperti ini mengandung dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah utang tanpa keterpaksaan, bahkan sebenarnya pak Dedi dalam kondisi berlebih bukan kekurangan. Sewajarnya, pihak yang surplus memberi utang pada yang defisit. Kalau orang punya duit masih suka berutang, jadilah ekonomi kita seperti ekonomi Barat yang menggelembung karena utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan kedua adalah tabungan yang tanpa tujuan. Tabungan untuk pemenuhan kebutuhan masa depan adalah boleh. Salah satu ukuran apakah suatu tabungan itu benar-benar untuk pemenuhan kebutuhan, adalah tabungan itu digunakan saat pemiliknya memiliki kebutuhan. Tapi ketika seseorang punya kebutuhan saat ini, yakni untuk usaha, tapi tabungan emasnya tidak digunakan, hal ini menunjukkan bahwa tabungan emas itu bukanlah untuk pemenuhan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tabungan emas itu sudah tidak termasuk pemenuhan kebutuhan, maka ia terkategori sebagai jenis tabungan yang kedua, yakni tabungan yang bermotifkan mempertahankan/mengekalkan kekayaan. Dan tabungan kategori kedua ini adalah sesuatu yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa salahnya mempertahankan nilai total kekayaan? Menyimpan uang, emas, atau apapun juga tanpa keperluan penggunaan yang jelas adalah tidak baik (buruk/salah), karena ada unsur kesia-siaan dan kezaliman. Sia-sia karena tidak dimanfaatkan, cuma disimpan. Kezaliman karena menahannya dari orang lain yang butuh, dalam mekanisme pasar hal ini mewujud dalam kenaikan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dampak Ekonomi Gadai Emas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perbandingan dampak gadai emas pada ekonomi dibandingkan jika orang itu langsung membeli kebutuhannya? Pada kasus kedua, orang melepaskan uang untuk mendapat barang/jasa. Dampaknya, permintaan barang/jasa naik. Jika persediaan barang tidak ditambah lagi, maka kencenderungannya harga barang/jasa akan naik. Harga emas tidak terpengaruh oleh transaksi ini karena tidak ada transaksi di pasar emas. Demikian pula, pasar dana pinjaman/pembiayaan tidak terpengaruh oleh transaksi kontan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus gadai emas, orang perlu membeli emas terlebih dulu, baru kemudian digadaikan, lalu uangnya digunakan untuk membeli barang. Akibatnya pada pasar barang/jasa akan sama, yakni harga cenderung meningkat karena kenaikan permintaan. Namun kini pasar emas ikut terpengaruh, permintaan emas meningkat ketika orang membeli emas yang akan digadaikan, sehingga harga emas akan mengalami kenaikan. Selain itu, pasar dana pinjaman/pembiayaan ikut terpengaruh karena terjadi kenaikan permintaan. Akibatnya, tingkat imbalan dari dana pinjaman/pembiayaan akan meningkat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan, pada analisis di atas stok uang fiat tidak bertambah. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa kenaikan harga emas disebabkan banyaknya pencetakan uang. Kenaikan harga emas murni terjadi karena meningkatnya permintaan emas untuk tujuan lindung nilai dan jaminan utang gadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa awal kesalahan terletak pada uang kertas yang dicetak berlebih sehingga harga-harga naik, termasuk harga emas. Namun kenaikan harga emas saat ini tidak bisa lagi seluruh penyebabnya dituduhkan pada penurunan nilai uang kertas. Depresiasi uang kertas cuma bertanggungjawab sebesar inflasi, yang akhir-akhir ini jarang di atas 10%. Jadi sisa apresiasi harga emas berasal dari kelebihan permintaan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat harga emas yang naik melebihi inflasi itu, apa yang perlu kita lakukan, beli atau jual emas? kebanyakan orang sekarang tidak ragu untuk menjawab, beli. Alasannya, biar dapat untung karena harga naik terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba komoditas lain, misal cabai. Harga cabai sekarang naik berkali lipat. Kita sebagai konsumen tentu memilih tidak jadi beli atau mengurangi jumlah pembelian. Petani dan pedagang cabai yang ingin pasti dapat untung akan menjualnya sekarang, mumpung harga naik. Penjual seperti apa yang justru menyimpan cabainya saat harga naik? Mereka adalah penjual yang berspekulasi mengharap untung lebih besar kalau harga naik lagi. Sebagian dari mereka paham betul bahwa dengan menahan stok cabainya, mereka sedang merekayasa agar harga naik lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis pasar emas tidak beda dengan analisis pasar cabai di atas. Menghadapi kenaikan harga emas ini, apakah kita akan menjadi pembeli dan penjual yang rasional atau yang spekulatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkategori spekulatif pemilik emas yang bukan penjual emas dan menahan emas itu untuk keperluan tabungan untuk kebutuhan masa depan, seperti pada penjelasan di topik lindung nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi mereka yang baru niat membeli emas, jika mereka rasional, maka mereka semestinya membeli emas saat harga turun, bukan saat harga naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, saat ini kenaikan harga emas banyak didorong unsur spekulatif. Boleh membeli emas, tapi jangan ikut perilaku spekulatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sini, masuklah kritik saya pada gadai emas. Pada dasarnya gadai emas telah turut berperan dalam melambungkan harga emas di luar kewajaran. Ukuran wajar adalah inflasi, jika sudah di atas inflasi perlu dicurigai, karena penyebabnya bukan lagi depresiasi uang kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran gadai emas saya ilustrasikan dengan 2 kasus yang hakikatnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus 1, seseorang punya uang 40 juta digunakan seluruhnya untuk membeli emas 100 gram secara kontan, lalu digadaikan untuk mendapat utang 36 juta , lalu seluruh utang itu dibelikan keperluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus 2, orang yang sama punya uang 40 juta membeli keperluannya secara kontan 36 juta, lalu utang lagi 36 juta untuk digabung dengan sisa uangnya untuk membeli emas 100 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kedua kasus, orang tersebut sama-sama di awal punya uang 40 juta, pada akhirnya punya emas 100 gram, utang 36 juta, dan bisa membeli keperluan seharga 36 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bandingkan dengan kasus ketiga. Orang punya uang 40 juta digunakan membeli keperluan 36 juta dan emas 10 gram seharga 4 juta. Orang ketiga ini memang cuma punya emas 10 gram, tapi ia tidak punya utang 36 juta yang memang tidak ia perlukan. Ia membeli emas sebatas kemampuan riilnya,  yakni 4 juta. Ia tidak memaksakan diri untuk membeli di luar keperluan emas 100 gram dengan cara berutang hingga 36 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadai emas telah ikut melambungkan harga emas karena menggandakan permintaan emas 10x dari kemampuan riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dampak Moneter dan Keuangan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa pada sistem moneter standar emas, ada tiga fitur yang memiliki dampak berbeda.&lt;br /&gt;Nilai uang kertas yang diterbitkan dipatok dengan kuantitas emas tertentu. Fitur ini menghasilkan kestabilan nilai uang kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konvertibilitas uang kertas dengan emas sejumlah nilai yang dipatokkan. Fitur ini menciptakan kepercayaan masyarakat bahwa nilai mata uang benar-benar sesuai patokan.&lt;br /&gt;Pemerintah memback-up uang yang diterbitkan dengan emas yang senilai. Fitur ini menjamin konvertibilitas penuh antara uang dan emas. Kalau back-up emasnya kurang, maka pemerintah tidak bisa melayani semua masyarakat yang ingin menukarkan uangnya dengan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini nampak bahwa argumen gadai emas sebagai backup uang kertas tidak relevan, karena tidak ada patokan nilai uang terhadap emas yang digadaikan. Walau uang LKS bisa ditukarkan kembali dengan emas saat pengembalian utang, harga emas saat uang diterima nasabah bisa berbeda dengan saat nasabah mengembalikan uang dan mengambil kembali emasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, untuk apa memback-up uang di bank ketika yang menerbitkan uang adalah pemerintah? Emas nasabah digunakan untuk memback-up utang, bukan memback-up uang. Emas benar-benar menjadi back-up Rupiah kalau BI menginjeksi uang ke ekonomi dengan cara membeli emas, bukan membeli dolar atau obligasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin kedua di atas juga terkait dengan argumen bahwa kepemilikan emas akan memperkuat sistem keuangan dan moneter. Kekuatan sistem moneter terwujud jika emas memback-up penerbitan uang dengan menjadi cadangan devisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back-up emas terhadap utang lebih berkaitan dengan stabilitas sistem keuangan, bukan dengan sistem moneter. Stabilitas sistem keuangan yang berbasis pada utang/kredit bergantung pada aset yang mem-back up utang tersebut. Untuk memback-up utang, aset yang kuat bukan hanya emas, bisa juga tanah, rumah, kendaraan, dll. Yang penting, saat terjadi kredit macet, jaminan utang tersebut bisa dijual dengan harga yang mendekati, bahkan kalau bisa lebih dari nilai utang. Dengan demikian, lembaga keuangan pemberi utang terhindar dari kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jika memang ada keperluan, tidak wajar melakukan lindung nilai dengan mempertahankan kepemilikan emas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;2. Gadai emas berdampak buruk pada ekonomi karena menyebabkan kenaikan harga emas dan tingkat imbalan pembiayaan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;3. Gadai emas tidak memperkuat sistem moneter. Sistem keuangan yang berbasis utang lebih kuat dengan back-up aset riil seperti emas. Namun perlu diingat, bahwa yang ingin dibangun dalam ekonomi Islam adalah sistem keuangan berbasis kemitraan (syirkah), bukan basis utang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1863912817827354600?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1863912817827354600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1863912817827354600' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1863912817827354600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1863912817827354600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2010/12/ekonomika-gadai-emas.html' title='Ekonomika Gadai Emas'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-3673292073014229778</id><published>2010-11-13T04:11:00.000-05:00</published><updated>2010-11-13T04:13:21.825-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><title type='text'>Pemulihan Aset Korban Bencana dengan Pola Kemitraan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; border-collapse: collapse; "&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 8px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Upaya pemulihan aset produktif korban bencana, terutama yang dilakukan oleh swadaya masyarakat, bisa menggunakan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;skema pembiayaan musyarakah mutanaqisah (decreasing partnership)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;. Dalam skema ini, asetnya tidak dihibahkan secara langsung ke korban, tetapi aset itu merupakan penyertaan modal dari pemberi bantuan. Hasil dari aset produktif tersebut (misal daging dan susu dari usaha ternak, atau panenan dari pertanian dan perkebunan) akan dibagi menjadi tiga bagian:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 8px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="margin-left: 15px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Bagian pertama untuk pendapatan peternak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-left: 15px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Bagian kedua untuk mengangsur modal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-left: 15px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Bagian ketiga untuk imbalan pemilik modal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 8px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Berapa besar bagian masing-masing bisa disesuaikan dengan kebutuhan korban dan kerelaan pemilik modal. Bisa jadi pemilik modal tidak ingin meminta bagian sama sekali, hanya ingin uangnya suatu bisa balik, maka bagian ketiga ini digunakan untuk menambah bagian kedua. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 8px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Adanya bagian untuk imbalan pemilik modal ini diperlukan untuk memberikan insentif bagi pemberi bantuan. Kalau bentuk bantuan hibah, biasanya ada limit anggaran donatur untuk keperluan hibah ini. Tapi kalau bentuknya kerjasama usaha seperti ini, maka alokasi uang yang tadinya ditabung di deposito sekarang juga bisa digunakan untuk membantu korban bencana. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 8px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal; "&gt;Sangat dianjurkan bagi anda para pemilik deposito untuk mengalihkan uangnya ke dalam investasi program pemulihan ini. Uang anda di bank kemungkinan hanya digunakan untuk membeli SBI, jadi uang menganggur di brankasnya BI, malah membebani anggaran negara untuk membayar bunga SBI tersebut. Bank juga sulit diharapkan langsung turun memberikan kredit/pembiayaan bagi korban bencana, karena mayoritas tidak bankable dan sudah tidak punya aset untuk agunan. Pemilik modal harus turun sendiri memberikan bantuan pada korban bencana, dan mereka bisa melakukannya dengan tetap memperoleh keuntungan sewajarnya.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-3673292073014229778?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/3673292073014229778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=3673292073014229778' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3673292073014229778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3673292073014229778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2010/11/pemulihan-aset-korban-bencana-dengan.html' title='Pemulihan Aset Korban Bencana dengan Pola Kemitraan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-4644144750938006259</id><published>2010-05-07T17:59:00.004-04:00</published><updated>2011-09-05T12:05:16.936-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Peran Pasar dan Negara (II): Eklektisisme dan Sektor Sukarela</title><content type='html'>Jika Eropa dianggap sebagai model ekonomi didominasi negara (welfare state), sementara Amerika Serikat dianggap model ekonomi didominasi pasar (neoliberalisme), apa model yang seharusnya diikuti oleh Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya madzhab ekonomi dunia sudah semakin konvergen, di mana welfare state merupakan ayunan pendulum dari ekstrim intervensi negara (sosialisme) ke arah pasar, sementara neoliberalisme merupakan ayunan pendulum dari kapitalisme liberal klasik yang sudah ditarik lebih ke arah intervensi negara sejak masa New Deal namun ditarik lagi ke arah pasar sejak masa Reagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa sikap yang lebih tepat dalam pilihan pasar-negara ini adalah eklektik: tidak harus ikuti salah satu model secara kaffah. Kita pilih-pilih mana yang lebih cocok untuk diterapkan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penyediaan kebutuhan oleh negara memang terkesan menyenangkan: negara tidak mencari untung seperti swasta. Namun kenyataan di Indonesia, walau negaranya tidak cari untung, aparatnya cari untung. Ketika aparat negara cari untung dari publik, mereka bisa lebih serakah dari swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala saya merasa ungkapan Reagan cocok dengan kondisi Indonesia, "government is not the solution to our problem; government is the problem". Mungkin kita masih dapat berharap dan terus mengupayakan perbaikan pemerintahan kita. Namun dalam jangka pendek ketika pemerintah tidak bisa diandalkan, apakah keliru untuk melirik pasar jika memang dapat memberikan kebutuhan lebih baik dan lebih murah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, saya juga ga sreg jika obat dipatenkan sehingga tidak bisa diproduksi massal dan dijual murah. Saya juga merasa ada yang salah ketika pendidikan menjadi investasi individual: hanya keluarga berduit yang dapat membeli pendidikan bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini saya merasa kita harus memutuskan pilihan pasar-negara secara kasus per kasus. Kadangkala dalam satu kasus perlu campuran peran pasar-negara, misal produksi oleh swasta tapi dibiayai negara. Jangan lupa peran sektor ketiga: sektor sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi saya terhadap model ekonomi Islam adalah ekonomi di mana peran sektor sukarela ini cukup besar. Sebagaimana peran individual Utsman untuk membeli sumur orang Yahudi ketika kaum muslimin kesulitan air. Peran wakaf juga pernah sangat besar dalam peradaban Islam, tidak hanya untuk masjid dan sekolah, tapi juga pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pengelolaan pasar versi Islam sangat menarik untuk diterapkan. Berikut saya copas dari blog &lt;a href="http://elhakimi.wordpress.com/2009/12/25/pasar-islam-salman-itb-2/"&gt;elhakimi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: orange; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;&lt;strong&gt;Pasar Tradisonal/Pasar Modern&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;&lt;strong&gt;Pasar Islam&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;&lt;strong&gt;Keterangan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Pedagang tidak diwajibkan untuk memahami hukum riba dan fiqih dagang&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Pedagang diwajibkan memahami hukum riba dan fiqih dagang&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Khalifah Umar bin Khattab ra mengusir pedagang yang tidak memahami riba dan fiqih dagang dari pasar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Pasar tidak serupa dengan masjid&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Pasar serupa dengan masjid, siapa yang datang lebih dulu maka bisa menempati posisi tempat yang diinginkan&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Rasul SAW bersabda: pasar mengikuti sunnah masjid: siapa dapat tempat duluan berhak duduk sampai dia bediri dan kembali ke rumah atau menyelesaikan perdagangannya (Al Hindi, &lt;em&gt;Kanz al Ummal,&lt;/em&gt; V 488 no 2688)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Ada kepemilikan pribadi&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Pasar adalah sedekah bagi kaum muslimin, makanya pasar Islam dibangun di atas tanah wakaf&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Ibrahim ibnu Mundhir al Hizami meriwayatkan dari Abdullah ibn Ja’far bahwa Muhamad ibn Abdullah ibn Hasan mengatakan, “Rasul SAW memberi kaum Muslimin pasar sebagai sedekah” (Saba K, &lt;em&gt;Tarikh Al Madinah Al Munawarah&lt;/em&gt;, 304)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Ada penarikan uang sewa&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Tidak ada penarikan uang sewa&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Ibnu Zabala meriwayatkan dari Khalid ibnu Ilyas al Adawi, “Surat Umar ibnu Abdul Azis dibacakan kepada kami di Madinah, yang menyatakan bahwa pasar adalah sedekah dan tidak boleh ada sewa (kira) kepada siapa pun”. ( As-Samhudi, &lt;em&gt;Wafa al Wafa&lt;/em&gt;,749)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Ada penarikan pajak&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Tidak ada penarikan pajak&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Ibrahim al Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja’far ibn Muhamad dari Abdullah ibn Ja’far ibn al Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa Ata ibn Yasar mengatakan, “Ketika Rasul SAW ingin membuat sebuah pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar Bani Qainuqa dan kemudian mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, ‘Inilah pasar kalian. Jangan membiarkannya berkurang (la yudayyaq) dan jangan biarkan pajak apa pun (kharaj) dikenakan’” (Ibnu Saba K &lt;em&gt;Tarikh Al Madinah Al Munawarah&lt;/em&gt;, 304)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Ada pesan dan klaim tempat&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Tidak ada pesan dan klaim tempat&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Ibnu Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Ismail bahwa Habib mengatakan bahwa Umar Ibn Khattab (pernah) melewati Gerbang Ma’mar di pasar dan (melihat) sebuah kendi di dekat gerbang dan dia perintahkan untuk mengambilnya Umar melarang orang meletakkan batu pada tempat tertentu atau membuat klaim atasnya. (As-Samhudi,&lt;em&gt; Wafa al Wafa&lt;/em&gt;,749)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="168"&gt;Tidak adanya Muhtasib&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="170"&gt;Adanya Muhtasib yang bertugas mengawasi pasar agar tidak terjadi kegiatan muamalah yang melanggar syar’i seperti berdusta dan sumpah palsu dalam menawarkan dagangan, barang-barang haram, penipuan, penimbunan barang, manipulasi harga dan lain-lain&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="300"&gt;Khalifah Umar bin Khattab ra berkeliling sendiri di pasar-pasar untuk mengawasi transaksi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 10px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 10px;"&gt;Beliau membawa tongkatnya untuk meluruskan penyimpangan dan menghukum orang yang menyimpang (Ibnu Sa’ad, &lt;em&gt;ath-Thabaqat al-Kubra &lt;/em&gt;5/43-44).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 10px;"&gt;Umar juga menunjuk para pegawai untuk mengawasi pasar (Ibnu Abdul Barr, &lt;em&gt;al-Isti’ab &lt;/em&gt;4/341)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-4644144750938006259?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/4644144750938006259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=4644144750938006259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4644144750938006259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4644144750938006259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2010/05/peran-pasar-dan-negara-ii-eklektisisme.html' title='Peran Pasar dan Negara (II): Eklektisisme dan Sektor Sukarela'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7687712503151694815</id><published>2009-12-09T05:18:00.001-05:00</published><updated>2009-12-09T05:22:12.084-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi politik'/><title type='text'>Dongeng Gank Century</title><content type='html'>Alkisah ada sekawanan rampok kakap berjuluk Gank Century. Suatu saat mereka terkepung polisi ketika sedang merampok bank karena seorang karyawan berhasil membunyikan alarm. Para penembak jitu sudah mengincar kepala seluruh anggota Gank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Gank Century tak kurang akal. Mereka telah membawa bom yang cukup untuk meledakkan bangunan bank sehingga mengubur seluruh sandera. Jika ada seorang saja anggota mereka ditembak polisi, bom itu akan diledakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan polisi berunding apakah mereka akan menyuruh penembak jitu untuk menembak seluruh perampok dengan risiko ada perampok yang selamat dan menekan tombol pemicu bom. Akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkan perampok itu pergi, dengan harapan bisa menangkap perampok itu di lain waktu ketika tidak ada lagi risiko sebesar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melenggangnya kawanan perampok Gank Century dengan membawa hasil rampokan mereka memicu kemarahan pimpinan bank dan masyarakat. Mereka menuduh polisi bodoh dan pengecut sehingga membiarkan perampok pergi begitu saja. Bahkan muncul desas-desus bahwa pimpinan polisi bersekongkol dengan perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertangkapnya sebagian anggota Gank Century di kemudian hari tidak cukup untuk membersihkan nama dan mengembalikan reputasi pimpinan polisi. Masyarakat masih mempersoalkan besarnya kerugian akibat perampokan. Mereka menganggap risiko bom meledak terlalu dibesar-besarkan polisi untuk mengesahkan keputusan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, ditemukan aliran dana dari Gank Century ke salah seorang pimpinan polisi yang terlibat dalam keputusan melepas mereka. Walau demikian, para pimpinan polisi lain yang bersih tetap bersikukuh bahwa penilaian dan keputusan mereka akan tetap sama walau tidak ada oknum yang bersekongkol. Keputusan pelepasan perampok mereka anggap jauh lebih baik daripada mempertaruhkan nyawa puluhan nasabah dan karyawan bank yang menjadi sandera.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7687712503151694815?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7687712503151694815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7687712503151694815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7687712503151694815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7687712503151694815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/12/dongeng-gank-century.html' title='Dongeng Gank Century'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2276993437301534536</id><published>2009-11-02T07:27:00.000-05:00</published><updated>2009-12-02T07:31:29.467-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbankan'/><title type='text'>Memacu Pertumbuhan Bank Syariah</title><content type='html'>(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dimuat di rubrik Opini majalah Sharing edisi November 2009&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 2008 lalu, banyak pemerhati ekonomi syariah kecewa dengan kegagalan bank syariah mencapai target 5 persen pangsa aset perbankan nasional. Nampaknya kekecewaan itu akan berlanjut tahun ini karena hingga akhir bulan Agustus lalu aset perbankan syariah masih 2,4 persen dari aset perbankan nasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walau pangsa aset gagal mencapai target, namun dari sisi pertumbuhan aset bank syariah sebenarnya menunjukkan prestasi sangat baik tahun lalu, yakni mencapai 50 persen. Kenaikan aset ini jauh lebih tinggi daripada tahun 2007 yang hanya tumbuh 23,6 persen. Rata-rata pertumbuhan aset bank syariah yang sekitar 30 persen juga masih dua kali lipat dari pertumbuhan aset bank konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun angka menggembirakan ini tidak cukup memuaskan jika tujuannya adalah agar bank syariah bisa sejajar dengan bank konvensional sesegera mungkin. Jika rata-rata pertumbuhan aset bank syariah bertahan sekitar 30 persen, dan bank konvensional sekitar 15 persen, maka butuh waktu 32 tahun agar aset bank syariah bisa menyamai bank konvensional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dapatkah kita bersabar selama itu sekedar untuk menyamai bank konvensional, belum mendominasinya? Satu-satunya cara memangkas waktu adalah dengan mempercepat pertumbuhan bank syariah. Hambatan-hambatan perlu disingkirkan dan perlu langkah-langkah terobosan agar bank syariah bisa melaju lebih cepat&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hambatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa dugaan sebab kelambanan pertumbuhan bank syariah ini. Pertama, masyarakat yang sadar syariah sebenarnya berjumlah banyak dan sebagian besar masih belum tergabung dalam bank syariah manapun. Akan tetapi, mereka kecewa pada bank syariah yang tidak memenuhi harapan atau standar kesyariahan mereka. Kelompok masyarakat ini tidak bersedia pindah dari bank konvensional ke bank syariah karena menganggap tidak ada bedanya menabung dan meminjam di bank konvensional atau bank syariah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hambatan juga terjadi dari kebijakan industri keuangan. Hingga awal 2008 lalu, bank syariah tidak memiliki instrumen investasi yang likuid sebagaimana bank konvensional. Terpaksa bank syariah menaruh seluruh DPK di pembiayaan yang berisiko dan tidak likuid. Risiko pembiayaan dan risiko likuiditas yang tinggi membuat bank syariah menerapkan marjin laba lebih tinggi daripada bank konvensional. Hal ini menyebabkan bank syariah sulit bersaing dengan bank konvensional baik pada sisi pendanaan maupun pembiayaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aspek kekeliruan kebijakan lainnya adalah penerapan aturan kehati-hatian (prudential) pada bank syariah yang sama dengan yang diterapkan pada perbankan konvensional. Padahal, bank syariah pada prinsipnya harus mau menanggung risiko pembiayaan yang tinggi karena mengandalkan akad bagi hasil. Dipaksa oleh aturan kehati-hatian yang ketat, bank syariah pada praktiknya lebih banyak menggunakan akad jual-beli yang mirip dengan kredit konvensional. Kemiripan ini menimbulkan masalah kedua di atas, di mana masyarakat yang peduli syariah menjadi tidak peduli terhadap bank syariah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemungkinan terakhir, bank syariah sulit tumbuh cepat karena mayoritas bank syariah saat ini merupakan cabang atau anak perusahaan bank konvensional. Tentunya bank konvensional sebagai induk hanya akan merestui perkembangan anaknya selama tidak mengganggu dirinya. Begitu bank konvensional merasa terusik oleh bank syariah anaknya, ia akan menghambat perkembangan si anak tanpa harus mematikannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengatasi hambatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelambatan pertumbuhan bank syariah bisa disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari berbagai kemungkinan sebab di atas. Bank syariah dapat kembali tumbuh cepat jika hambatan-hambatan tersebut diatasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sisi bank syariah sendiri, mereka harus merombak desain produk dan cara kerja agar masyarakat dapat dengan jelas melihat perbedaan mereka dengan bank konvensional. Perbedaan yang paling jelas dapat dilihat adalah jika bank syariah menggunakan akad bagi hasil dalam pembiayaan produktif mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad jual beli hanya digunakan untuk pembiayaan konsumtif, namun praktiknya harus diperbaiki sehingga bank syariah berlaku sebagaimana penjual, bukan kreditor. Sebagai penjual, bank syariah harus bisa menyebutkan barang apa yang ia jual dan melakukan sendiri pembelian barang dagangnya, bukan diwakilkan lagi ke pembeli sehingga kelihatan menyiasati akad untuk mensyariahkan praktik kredit konvensional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kondisi likuiditas bank syariah kini sudah membaik karena sejak pertengahan 2008 tersedia SBI Syariah dan Sukuk Negara sebagai instrumen investasi yang likuid. Di sisi lain, persoalan aturan kehati-hatian nampaknya belum akan diperbaiki dalam waktu dekat. Karenanya, bank syariah masih terdorong untuk lebih mengembangkan pembiayaan jual beli yang berisiko lebih kecil daripada pembiayaan bagi hasil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak 2008, beberapa unit usaha syariah sudah dilepaskan (spin off) menjadi bank umum syariah. Pelepasan ini sudah merupakan langkah maju karena bank syariah tersebut akan lebih bebas mengelola dan bersaing dengan bank induknya. Namun sebagaimana telah disampaikan, kepemilikan bank induk ke bank syariah baru hasil pelepasan ini berpotensi tetap menyisakan kendali dari bank induk, sehingga perkembangan bank syariah baru ini tidak bisa maksimal. Walau demikian kita masih bisa berharap banyak karena sudah ada contoh sebelumnya di mana bank umum syariah hasil pelepasan bisa berkembang pesat, jauh melebihi cabang-cabang syariah bank konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terobosan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hambatan hilang, bank syariah bisa tumbuh lebih cepat, namun mungkin belum cukup cepat. Perlu langkah-langkah terobosan yang bisa semakin mempercepat pertumbuhan bank syariah.  Pertama, pemain baru perlu didatangkan untuk mendirikan bank syariah di Indonesia.  Kedua, bank konvensional bisa dikonversi seutuhnya menjadi bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank syariah baru yang tidak lahir dari induk konvensional berpotensi untuk tumbuh lebih cepat dan lebih progresif dalam menerapkan prinsip-prinsip syariah pada produk perbankan. Pemerintah perlu melonggarkan syarat pendirian bank syariah dan membuka peluang lebar-lebar bagi investor domestik maupun asing yang berniat mendirikan bank syariah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga bisa intervensi langsung dengan mendirikan BUMN bank syariah. Langkah ini tidak tabu diambil pemerintah, walau nampak bertentangan dengan arus privatisasi. Perkembangan industri keuangan di negara berkembang seringkali harus diinisiasi oleh pemerintah. Faktanya, sebagian besar bank konvensional besar saat ini pada awalnya merupakan BUMN yang kemudian diprivatisasi. Bank syariah bentukan pemerintah inipun suatu saat bisa diprivatisasi, jika perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala intervensi yang lebih besar dapat dilakukan pemerintah dengan mengharuskan bank konvensional untuk beralih sepenuhnya menjadi bank syariah. Intervensi besar ini bukan sebuah langkah gegabah, namun dilandasi untuk menjaga kepentingan publik. &lt;br /&gt;Perbankan konvensional mengandung risiko besar terkena krisis. Negara dan masyarakat mengeluarkan biaya besar untuk mencegah terjadinya krisis ini, yakni dengan melakukan penjaminan simpanan. Biaya jauh lebih besar akan ditanggung masyarakat jika krisis benar-benar terjadi. Pengalaman krisis perbankan tahun 1997 telah menelan biaya ratusan triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkonversi sepenuhnya perbankan konvensional menjadi perbankan syariah meniadakan kebutuhan biaya tersebut. Penyesuaian otomatis sisi kewajiban terhadap sisi aset membuat bank syariah terhindar dari risiko gagal bayar (default) pada penabung.&lt;br /&gt;Sudah menjadi sifat industri keuangan bahwa bentuk dan perkembangannya sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Bentuk industri keuangan saat ini adalah buah dari kebijakan di masa lalu yang dipertahankan hingga sekarang. Maka bukanlah sebuah keanehan jika pemerintah menata ulang kebijakan dan bentuk industri keuangan demi kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2276993437301534536?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2276993437301534536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2276993437301534536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2276993437301534536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2276993437301534536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/11/memacu-pertumbuhan-bank-syariah.html' title='Memacu Pertumbuhan Bank Syariah'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6867692068753196861</id><published>2009-09-07T19:10:00.003-04:00</published><updated>2009-09-07T19:32:07.088-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SDA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Stop Bagi Hasil Sumber Daya Alam</title><content type='html'>Publik memiliki opini sangat kuat bahwa pihak asing telah mengeruk keuntungan besar dari sumber daya alam Indonesia, dari emas kuning sampai "emas hitam". SBY berbangga diri karena berhasil meningkatkan bagian pemerintah dari sumber daya alam. Namun ada yang tidak disebutkan, bahwa bersamaan dengan peningkatan bagian pemerintah, pemerintah ikut menanggung sebagian biaya eksploitasi SDA tersebut. Jadi penerimaan bersih pemerintah dari SDA tidak akan jauh berbeda dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan sebenarnya terletak pada penggunaan sistem bagi hasil dalam kontrak karya dengan para penambang. Pendapatan pemerintah akan jauh lebih besar jika kontrak menggunakan sistem sewa jasa dan atau peralatan, di mana perusahaan penambang hanya menerima fee untuk jasa keahlian penambangan dan sewa fasilitas yang mereka bangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dapat memilih penambang yang menawarkan biaya termurah, produksi terbesar, dan pengelolaan lingkungan terbaik. Kontrak sewa ini bisa diakhiri dengan opsi pembelian fasilitas penambangan tersebut. Lebih jauh, kontrak dengan perusahaan asing bisa mensyaratkan transfer teknologi dan penggunaan tenaga ahli dalam negeri. Dengan demikian, setelah kontrak berakhir pemerintah bisa menjalankan sendiri fasilitas penambangan tersebut dan membangun baru di lokasi tambang lain. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6867692068753196861?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6867692068753196861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6867692068753196861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6867692068753196861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6867692068753196861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/09/stop-bagi-hasil-sumber-daya-alam.html' title='Stop Bagi Hasil Sumber Daya Alam'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2543935901664192673</id><published>2009-09-02T04:41:00.003-04:00</published><updated>2009-09-02T04:51:12.526-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiskal'/><title type='text'>Kemiripan Industri Farmasi dan Rokok</title><content type='html'>&lt;a href="http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/07/25/kebijakan-aneh/"&gt;Faisal Basri&lt;/a&gt; menilai aneh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.03/2009 tentang BIAYA PROMOSI DAN PENJUALAN YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO, yang diterapkan khusus pada industri rokok dan farmasi. Ia menilai bahwa industri rokok sebagai produsen &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bads&lt;/span&gt; pantas mendapat disinsentif untuk aktivitas promosinya, tetapi tidak demikian halnya dengan industri farmasi yang menghasilkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;goods&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, perusahaan farmasi memang pantas dikenai aturan tersebut. Perusahaan farmasi juga bisa terlalu jor-joran dalam promosi yang tidak memberi manfaat buat konsumen.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan farmasi menghasilkan produk obat dan non-obat. Produk non obat seperti minuman suplemen. Produk obat ada yang dijual bebas dan ada yang harus dengan resep dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Promosi jor-joran produk farmasi yang dijual bebas kita dapati di media massa. Dan jangan dikira produk farmasi ini tidak berbahaya ketika dikonsumsi berlebihan. Sehingga promo produk seperti ini juga patut dikekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara promosi produk yang tidak dijual bebas walau tidak diketahui publik, namun lumayan jor-joran juga, biasanya untuk memberi insentif pada dokter pemberi resep. Model promo seperti ini pun perlu dikekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen hanya butuh promo yang informatif, bukan yang memanipulasi apalagi merugikan mereka. Regulasi apapun yang bisa mengendalikan promo jenis kedua perlu kita dukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2543935901664192673?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2543935901664192673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2543935901664192673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2543935901664192673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2543935901664192673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/09/kemiripan-industri-farmasi-dan-rokok.html' title='Kemiripan Industri Farmasi dan Rokok'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-8313333849300553015</id><published>2009-07-02T02:40:00.005-04:00</published><updated>2009-07-02T03:03:37.679-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiskal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Ketika Pemerintah Tidak Melindungi Masyarakat</title><content type='html'>Tadi malam saya berbincang dengan teman sejak SMP yang wiraswastawan sekaligus menjadi CPNS. Ia baru saja menjadi CPNS bulan Maret lalu, sedangkan wiraswasta sudah dilakoninya sejak lulus kuliah tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan masa sulitnya sebagai wiraswasta di mana pendapatannya mengalami naik turun secara drastik. Bisnisnya mengalami penurunan tepat setelah ia menikah. Saat kelahiran anaknya merupakan titik terendah kondisi ekonominya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempat mengalami kebingungan luar biasa ketika ada indikasi anaknya harus dilahirkan dengan operasi. Ia tidak memiliki cukup uang untuk operasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya berusaha memperoleh Askeskin, namun ia tidak terkategori sebagai keluarga miskin. Mungkin ia belum miskin saat itu, namun biaya operasi akan membuatnya benar-benar menjadi miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, anaknya akhirnya lahir secara normal. Teman saya selamat, tidak jadi jatuh miskin. Bahkan setelah itu ia mengalami perbaikan taraf ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya mengambil pelajaran dari peristiwa itu bahwa ia butuh proteksi atas kebutuhan-kebutuhan keuangan yang mendesak. Ia mengeluh bahwa pemerintah tidak memberikan proteksi bagi keluarga sedikit di atas kemiskinan sepertinya. Sementara, kebanyakan asuransi swasta ditujukan pada kelompok menengah ke atas. Akhirnya, ia mendapatkan skema asuransi yang terjangkau baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memandang bahwa dalam tataran ideal, perlindungan disediakan oleh Pemerintah bagi seluruh masyarakat. Namun jika kenyataan Pemerintah belum mampu menyediakan perlindungan tersebut, apa strategi terbaik berikutnya untuk memberikan perlindungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebenarnya menyediakan perlindungan ini berdasarkan hubungan waris. Ahli waris tidak hanya berhak atas kekayaan orang yang diwarisi, namun juga berkewajiban menanggung utang dan penghidupan orang yang diwarisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, perlindungan berdasarkan hubungan waris merupakan cara terakhir individu menghadapi risiko ekonomi. Seseorang akan berusaha sebisanya agar masalahnya jangan sampai membebani ahli warisnya. Apa yang bisa ia lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-8313333849300553015?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/8313333849300553015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=8313333849300553015' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8313333849300553015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8313333849300553015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/07/ketika-pemerintah-tidak-melindungi.html' title='Ketika Pemerintah Tidak Melindungi Masyarakat'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1716405017128528957</id><published>2009-06-02T04:03:00.015-04:00</published><updated>2009-06-03T22:34:13.653-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbankan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><title type='text'>Dilema Bail Out Bank</title><content type='html'>Sistem perbankan cadangan parsial mengandung risiko inheren untuk terkena krisis. Tiap kali ada bank bangkrut, negara harus merugi untuk menalangi bank membayar penabung. Krisis perbankan tahun 1997 membebani negara dengan kerugian 400-an triliun. Kini kita punya &lt;a href="http://www.detikfinance.com/read/2009/06/02/141548/1141395/5/aset-aset-bank-century-harus-terus-dikejar"&gt;Bank Century&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada industri yang kerugiannya ditalangi oleh negara kecuali perbankan. Alasan yang sering dikemukakan adalah penyelamatan perbankan ini perlu untuk mencegah krisis lebih luas. Benarkah krisis akan semakin parah jika bank tidak diselamatkan?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Milton Friedman mengungkapkan bahwa sebelum adanya bank sentral (Federal Reserve Bank) telah sering terjadi krisis perbankan di AS. Namun, perbankan dan perekonomian selalu dapat bangkit kembali walau tidak ada bantuan dari pemerintah AS ke perbankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada tahun 1997 tutupnya dan atau penutupan 16 bank telah mengakibatkan penarikan dana besar-besaran di seluruh bank. Jika masalah ini dibiarkan, bank akan tutup dan tidak mampu menyalurkan kredit yang mendukung produksi maupun konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, tutupnya bank membawa masalah kemandekan ekonomi. Sementara mempertahankan bank-bank tersebut juga membawa masalah yakni membebankan kerugian pada anggaran negara. Ekonom di pemerintahan memastikan bahwa masalah pertama jauh lebih besar daripada masalah kedua. Kerugian yang ditanggung negara merupakan biaya yang harus ditanggung untuk mencegah krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loh, bank yang buat masalah kok negara yang nanggung ruginya? Ganjalan di hati ini bukan sekedar emosional. Memang ada yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelirunya di desain produk tabungan perbankan. Bank menjamin 100 persen dana nasabah, plus bunganya, aman dan bisa diambil sewaktu-waktu. Padahal, hanya sekian persen dari dana tersebut yang disimpan bank, sebagian besar disalurkan ke kredit yang berisiko. Kalau nilai kredit macet melebihi modal bank, pastilah dana nasabah ikut tertahan. Inilah kekeliruan pertama, bank menjanjikan keamanan dan keutuhan dana, padahal tidak selamanya dapat ia sanggupi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank dan pemerintah tahu bahwa bank tidak benar-benar bisa menjamin 100 persen dana tabungan. Nasabah pun sekarang sudah banyak yang tahu fakta ini. Untuk mencegah nasabah yang tahu ini menarik tabungan, ganti pemerintah yang menjadi penjamin dana tabungan, lewat lembaga penjamin simpanan (LPS). Inilah kekeliruan kedua, pemerintah mmenjamin uang yang tidak ia kelola, bank yang pegang uang justru lepas tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan kedua dilandasi tekad untuk mencegah krisis akibat kekeliruan pertama. Karenanya, kekeliruan pertama inilah yang sebenarnya perlu dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepantasnya bank menjanjikan sesuatu yang tidak mampu ia pegang. Bank  tidak perlu menjamin keutuhan dana nasabah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasabah harus sadar bahwa tidak ada tempat menyimpan uang yang aman 100%. Uang nasabah di rumah bisa hilang, bisa dirampok, ikut ludes dalam kebakaran, dll. Uang di bank selain juga bisa hilang karena faktor yang sama, juga bisa hilang karena risiko penyaluran ke kredit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasabah tahu uangnya disalurkan menjadi kredit, kalau tidak darimana bank bisa dapat uang untuk membayar bunga/bagi hasil. Kalau sudah tahu, mestinya mereka juga bisa menerima jika uangnya tidak bisa diambil sewaktu-waktu dan bisa tidak kembali utuh kalau terjadi kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau nasabah penabung ditawari perjanjian yang realistis, yang benar-benar bisa dipenuhi bank, maka bank tidak perlu repot untuk mencari talangan uang untuk mengembalikan dana nasabah. Pemerintah juga tidak perlu lagi membantu menalangi bank.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1716405017128528957?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1716405017128528957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1716405017128528957' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1716405017128528957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1716405017128528957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/06/dilema-bail-out-bank.html' title='Dilema Bail Out Bank'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-3529044568797791085</id><published>2009-05-29T11:22:00.008-04:00</published><updated>2009-06-03T22:35:41.778-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Peran Pasar dan Negara: Inti Debat Neoliberal vs Ekonomi Kerakyatan</title><content type='html'>Kemarin malam, saya menonton diskusi tentang ekonomi kerakyatan di TVRI yang menghadirkan cawapres Prabowo. Satu ungkapan Prabowo yang terngiang cukup keras adalah bahwa pemerintah tidak boleh hanya jadi wasit,  namun harus campur tangan langsung untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi. Bentuknya antara lain adalah pemberdayaan BUMN untuk menggerakkan ekonomi, membalikkan arus privatisasi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda setuju? Perlu diingat bahwa kebijakan privatisasi diambil tidak hanya karena desakan IMF, tanpa rasionalisasi sama sekali. BUMN telah lama dikenal sebagai sapi perah bukan hanya penguasa, namun juga swasta yang bermitra dengannya. Kabarnya banyak BUMN merugi karena inefisiensi pengelolaan maupun kebocoran yang tidak ada kaitannya dengan operasional BUMN. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau BUMN sudah rugi, pada akhirnya pemerintah juga yang diminta menutupi kerugian tersebut dengan anggaran negara. Uang yang semestinya bisa digunakan untuk kemanfaatan rakyat justru digunakan untuk mensubsidi BUMN yang dikelola dengan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Privatisasi dianjurkan untuk mengobati BUMN bermasalah seperti ini. Kepemilikan swasta diharapkan dapat menegakkan disiplin pengelolaan. Jika inefisiensi terjadi lagi, pasar akan meresponnya dengan kejatuhan harga saham. Kerugian tidak akan ditolerir oleh pemilik swasta. Pemilik swasta merasa lebih baik melikuidasi perusahaan yang rugi terus-menerus. Likuidasi ini bagi manajemen dan karyawan berarti kehilangan pekerjaan. Karenanya, mereka akan berusaha mencegah jangan sampai perusahaan merugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, tujuan baik privatisasi disalahgunakan oleh oportunis asing maupun domestik. Dengan menumpangi privatisasi, pemodal asing mengambil alih BUMN dari tangan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mending jika BUMN yang dibeli memang perusahaan yang selama ini merugi. Kenyataannya, BUMN yang dijual justru yang selama ini berkinerja cukup bagus dan memiliki prospek yang sangat baik. Pola ini paling nampak dalam kasus privatisasi Indosat dan Telkomsel. Kedua BUMN ini memimpin pasar oligopolis pada sektor telekomunikasi yang mengalami pertumbuhan tercepat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan privatisasi juga disebabkan metode pengalihan saham dengan menjualnya pada investor strategis. Pemilihan investor strategis sangat tidak transparan dan rawan korupsi. Metode penjualan di bursa saham jauh lebih transparan dan memastikan adanya disiplin pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah saat itu beralasan bahwa pemilihan investor strategis akan memastikan terjadinya transfer teknologi dari investor strategis ke BUMN yang diprivatisasi. Masalahnya, tidak ada ukuran dan cara evaluasi yang pasti untuk mengetahui apakah transfer teknologi tersebut benar-benar terjadi pasca pengalihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan privatisasi di Indonesia dikontribusi sebagian oleh proses penyelenggaraan negara yang buruk. Kegagalan pengelolaan BUMN juga disebabkan buruknya penyelenggaraan negara. Masalah  terjadi dengan atau tanpa privatisasi, karena sumber masalahnya bukan pada privatisasi, melainkan pada kegagalan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar di mana pelakunya mengejar kepentingan diri masing-masing memang tidak bisa menjamin pemerataan. Di sisi lain, kita punya negara yang tidak bisa diandalkan. Seperti kampanye Ronald Reagan, "the state is not the solution, the state is the problem".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabowo menyadari hal ini di tengah pemaparan usulannya mengenai penggunaan BUMN sebagai penggerak ekonomi dengan menyebut bahwa memang selama ini belum sempurna namun bisa diperbaiki. Pengertian "belum sempurna" ini yang sering luput dari pendukung liberalisasi. Kebelumsempurnaan mencerminkan adanya manfaat, walaupun tidak sepenuhnya sesuai harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pemerataan seperti BLT dan program pemberdayaan lain memang belum mampu mewujudkan tujuan pengentasan kemiskinan, namun bukannya tanpa guna. Pengendalian harga bahan pokok oleh BULOG mungkin tidak sepenuhnya efektif dan banyak kebocoran, namun tanpa BULOG harga bahan pokok jauh lebih tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah yang perlu diterapkan adalah, "kalau tidak dapat semua, jangan dibuang semua". Intervensi negara dalam setiap ranah kehidupan selalu diwarnai ketidaksempurnaan, namun tanpa intervensi tersebut banyak ketidakadilan dan ketelantaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi memang menghambat pencapaian kesejahteraan, namun eksistensi korupsi tidak menihilkan kemampuan pemerintah untuk memajukan kesejahteraan rakyat. China dan India adalah contoh negara yang tumbuh cepat walau korupsi masih dipraktikkan secara luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberantasan korupsi dan intervensi pemerintah dalam ekonomi adalah dua masalah yang berbeda dan dapat dijalankan secara paralel. Walau pemberantasan korupsi belum selesai, intervensi pemerintah dalam ekonomi tetap dapat berjalan dan memberikan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian kita memang memerlukan penyesuaian struktural agar fundamen lebih kokoh. Namun penyesuaian tersebut harus dijalankan secara pelan dan bertahap, sambil memperhatikan dampak-dampak yang tidak diinginkan. Penyesuaian tergesa-gesa yang dipaksakan oleh IMF dan ditunggangi banyak kepentingan justru membawa masalah yang bisa jadi lebih besar daripada masalah asal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-3529044568797791085?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/3529044568797791085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=3529044568797791085' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3529044568797791085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3529044568797791085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/05/peran-pasar-dan-negara-inti-debat.html' title='Peran Pasar dan Negara: Inti Debat Neoliberal vs Ekonomi Kerakyatan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1857695381638128527</id><published>2009-05-28T12:40:00.007-04:00</published><updated>2009-06-03T22:36:09.638-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><title type='text'>Pelajaran dari Ekonomi Rakyat untuk Ekonomi Islam</title><content type='html'>Ekonomi rakyat belum dapat dianggap sebagai disiplin ilmu. Namun terlalu meremehkan jika menganggapnya hanya sebagai jargon politik. Paling tepat, ekonomi rakyat ini dikategorikan sebagai sebuah paham atau strategi pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan keberpihakan yang amat kentara, hingga dicerminkan dalam namanya, ekonomi rakyat ini mudah memperoleh dukungan dari masyarakat. Sayangnya, konsep ekonomi rakyat sendiri belum terlalu jelas. Literatur yang membahas konsep ekonomi rakyat sangat sulit diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika konsep orisinil tidak ada, maka cara paling mudah untuk memperkenalkan ekonomi rakyat ke masyarakat adalah dengan melakukan kritik pada konsep ekonomi lain Maka diambillah neoliberalisme sebagai sasaran kritik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan ekonomi rakyat marak mendekati pilpres ini karena dua fakor: &lt;br /&gt;1. Ekonomi rakyat diusung oleh Prabowo sebagai materi kampanye&lt;br /&gt;2. Salah satu pasangan capres-cawapres disinyalir sebagai neolib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan ekonomi kerakyatan, literatur ekonomi Islam jauh lebih berkembang dan banyak. Tapi mengapa ekonomi Islam tidak mampu menembus debat Pilpres 2009?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tidak ada parpol yang mau membawa ekonomi syariah, meskipun parpol Islam. Sepertinya, parpol Islam walau sudah menyatakan diri sebagai parpol Islam masih ragu untuk secara tegas membawa ide-ide Islam dalam aspek hukum formal dan tata ekonomi. Parpol Islam perlu menyadari bahwa pemilu dan pilpres justru merupakan momen yang tepat untuk menjual ide-ide tersebut. Rumus suksesnya, kritik sistem yang berlaku dan berikan argumen yang kuat mengapa sistem yang ditawarkan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ekonomi Islam selama ini lebih banyak dikemas dalam label kepatuhan terhadap syariat Islam, bukan pada prospeknya untuk membawa kesejahteraan pada masyarakat. Padahal, mayoritas masyarakat lebih peduli pada isu kedua, bukan isu pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perkembangan dan fokus kajian ekonomi Islam lebih banyak pada keuangan Islam yang tidak nampak perbedaannya dalam praktik maupun dampak. Apa yang nampak dari keuangan Islam, yakni lembaga-lembaga keuangan Islam, dianggap identik dengan ekonomi Islam. Ketika lembaga keuangan Islam tidak memperoleh simpati masyarakat, maka citra ekonomi Islam ikut terimbas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1857695381638128527?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1857695381638128527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1857695381638128527' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1857695381638128527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1857695381638128527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/05/pelajaran-dari-ekonomi-rakyat-untuk.html' title='Pelajaran dari Ekonomi Rakyat untuk Ekonomi Islam'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-3553536792573841213</id><published>2009-05-16T05:16:00.002-04:00</published><updated>2009-06-03T22:36:25.202-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Mencari Pengganti Dolar</title><content type='html'>(dimuat di &lt;a href="http://republika.co.id/koran/24/50625/Mencari_Pengganti_Dolar"&gt;Republika, 16 Mei 2009&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah mulai mengurangi ketergantungan pada dolar dan meragamkan mata uang basis transaksi internasional (Republika, 25/3). Harapannya, ekonomi domestik akan terhindar dari risiko ketidakstabilan mata uang basis transaksi. Kebijakan ini memiliki kelemahan, yakni berkurangnya fleksibilitas penggunaan devisa untuk keperluan transaksi dengan berbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pada dasarnya, uang berfungsi sebagai alat perantara pertukaran barang dan jasa. Barang apa pun bisa menjadi uang selama diterima oleh pihak-pihak yang bertransaksi. Pada skala individu, akan jauh lebih mudah bagi seseorang untuk menggunakan satu jenis uang saja yang diterima oleh semua mitra transaksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama berlaku pada skala makro. Negara-negara mudah untuk saling bertransaksi jika mereka memiliki satu alat pembayaran yang disepakati. Karena itu, kita dapat melihat, sepanjang sejarah, negara-negara selalu memiliki satu mata uang yang diterima oleh semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya ragam mata uang transaksi berpotensi menghambat perdagangan dan transaksi internasional lainnya. Dapat terjadi ketidaksesuaian di pasar antara mata uang yang kelebihan penawaran dan mata uang yang kelebihan permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata uang negara yang neraca perdagangannya defisit cenderung kelebihan permintaan. Sebaliknya, mata uang yang neraca perdagangannya positif cenderung kelebihan pasokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem alat pembayaran internasional tunggal, defisit kita dengan suatu negara dapat dibayar dengan surplus kita dari negara lain. Jika pemerintah jadi mengadopsi rencana peragaman mata uang, transaksi internasional dan pertumbuhan ekonomi akan terhambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mata uang tunggal tidak bisa memfasilitasi perdagangan dengan baik jika nilainya tidak menentu. Dolar kini sulit diandalkan kestabilannya karena situasi dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih tidak menentu. Dulu, dolar menguat karena penarikan dana lembaga-lembaga keuangan asing. Ke depan, dolar cenderung melemah dengan adanya penerbitan baru dolar dalam jumlah besar untuk membiayai defisit anggaran AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak negara mulai mengalihkan devisanya ke euro. Untuk saat ini, euro mungkin pilihan yang lebih baik daripada dolar. Tetapi, suatu saat, krisis ekonomi juga bisa melanda Uni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita cukup sekadar mengganti mata uang basis transaksi internasional setiap kali negara penerbit mata uang tersebut mengalami krisis? Penggantian mata uang internasional bukannya tanpa biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat konversi terjadi, mata uang lama akan terdepresiasi karena pasokannya membludak tiba-tiba. Sebaliknya, mata uang baru akan terapresiasi karena permintaan meningkat pesat. Negara yang telah menumpukkan cadangan devisa dalam mata uang lama akan rugi karena nilainya turun jika diukur dengan mata uang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mata uang internasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dolar AS disepakati menjadi mata uang internasional pada konferensi Bretton Woods di bulan Juli 1944. Pemilihan dolar AS merupakan pertengahan antara sistem nilai tukar mengambang yang penuh ketidakpastian dan menghambat perdagangan internasional dengan standar emas yang terlalu restriktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem ini, negara-negara sepakat untuk mematok nilai tukar mata uangnya terhadap dolar AS. Di sisi lain, Amerika Serikat menjamin konvertibilitas dolar terhadap emas yang waktu itu pada level 35 dolar AS per ons emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Triffin (1960) menangkap dilema yang dihadapi oleh AS dengan sistem ini. Ia berpendapat bahwa mata uang suatu negara tidak dapat bertahan sebagai alat pembayaran internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS harus terus mengalami defisit neraca perdagangan untuk memenuhi kebutuhan dolar masyarakat internasional. Di sisi lain, meningkatnya pasokan dolar di luar negeri melemahkan nilai tukar dolar AS terhadap emas di negara lain. Selisih ini mendorong arus keluarnya emas besar-besaran dari AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Agustus 1971, Pemerintah AS di bawah presiden Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas. Akibatnya, nilai tukar dolar terhadap emas dan komoditas lain merosot. Negara lain terpaksa memutuskan patokan nilai tukar mata uang mereka ke dolar untuk mencegah penularan inflasi AS ke perekonomian domestik. Sejak saat itu, sistem nilai tukar dunia kembali ke rezim mengambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah tidak lagi menjadi patokan, dolar AS tetap menjadi mata uang utama transaksi internasional dan komponen mayoritas cadangan devisa semua negara. Hal ini disebabkan transaksi internasional sudah terbiasa dinilai dan dibayar dengan dolar. Selain itu, dengan skala ekonominya yang besar, AS masih menjadi mitra dagang utama sebagian besar negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis AS saat ini mengurangi kemenarikan dolar sebagai mata uang internasional. Nilai tukar dolar AS terus berfluktuasi mengikuti perkembangan situasi krisis dan upaya pemulihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kembali ke emas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berabad-abad, negara-negara di dunia saling bertransaksi dengan menggunakan emas sebagai alat pembayaran. Sekalipun menggunakan uang kertas, pemerintah negara penerbitnya menjamin uang kertas tersebut dapat ditukarkan dengan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah penerapan standar emas, inflasi tinggi jarang terjadi. Inflasi terjadi hanya sewaktu ditemukan sumber emas baru. Secara umum, tingkat produksi emas stabil sehingga jarang terjadi kejutan harga.&lt;br /&gt;Penentangan pada standar emas datang dari ekonom penganjur intervensi pemerintah, terutama dari aliran Keynesian. Menurut mereka, standar emas membatasi ruang gerak pemerintah dalam melakukan intervensi. Terutama, dalam situasi resesi, pemerintah perlu mendorong permintaan dengan memasok lebih banyak uang. Mereka juga mengajukan fakta bahwa negara yang lebih dulu meninggalkan standar emas mengalami pemulihan dari depresi besar dengan lebih cepat daripada negara yang belakangan meninggalkan standar emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonom Austrian, dengan tokoh utama Mises dan Hayek, memandang sebab depresi besar dari sisi berbeda. Mereka berpendapat bahwa depresi besar merupakan konsekuensi siklus yang tak terhindarkan setelah ekspansi moneter besar sepanjang Perang Dunia I. Mereka justru menganjurkan kembali ke standar emas untuk mencegah pemerintah mencetak uang tanpa kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alternatif lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keynes sendiri memiliki usulan alternatif mata uang internasional yang disebut dengan bancor. Bancor merupakan mata uang internasional yang nilainya ditetapkan dalam 30 macam komoditas, termasuk emas. Dengan demikian, harga komoditas-komoditas tersebut dalam satuan bancor akan stabil. Usulan Keynes ini tidak pernah direalisasikan sehingga kita tidak bisa mengevaluasi keberhasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya pada 23 Maret lalu, Gubernur Bank Rakyat China, Zhou Xiaochuan, menyebutkan, gagasan bancor dari Keynes ini berpandangan jauh ke depan. Mengadopsi gagasan bancor, Zhou mengusulkan pengadopsian Special Drawing Right (SDR) IMF sebagai mata uang internasional. Ia berargumen, karena SDR tidak diterbitkan oleh satu negara, mata uang ini akan terhindar dari dilema Triffin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emas dan bancor ala Keynes atau Zhou sama-sama terhindar dari dilema Triffin. Bancor memiliki keunggulan fleksibilitas pasokan dibandingkan emas. Akan tetapi, produksi bancor yang teregulasi akan tetap menghadapi risiko digunakan untuk kepentingan pihak yang berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, pemilihan mata uang internasional tidak dapat menjadi keputusan sepihak satu negara. Penetapan mata uang internasional harus melalui koordinasi dan kesepakatan antarnegara. Pemerintah Indonesia perlu memanfaatkan forum G20 untuk mengusulkan penataan ulang sistem moneter internasional. Satu hal yang pasti, Indonesia telah memiliki banyak pengalaman buruk dengan dolar.&lt;br /&gt;&lt;/span class&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-3553536792573841213?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/3553536792573841213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=3553536792573841213' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3553536792573841213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3553536792573841213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/03/mencari-pengganti-dolar.html' title='Mencari Pengganti Dolar'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2678851614533184160</id><published>2009-05-11T05:31:00.005-04:00</published><updated>2009-06-03T22:43:31.724-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Kemandirian Mikro vs Makro</title><content type='html'>Ada cerita menarik tentang pembangunan Singapura yang dilontarkan oleh seorang audien dalam seminar yang diselenggarakan National Press Center Indonesia bertajuk "Kemandirian untuk Kesejahteraan Bangsa" di FE Universitas Airlangga hari ini. Audien tersebut menyampaikan penuturan Lee Kuan Yew mengenai strategi pembangunan Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat, Lee Kuan Yew menuturkan bahwa pada saat Singapore baru merdeka, ia menargetkan bahwa dalam 10 tahun Singapore harus bebas pengangguran. Maka kemudian ia menempuh jalan apapun yang dapat mewujudkan target ini. Investasi asing diundang dengan agresif, yakni dengan memberi tax holiday hingga 10 tahun dan pengurusan perijinan investasi selesai hanya dalam 1 hari. Hasilnya, nol pengangguran tercapai tidak sampai 10 tahun, melainkan hanya dalam 4 tahun! Bahkan, Singapore setelah itu harus mengimpor tenaga kerja asing untuk menutupi kekurangan tenaga kerja lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target berikutnya adalah meningkatkan penghasilan pekerja. Target ini dicapai dengan meningkatkan industri capital-intensive dan mengurangi industri labor-intensive. Industri capital-intensive adalah industri dengan produktivitas per tenaga kerja yang tinggi, karenanya ia mampu menggaji tinggi pekerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan cerita tersebut dengan kemandirian? Saya menangkap bahwa kemandirian yang dikejar Singapore adalah kemandirian pada level individu, dengan mengesampingkan ego kemandirian pada level makro.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pekerjaan adalah sarana individu memperoleh kemandirian. Dengan terbebas dari menggantungkan diri secara ekonomi pada orang lain, individu bebas menentukan pilihan sendiri pada ranah nilai, sosial, maupun politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Singapore mengorbankan kemandirian pada level makro dengan membuka pintu investasi selebar-lebarnya pada pemodal asing. Mungkin Singapore tidak melihat adanya esensi penting dari kemandirian pada level makro ini, atau maksimal kalah penting daripada kemandirian level individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Indonesia, kemandirian mikro masih sangat memprihatinkan. BPS mencatat bahwa tingkat pengangguran pada Agustus 2007 masih berada pada level 9,11 persen. Padahal, kita tidak mengalami krisis parah seperti Amerika Serikat yang baru mencapai tingkat pengangguran 8,9 persen pada April 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gambaran kemandirian mikro yang buruk seperti ini, masih perlukah kita mempertahankan kemandirian makro, misal dengan tidak menyetujui liberalisasi investasi asing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen utama penentang liberalisasi investasi asing ada dua: bahwa investasi asing menyerap surplus lebih besar daripada dana yang ditanamkan, dan; bahwa investasi asing mengeruk sumber daya alam dengan memberikan pendapatan yang tidak sebanding. Dua proposisi tersebut perlu diuji secara empirik. Ada yang berminat mengujinya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2678851614533184160?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2678851614533184160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2678851614533184160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2678851614533184160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2678851614533184160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/05/kemandirian-mikro-vs-makro.html' title='Kemandirian Mikro vs Makro'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-4472971842525229338</id><published>2009-04-04T23:17:00.001-04:00</published><updated>2009-04-04T23:23:21.795-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketenagakerjaan'/><title type='text'>Regulasi Outsource Diskriminatif</title><content type='html'>Pada dasarnya, outsourcing merupakan spesialisasi kerja yang meningkatkan efisiensi produksi. Secara makro, output nasional dan kesejahteraan masyarakat bisa meningkat karena outsourcing ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan terletak pada regulasi yang mendiskriminasi pekerja outsourcing dengan pekerja tetap. Pekerja tetap berhak mendapatkan perlindungan dan pesangon, sementara pekerja outsource tidak mendapatkannya. Perbedaan standar kesejahteraan ini menjadi celah regulasi yang dimanfaatkan perusahaan untuk menghemat biaya tenaga kerja. Perusahaan tidak lagi melakukan outsource untuk tujuan spesialisasi, melainkan untuk menghindar dari kewajiban menjamin kesejahteraan pekerja tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika motif penghindaran ini mendistorsi keputusan perusahaan dalam mengelola tenaga kerja, yakni perusahaan merekrut tenaga outsource yang berkinerja lebih buruk daripada pekerja tetap, maka dampaknya justru menurunkan efisiensi dan kualitas output perusahaan.Ini bukan salah outsource, tapi salah regulasi yang diskriminatif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-4472971842525229338?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/4472971842525229338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=4472971842525229338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4472971842525229338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4472971842525229338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/04/regulasi-outsource-diskriminatif.html' title='Regulasi Outsource Diskriminatif'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-389010436783630622</id><published>2009-03-02T22:49:00.003-05:00</published><updated>2009-06-03T22:45:37.221-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><title type='text'>Risiko Pembiayaan Likuiditas Bank Syariah</title><content type='html'>(dimuat di &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran/24/34994/Risiko_Pembiayaan_Likuiditas_Bank_Syariah"&gt;Republika, 3 Maret 2009&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 Desember 2008 lalu, BI menerbitkan dua aturan mengenai instrumen moneter syariah, yakni Peraturan BI No 10/36/PBI/2008 tentang Operasi Moneter Syariah dan Surat Edaran BI No 10/44/DPM tentang Tatacara Repo Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Jika dilihat dari timing-nya, penerbitan dua aturan tersebut tampaknya berkaitan dengan kesulitan likuiditas bank syariah di akhir 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan likuiditas bank syariah ditandai oleh volume transaksi PUAS yang cenderung meningkat dan SWBI yang cenderung menurun di akhir 2008. Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (FDR) perbankan syariah yang bergerak di sekitar angka 100 persen membuat mereka rawan krisis ketika terjadi penarikan simpanan secara serentak dan dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bank Indonesia menyediakan fasilitas likuiditas bagi perbankan syariah melalui transaksi repo yang berdasarkan akad jual (al-ba'i) dan dilanjutkan dengan janji (al-wa'd) untuk membeli kembali. Perbankan syariah dapat menjual SBSN kepada BI untuk memperoleh likuiditas yang dibutuhkan. Kemudian, bank syariah berjanji untuk membeli kembali surat berharga tersebut pada waktu yang ditentukan. Selain itu, fasilitas repo ini mengenakan biaya sebesar BI rate plus satu persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan transaksi repo dan BI rate sebagai acuan biaya tentu akan mengundang kontroversi tentang legalitasnya secara syariah. Tampaknya, kecemasan terhadap potensi krisis perbankan syariah membuat penerbitan aturan operasi moneter syariah dilakukan sebelum kajian terhadap kesyariahan dan efektivitas instrumen benar-benar matang. Namun, tulisan ini akan membatasi pembahasan pada sisi dampak ekonominya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Risiko Kerugian Spread&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik niatan untuk membantu bank syariah yang kesulitan likuiditas, fasilitas pembiayaan BI justru berisiko menjadi petaka bagi bank syariah. Dalam situasi perbankan mengalami pelarian uang, BI cenderung menerapkan kebijakan suku bunga tinggi. Biaya fasilitas likuiditas BI dapat melebihi pendapatan bank syariah dari pembiayaan. Bank syariah akan mengalami kerugian yang secara konsep ekuivalen dengan negative spread pada perbankan konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi ini, bank syariah cenderung menderita kerugian spread lebih besar dari bank konvensional. Perbankan konvensional mampu menyesuaikan bunga kredit mereka dengan kebijakan bunga BI sehingga mereka dapat mencegah atau meminimalkan negative spread. Sementara, bank syariah tidak memiliki fleksibilitas seperti itu. Bank syariah terikat akad dengan nasabah pembiayaan dan tidak dapat mengubahnya tanpa persetujuan pihak nasabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank syariah mungkin masih dapat menegosiasikan perubahan rasio pembagian laba dengan nasabah pembiayaan mudarobah dan musyarokah. Namun, pada pembiayaan murabahah, yang merupakan komponen terbesar pembiayaan perbankan syariah di Indonesia maupun di dunia, harga barang yang dibiayai dan margin laba bank syariah sudah tidak dapat diubah sekali kesepakatan dan angsuran pembayaran dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Basis Mudhorobah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan kerugian spread pada bank syariah berasal dari ketidaksimetrisan antara hak imbal dari penyaluran dan kewajiban imbal pada sumber dana. Bank syariah mendapatkan imbal variabel dari penyaluran dana, tetapi harus membayarkan imbal atau biaya tetap pada BI sebagai sumber dana. Agar terhindar dari kemungkinan kerugian spread itu, pembiayaan likuiditas BI seharusnya juga memungut biaya atau imbal variabel sesuai dengan perubahan pendapatan bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad mudhorobah merupakan landasan yang lebih tepat bagi pembiayaan likuiditas BI jika ditinjau dari tiga hal. Pertama, dana dari BI pada hakikatnya menggantikan modal dari simpanan mudhorobah yang sedang diwujudkan menjadi aset-aset produktif. Pada saat BI menyuntik dana ke bank syariah, BI dapat dianggap sebagai pemilik baru modal yang mendanai aset-aset produktif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembiayaan likuiditas berbasis mudhorobah akan selalu hanya membebani bank syariah kurang dari pendapatannya dari penyaluran dana, dengan rasio sesuai kesepakatan. Dengan demikian, tidak ada potensi kerugian spread pada bank syariah. Kerugian hanya akan terjadi jika biaya operasional melebihi pendapatan bersih bank syariah yang telah dikurangi imbalnya kepada sumber dana. Kerugian semacam ini bersumber dari inefisiensi operasi bank syariah, bukan dari desain transaksi atau akad pendanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pembiayaan likuiditas BI berbasis mudhorobah akan sebanding dengan sumber dana bank syariah lainnya, yakni simpanan mudhorobah dan investasi mudhorobah antarbank (IMA). Kesebandingan ini akan memudahkan pencegahan moral hazard bank syariah untuk menjadikan pembiayaan likuiditas BI sebagai first resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama BI menetapkan nisbah bagi hasil untuk dananya lebih dari nisbah bagi simpanan mudhorobah dan IMA, bank syariah akan mengambil pembiayaan likuiditas BI hanya jika dua sumber dana pertama tidak mencukupi kebutuhan likuiditasnya. Jika BI memungut biaya atau imbal tetap, ada saat di mana bank syariah melihat dana dari BI lebih murah daripada dari simpanan mudhorobah dan IMA, yakni ketika tingkat ekuivalen imbal dari dua sumber dana tersebut lebih dari biaya dana BI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik, pembiayaan mudhorobah BI dapat diwujudkan dengan BI membeli sertifikat investasi mudhorobah yang diterbitkan oleh bank syariah. Konsep ini mudah diterapkan karena bank syariah sudah sering menerbitkan sertifikat IMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar fasilitas pembiayaannya hanya menjadi last resort, BI hanya perlu menjaga agar nisbah bagi hasilnya senantiasa lebih tinggi daripada nisbah simpanan dan IMA. Fasilitas pembiayaan mudhorobah ini juga berpotensi menjadi instrumen kebijakan moneter ekspansif dengan menetapkan nisbah bagi hasil yang lebih rendah dari nisbah simpanan dan IMA.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-389010436783630622?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.republika.co.id/koran/24/34994/Risiko_Pembiayaan_Likuiditas_Bank_Syariah' title='Risiko Pembiayaan Likuiditas Bank Syariah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/389010436783630622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=389010436783630622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/389010436783630622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/389010436783630622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/04/risiko-pembiayaan-likuiditas-bank.html' title='Risiko Pembiayaan Likuiditas Bank Syariah'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7159049126304272887</id><published>2009-02-24T06:02:00.002-05:00</published><updated>2009-06-03T22:38:08.760-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiskal'/><title type='text'>Dampak Stimulus Amat Kecil, Mungkin Negatif</title><content type='html'>DPR &lt;a href="http://www.detikfinance.com/read/2009/02/24/145530/1089758/4/dpr-setujui-paket-stimulus-fiskal-rp-71,3-triliun"&gt;hari ini&lt;/a&gt; mengetok palu untuk meloloskan paket stimulus fiskal 71,3 triliun. Nilai stimulus  ini sangat kecil dibandingkan dengan total APBN yang di atas 1000 triliun (7 persen), apalagi jika dibandingkan dengan PDB yang lebih dari 5500 triliun (1,4 persen). &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan belanja pemerintah sekitar dua puluh triliun hanya meningkatkan PDB 0,4 persen. Dengan kecenderungan rata-rata konsumsi 60 persen dari pendapatan, penghematan pajak 50 triliun akan menambah konsumsi sekitar 30 triliun. Jika seperenam dari konsumsi ini bersumber dari impor, maka PDB hanya naik 25 triliun atau tumbuh lebih tinggi 0,5 poin persen. Jika defisit dibiayai dengan utang luar negeri, total PDB dengan stimulus lebih besar 45 triliun atau tumbuh 0,9 poin persen lebih tinggi dibanding PDB tanpa stimulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak stimulus akan lebih kecil jika defisit dibiayai dengan utang domestik. Pemerintah akan bersaing dengan dunia usaha memperebutkan tabungan masyarakat. Pemerintah akan menawarkan bunga yang cukup menarik untuk mendapatkan dana yang cukup. Dunia usaha terpaksa menawarkan bunga lebih tinggi dari pemerintah untuk menarik pemilik dana. Kenaikan tingkat bunga akan mengurungkan sebagian rencana investasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan nilai investasi tidak sebesar obligasi pemerintah yang diterbitkan. Tabungan masyarakat sendiri telah meningkat 20 triliun. Sebagian dari penambahan tabungan tidak akan disalurkan ke investasi apapun, katakanlah 5 triliun digunakan untuk berjaga-jaga atau spekulasi. Pasokan dana untuk investasi meningkat 15 triliun. Kenaikan bunga juga akan menambah pasokan dana untuk investasi dengan mengurangi stok uang yang ditahan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tambahan permintaan dana 70 triliun dari pemerintah tidak akan mengurangi investasi swasta dengan nilai yang sama. Kita umpamakan penurunan investasi separuh dari nilai obligasi, yakni 35 triliun. Lima triliun dari nilai investasi yang batal sedianya dibelanjakan pada barang modal yang diimpor, sehingga pengurangan dampak stimulus pada PDB menjadi 30 triliun. Dampak neto stimulus pemerintah hanya menaikkan PDB 15 triliun atau tumbuh lebih tinggi 0,3 persen. Kenaikan PDB hanya sekitar seperlima dari kenaikan defisit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dampak sekecil ini, mungkin masih ada yang tetap mendukung stimulus karena kenaikan pertumbuhan sekecil apapun kita perlukan. Jangan lupa bahwa utang untuk menutup defisit menimbulkan biaya berupa bunga. Dengan tingkat bunga obligasi pemerintah 10 persen, manfaat berupa kenaikan 0,3 persen pertumbuhan PDB dan penerimaan pajak masih jauh lebih kecil dari biayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian masyarakat tergambar terlihat lebih jelas dalam hitungan anggaran negara. Dengan tingkat bunga nominal 10 persen, dari tambahan utang 70 triliun kita harus membayar bunga 7 triliun tiap tahun. Dengan tingkat pajak rata-rata 20 persen, tambahan kenaikan PDB 15 triliun hanya meningkatkan penerimaan pajak 3 triliun. Kekurangan 4 triliun akan diambil dari peningkatan pajak atau pengurangan belanja. Kita dapat menduga bahwa pos belanja yang dipotong adalah belanja modal dan subsidi karena belanja rutin seperti gaji dan biaya operasional sulit dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat obligasi jatuh tempo, pemerintah membayarnya dengan meningkatkan pajak atau mengurangi pengeluaran. Saat itu, pertumbuhan PDB akan lebih lambat dari seharusnya. Hal ini bisa disiasati dengan terus menerbitkan utang baru selama perekonomian belum kembali ke tren jangka panjang. Namun penundaan pembayaran utang berkonsekuensi bertambahnya biaya bunga yang harus dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja bunga sendiri merupakan transfer pendapatan dari pembayar pajak ke pembeli obligasi pemerintah. Pengurangan pajak yang dinikmati pembayar pajak saat pemerintah menjalankan stimulus harus dibayar dengan bagian pajak yang digunakan untuk membayar bunga utang pemerintah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mending jika utang pemerintah bersumber dari dalam negeri, sehingga uang pembayaran bunga akan kembali dinikmati oleh penduduk Indonesia dan terhitung dalam PDB. Jika utang diperoleh dari pihak asing, skenario optimis bunga empat persen saja masih tidak dapat dikejar oleh kenaikan pajak yang hanya 0,9 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perhitungan di atas, desain stimulus fiskal di atas nampaknya tidak layak diterapkan. Dampak jangka pendek amat kecil, dampak neto jangka panjang negatif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7159049126304272887?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7159049126304272887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7159049126304272887' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7159049126304272887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7159049126304272887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/02/dampak-stimulus-amat-kecil-mungkin.html' title='Dampak Stimulus Amat Kecil, Mungkin Negatif'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6248541562920957100</id><published>2009-02-20T02:38:00.004-05:00</published><updated>2009-06-03T22:38:51.077-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Kerugian Masyarakat dari Regulasi Pupuk</title><content type='html'>Ahmad Adi Nugroho, pegiat KPPU, memaparkan tata niaga pupuk bersubsidi dalam dua posting (&lt;a href="http://fairconomics.blogspot.com/2009/02/menyoal-tata-niaga-pupuk-bersubsidi.html"&gt;bagian I&lt;/a&gt;&amp;nbsp;, &lt;a href="http://fairconomics.blogspot.com/2009/02/menyoal-tata-niaga-pupuk-bersubsidi_19.html"&gt;bagian II&lt;/a&gt;&amp;nbsp;). Salah satu tabel dalam tulisan bagian kedua memberikan fakta menarik:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perbandingan Harga Pupuk Urea per Kg Menurut HET dengan&amp;nbsp;Harga Pokok Produksi (HPP) per Kg&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Harga Eceran Tertinggi  Rp  1.200&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;[HPP]&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PT. Pupuk Sriwijaya  Rp  2.100&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PT. Pupuk Kaltim  Rp  4.052&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PT. Pupuk Kujang  Rp  2.443&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PT. Petrokimia Gresik  Rp  2.168&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Departemen Pertanian&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;catatan: keterangan [HPP] merupakan tambahan dari saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat melihat bahwa HPP pupuk urea produksi PT Pupuk Kaltim hampir dua kali lebih tinggi dari lainnya. &amp;nbsp;Ada dua kemungkinan penyebab tingginya HPP PT Pupuk Kaltim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kualitas pupuk urea produksi PT Pupuk Kaltim lebih baik dari lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HPP mencakup biaya transportasi di mana PT Pupuk Kaltim menanggungnya lebih besar dari pabrik lain karena wilayah kerjanya mencakup Kalimantan bagian timur dan seluruh wilayah Indonesia Timur&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kualitas pupuk urea antarprodusen tidak signifikan berbeda. Faktor biaya transportasi lebih mungkin menjelaskan tingginya HPP PT Pupuk Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah menetapkan HET dan memberikan subsidi untuk mendukung kebijakan pangan murah. Namun, pencapaian tujuan ini menimbulkan efek samping negatif berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Transfer pendapatan dari pembayar pajak kepada pekerja pabrik pupuk dan produsen pengguna pupuk bersubsidi (tidak selalu petani tanaman pangan, namun juga pengusaha perkebunan yang secara ilegal membeli pupuk bersubsidi). &amp;nbsp;Dengan HET Rp 1.200, masyarakat harus menyubsidi paling sedikit Rp 2.800 per kg urea produksi PT Pupuk Kaltim. Sementara untuk pupuk urea produksi tiga perusahaan lainnya, masyarakat menyubsidi paling sedikit Rp 900 per kg urea.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Inefisiensi penggunaan pupuk urea. Petani yang mengejar peningkatan produksi akan menggunakan pupuk urea melebihi takaran efisien. Dampak jangka panjangnya adalah penurunan kualitas hara tanah yang justru semakin mendorong petani untuk menggunakan pupuk lebih banyak lagi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak menariknya penggunaan pupuk organik karena pupuk urea cukup murah dan jauh lebih praktis. Padahal pupuk organik lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Penetapan HET dan pemberian subsidi bukanlah penyebab mandeknya inovasi produsen untuk meningkatkan efisiensi. Pada harga yang ditetapkan pemerintah sekalipun, produsen masih memiliki insentif untuk meningkatkan efisiensi karena akan meningkatkan laba mereka. &amp;nbsp;Efisiensi juga meningkatkan keuntungan dalam situasi harga disubsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produsen pupuk di Indonesia yang dimiliki negara tidak memiliki insentif untuk melakukan efisiensi karena kinerja mereka tidak diukur dari efisiensinya. Tugas utama BUMN tersebut adalah menyediakan pupuk dalam jumlah yang mencukupi permintaan. Besarnya biaya produksi atau keuntungan&amp;nbsp;tidak&amp;nbsp;menjadi perhatian pemerintah sebagai prinsipal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, langkah pertama untuk meningkatkan efisiensi produksi dan ketersediaan pupuk adalah dengan membuka pintu persaingan bagi produsen swasta. Pemerintah dapat membuat tender yang tidak berpihak untuk menjadi penyedia pupuk bersubsidi. Produsen yang memerlukan subsidi terkecil untuk menyediakan pupuk pada harga sesuai HET akan mendapatkan hak memproduksi pupuk bersubsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liberalisasi impor pupuk akan memberikan tekanan persaingan yang lebih kuat pada produsen pupuk domestik. Akan tetapi, liberalisasi impor pupuk cenderung menghadapi resistensi politik yang kuat dengan membawa isu kemandirian pangan. Liberalisasi persaingan domestik&amp;nbsp;produksi dan distribusi pupuk&amp;nbsp;lebih mudah diterima selama dapat memberikan hasil berupa pupuk yang lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi harga pupuk perlu dikurangi secara bertahap. Subsidi lebih dari 50 persen dari biaya produksi tidak sehat bagi perekonomian, apalagi bagi produk semacam pupuk kimiawi yang memberikan eksternalitas negatif. Desain subsidi pupuk urea yang memberikan subsidi bagi penggunaan tanaman pangan tapi tidak lainnya sulit dipertahankan. Penyelewengan penyaluran produk bersubsidi&amp;nbsp;di dalam negeri&amp;nbsp;lebih sulit dicegah daripada penyelundupan antarnegara. Ongkos pengawasan kebijakan subsidi ini terlalu besar sehingga tidak mungkin dijalankan sepenuhnya oleh pemerintah. Sebaliknya, subsidi pupuk urea secara keseluruhan akan membutuhkan anggaran subsidi terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga eceran tertinggi adalah kebijakan yang paling berbahaya.&amp;nbsp;Kelangkaan pupuk merupakan konsekuensi yang niscaya dari kebijakan HET.&amp;nbsp;Penetapan harga ini mencegah, atau paling tidak memperlambat, respon produsen untuk meningkatkan produksi ketika terjadi kenaikan permintaan. Ketika terjadi kenaikan biaya produksi, produsen terpaksa menurunkan produksi karena mereka tidak diperbolehkan menaikkan harga atau belum mendapatkan kenaikan subsidi. Selain menghilangkan sinyal kelangkaan ketika terjadi permintaan, HET juga menghilangkan insentif pada produsen berupa tambahan laba untuk meningkatkan kapasitas produksi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6248541562920957100?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6248541562920957100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6248541562920957100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6248541562920957100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6248541562920957100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/02/ahmad-adi-nugroho-pegiat-kppu.html' title='Kerugian Masyarakat dari Regulasi Pupuk'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7990454902319387815</id><published>2009-02-20T00:33:00.003-05:00</published><updated>2010-01-31T08:45:28.706-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Perlunya Liberalisasi Pupuk</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(dimuat di &lt;a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=59350"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/a&gt;, 16 Februari 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelangkaan pupuk selalu menjadi isu politik karena peran besar pemerintah pada penyediaannya. Buruknya pengelolaan pemerintah sering dituding sebagai penyebab masalah. Kita perlu mempertimbangkan kemungkinan lainnya, bahwa justru sistem penyediaan pupuk yang dimonopoli pemerintah itu sendiri yang merupakan akar masalah. Pasar yang bebas dari campur tangan pemerintah boleh jadi lebih mampu mencegah kekurangan pasokan pupuk dan memberikan harga lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campur tangan besar pemerintah pada penyediaan pupuk merupakan bagian dari upaya pemerintah mengendalikan pasokan dan harga pangan. Penyediaan pangan murah merupakan prioritas pemerintah sejak awal orde baru. Cara yang ditempuh adalah dengan mengendalikan pasokan dan harga input produksi pangan. Agar harga pangan murah, pemerintah mensubsidi harga input produksi pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa orde baru, pemerintah juga mengelola distribusi pangan dan kebutuhan pokok lainnya melalui Bulog. Setelah krisis 1997, atas desakan IMF Bulog dibebaskan dari kewajiban mengelola distribusi kebutuhan pokok. Akan tetapi, liberalisasi penyediaan pangan ini tidak diikuti oleh liberalisasi penyediaan input produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kegagalan Pemerintah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelangkaan pupuk dapat diakibatkan satu atau lebih faktor berikut. Pertama, hambatan di tingkat produsen seperti keterlambatan pengembangan kapasitas produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan atau kesulitan mendapatkan input. Kedua, hambatan distribusi seperti kerusakan jalan yang menyebabkan keterlambatan pengiriman. Ketiga, hambatan di tingkat penjual seperti penimbunan, penyelundupan ke pasar pupuk non subsidi, atau tidak memiliki persediaan yang cukup karena pembatasan kuota atau peningkatan permintaan yang tidak diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelangkaan yang disebabkan hambatan distribusi dan peningkatan permintaan yang tidak diprediksi penjual hanya akan berlangsung sementara. Berakhirnya kelangkaan yang disebabkan penimbunan dan penyelundupan bergantung pada kesigapan aparat hukum untuk menindak pelakunya. Kelangkaan pupuk akan persisten jika disebabkan permintaan yang melebihi kapasitas produksi pupuuk atau kelangkaan input produksi puput yang juga persisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelangkaan pupuk di Indonesia yang cenderung persisten mengindikasikan bahwa masalah berada pada level produksi. Produsen pupuk telah memberikan keterangan bahwa mereka kesulitan mendapatkan gas sebagai bahan bakar produksi sehingga tidak dapat mencapai kapasitas maksimum. Kebutuhan tambahan pasokan pupuk sebesar 500 ribu ton yang direncanakan diimpor mestinya bisa dipenuhi oleh pabrik pupuk baru Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang masih memiliki kapasitas potensial 460 ribu ton. Impor tidak perlu dilakukan jika pabrik pupuk dapat memperoleh tambahan pasokan gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pabrik pupuk tidak dapat memperoleh pasokan gas? Jika pasokan gas memang langka, pabrik pupuk seharusnya dapat menawar harga lebih tinggi untuk mendapatkan gas yang tersedia. Akan tetapi, pabrik pupuk tidak mungkin melakukannya karena mereka tidak bisa menaikkan harga jual untuk mengkompensasi kenaikan harga gas. Selain itu, pasokan gas tidak mudah dialihkan pada penawar tertinggi setiap saat karena banyak produksi gas telah diikat kontrak-kontrak jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang tidak ada harapan untuk menambah pasokan gas bagi pabrik pupuk, tidak ada cara lain untuk menambah persediaan pupuk dan menurunkan harganya kecuali dengan impor. Masalahnya, impor ini tidak bisa segera dilakukan keputusan dan pelaksanaannya karena harus melalui proses politik dan birokrasi di tingkat pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat jasa pers, informasi kelangkaan pupuk ini dapat segera mencapai dan memperoleh perhatian pemerintah pusat. Tidak dapat dibayangkan berapa lamanya informasi ini mencapai tingkat pusat jika mengandalkan jalur informasi birokrasi. Birokrasi di daerah bisa jadi justru menyembunyikan informasi ini agar tidak dinilai berkinerja buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan keputusan di pemerintah pusat memerlukan waktu untuk pengumpulan data dan pembahasan hingga mencapai keputusan. Kalaupun pemerintah telah mengambil keputusan, kadangkala pelaksanaannya tertunda karena keberatan dari DPR. Partai-partai ingin mencampuri keputusan ini karena kelangkaan pupuk merupakan isu strategis untuk meraih simpati pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, ada individu dan kelompok melancarkan lobi-lobi ke pemerintah dan DPR untuk mendapat keuntungan dari impor pupuk. Apapun bentuk kolusi dan korupsi yang menyertai proses impor ini akan mengakibatkan harga pupuk impor lebih tinggi dari seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang impor belum dilakukan, tidak ada tambahan pasokan pupuk sehingga kelangkaan terus terjadi. Sebagian petani mau membeli pupuk pada harga lebih tinggi. Nantinya, mereka akan meminta harga jual hasil panen untuk mengkompensasi kenaikan biaya ini. Petani marjinal tidak dapat memperoleh pupuk sehingga hasil panennya menurun. Keduanya akan mendorong harga pangan naik di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monopoli penyediaan pupuk oleh pemerintah menimbulkan kerugian pada petani dan konsumen karena kelambatan respon pemerintah menyebabkan kelangkaan pupuk dan kenaikan harga berlangsung lama. Campur tangan pemerintah yang sedianya menguntungkan petani dan konsumen justru berakibat sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mekanisme Pasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapkan pada masalah kelangkaan yang sama, mekanisme pasar lebih cepat mengembalikan kecukupan pasokan pupuk dan harga ke tingkat semula. Kenaikan harga pupuk di suatu daerah menjadi sinyal kelangkaan pupuk yang segera ditangkap oleh pelaku bisnis pupuk di berbagai wilayah. Pelaku bisnis pupuk akan saling beradu cepat memanfaatkan kesempatan mendapat keuntungan dari kelangkaan pupuk. Jika memang produksi pupuk dalam negeri tidak mencukupi, pedagang pupuk akan mengimpornya dari luar negeri selama terdapat marjin laba positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon keputusan dan pelaksanaan para pelaku bisnis pupuk ini jauh lebih cepat daripada respon pemerintah. Selama tidak ada syarat ijin pemerintah untuk memproduksi dan mengimpor pupuk, akan terdapat cukup banyak produsen dan pengimpor yang tidak memungkinkan terbentuknya kartel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liberalisasi impor pupuk akan memaksa produsen oligopolis pupuk domestik untuk meningkatkan efisiensi. Produsen pupuk domestik yang tidak efisien akan terpaksa tutup. Kita tidak perlu menangisi tergusurnya produsen yang inefiisen tersebut. Mereka selama ini hanya dapat bertahan karena proteksi dan subsidi pemerintah. Kinerja buruk mereka tidak patut dihargai dengan keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7990454902319387815?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7990454902319387815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7990454902319387815' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7990454902319387815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7990454902319387815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/02/liberalisasi-pupuk.html' title='Perlunya Liberalisasi Pupuk'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2445947371677221128</id><published>2009-01-27T06:45:00.029-05:00</published><updated>2009-02-25T00:59:25.403-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiskal'/><title type='text'>Efektifkah Stimulus?</title><content type='html'>Pada posting lalu, saya telah memaparkan rencana stimulus pemerintah dan dampak yang diharapkan. Kali ini, saya akan menganalisis apakah stimulus tersebut akan mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah utama perekonomian kita saat ini berada di sisi ekspor. Krisis di Amerika dan Eropa menjalar ke perekonomian dunia melalui jalur perdagangan internasional. Setiap negara yang menjadikan kedua wilayah itu sebagai tujuan utama ekspor akan mengalami penurunan pendapatan pada sektor ekspor. Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor  Indonesia yang kedua terbesar setelah Jepang. Penurunan ekspor ke Amerika Serikat akan mendorong perusahaan eksportir memberhentikan sebagian atau seluruh pekerjanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sekarang kita lihat rencana stimulus dari pemerintah. Sebagian besar rencana tersebut tidak ada kaitannya dengan sektor ekspor kita. Argumen di balik stimulus tersebut adalah bahwa belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat harus didorong untuk mengkompensasi penurunan ekspor, sehingga pertumbuhan ekonomi dan penyerapan pekerjaan dapat terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat kritik saya terhadap argumen tersebut. Pertama, pengangguran tercipta pada industri penghasil barang ekspor, akan tetapi stimulus juga disalurkan pada industri-industri selainnya. Stimulus di luar sektor ekspor tidak akan mampu menyerap pengangguran dari sektor ekspor. Hal ini disebabkan penganggur mantan pekerja sektor ekspor belum tentu memiliki ketrampilan untuk dipekerjakan di sektor lain, misal infrastruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, stimulus pada sektor lain yang sudah mendekati &lt;i&gt;full employment&lt;/i&gt; tidak akan efektif menyerap tenaga kerja baru. Belanja pada proyek infrastruktur akan mengalihkan perusahaan dan pekerjanya dari proyek swasta sehingga menurunkan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, stimulus yang dibiayai dengan surat utang akan mengalihkan dana dari investasi swasta. Pemerintah harus menawarkan bunga yang bersaing dengan utang swasta dan imbal saham agar surat utangnya terjual. Dampaknya, swasta menderita biaya modal lebih tinggi dan beberapa proyek investasi tidak lagi layak pada tingkat bunga yang lebih tinggi. Penurunan investasi karena peningkatan belanja pemerintah ini mengurangi dampak stimulus pada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kita perlu memikirkan beban pelunasan utang dan pembayaran bunga bagi pemerintahan mendatang. Penurunan belanja pemerintah atau kenaikan pajak di masa mendatang memperlambat pertumbuhan di masa itu. Apakah kita yakin keadaan ekonomi saat ini sedemikian gawatnya sehingga harus ditolong dengan mengorbankan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2445947371677221128?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2445947371677221128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2445947371677221128' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2445947371677221128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2445947371677221128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/01/efektifkah-stimulus.html' title='Efektifkah Stimulus?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2259637403216448436</id><published>2009-01-21T04:07:00.002-05:00</published><updated>2009-02-25T01:01:11.657-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiskal'/><title type='text'>Mengharap Dampak Stimulus</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pemerintahan SBY berusaha menggenjot kinerja ekonomi di akhir masa jabatannya dengan menggelontorkan stimulus ke sektor riil. Tahap pertama stimulus dari APBN 2009 sebesar 12,5 triliun diwujudkan dalam bentuk potongan pajak PPN, PPh, dan bea masuk. Tahap kedua stimulus masih menunggu pembahasan APBN-P 2009. Dari rencana awal 38 triliun, &lt;a href="http://www.kontan.co.id/index.php/Nasional/news/6754/Pemerintah_Ubah_PPN_DTP_Jadi_PPh_DTP"&gt;berita terakhir&lt;/a&gt; pemerintah menurunkan janji stimulus menjadi 15 triliun. Selain masih dialokasikan untuk potongan pajak, stimulus kedua ini juga akan diwujudkan dalam bentuk infrastruktur, subsidi, kredit, dan program pemberdayaan. Selain itu, penurunan harga BBM dan tarif angkutan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dilihat dari wujud stimulus, nampak ada 4 sasaran yang ingin dicapai pemerintah. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;akselerasi pertumbuhan. Potongan PPh pribadi ditujukan untuk merangsang konsumsi agar dapat mengkompensasi penurunan ekspor akibat krisis global. Pembengkakan belanja pemerintah pada infrastruktur, subsidi, kredit, dan program lainnya juga merupakan jalan pintas untuk mendorong pertumbuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt; mengurangi pengangguran. Pembangunan infrastruktur merupakan program yang paling banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan program lainnya. Program kredit UMKM juga menyerap tenaga kerja jika dapat berdampak pada pengembangan skala usaha. Keringanan PPh untuk perusahaan yang dibayangi rencana PHK, terutama karena permintaan ekspor menurun, juga akan mengerem laju penciptaan pengangguran baru. Secara umum, seluruh bentuk stimulus yang dimaksudkan untuk mengakselerasi pertumbuhan juga akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, pengurangan kemiskinan. Subsidi-subsidi merupakan senjata pengurangan kemiskinan yang langsung menciptakan daya beli. Program pemberdayaan tidak dapat diharapkan dapat memberi hasil dalam jangka pendek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, penurunan inflasi.&amp;#160; Memanfaatkan momentum penurunan harga minyak mentah, pemerintah SBY secara bertahap menurunkan harga BBM hingga mencapai 25% serta mendesak agar tarif angkutan turun 10%. Dorongan lebih besar pada penurunan inflasi dilakukan dengan memotong PPN barang jadi dan bea masuk impor, serta melanjutkan berbagai subsidi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiga sasaran pertama sesuai dengan slogan &lt;em&gt;3 pro &lt;/em&gt;yang sering didengungkan SBY sejak awal menjabat, yakni &lt;em&gt;pro poor&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pro growth&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;pro job&lt;/em&gt;. Sasaran inflasi masuk ke prioritas pemerintah tahun ini, terutama setelah inflasi tahun 2008 menembus 2 digit, yakni 11,06 persen, naik tajam dari tahun 2007 sebesar 6,29 persen. Pemerintah nampaknya ingin memperbaiki prestasi stabilisasi harga sendiri tanpa bergantung pada BI.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah stimulus akan mencapai sasarannya? Tunggu postingan berikutnya… insya Alloh.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2259637403216448436?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2259637403216448436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2259637403216448436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2259637403216448436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2259637403216448436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2009/01/mengharap-dampak-stimulus.html' title='Mengharap Dampak Stimulus'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1562759632220561592</id><published>2008-10-24T22:27:00.002-04:00</published><updated>2009-01-22T01:49:35.222-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><title type='text'>Pembatasan Arus Modal, atau Krisis!</title><content type='html'>Saya kira semua orang yang mengikuti perkembangan situasi ekonomi dari hari ke hari akan memiliki kecemasan yang sama dengan saya akan peluang krisis ekonomi terjadi lagi di indonesia. Sebagaimana krisis sebelumnya di tahun 1997, krisis yang mungkin terjadi akan berawal dari kejatuhan rupiah. Tanda-tanda ke arah sana mulai terlihat: melemahnya mata uang negara-negara Asia kecuali beberapa negara seperti China, kasus default Indover yang 100 persen milik Bank Indonesia, arus balik uang panas dari investor portofolio asing, dan ketatnya penyaluran kredit ekspor.&lt;p&gt;Kecemasan seperti ini bisa berdampak buruk karena mendorong perilaku individu yang mengejar kepentingan dirinya melakukan tindakan-tindakan yang justru membuat apa yang dicemaskan menjadi nyata. Namun berlagak bodoh atau overconfidence seperti yang pemerintah lakukan juga tidak membantu. Hanya orang awam yang bisa ditenangkan dengan cara itu. Pelaku pasar barang dan uang hanya akan tenang jika mereka mengetahui pemerintah telah melakukan cukup antisipasi terhadap kemungkinan krisis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejauh ini, pemerintah telah menerbitkan perpu jaring pengaman sistem keuangan yang berisi protokol penanganan krisis. BI pada akhirnya mau menyelamatkan Indover untuk menjaga kredibilitas mereka dalam mengelola sistem keuangan dan perbankan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk menjaga nilai tukar rupiah, BI sempat menaikkan BI rate, namun kemudian menurunkannya kembali karena banyak tuntutan agar BI melonggarkan likuiditas. Pengalaman krisis 1997 memberi pelajaran bahwa kebijakan suku bunga tinggi justru memukul sektor riil dan keuangan sekaligus karena ketidakmampuan para debitur untuk membayar bunga tinggi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini konsistensi BI kembali diuji dengan terus melorotnya nilai tukar rupiah. Agar tidak bertentangan dengan kepentingan melonggarkan likuiditas, BI bisa melakukan intervensi langsung ke pasar valuta asing. Namun cara ini pun tidak akan efektif karena cadangan devisa BI tidak akan cukup untuk melawan arus besar modal keluar yang berlangsung di banyak negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu-satunya cara yang efektif hanyalah pembatasan arus modal dan devisa, paling tidak berlaku sementara di kala krisis. Sebagaimana suspensi perdagangan bursa saham awal bulan ini, pemerintah dapat membatasi aktivitas pasar yang berpotensi merugikan banyak pihak, padahal pelaku pasar saham hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia. Dalam kasus nilai tukar rupiah, jumlah rakyat yang berpotensi dirugikan jauh lebih banyak. Karena itu, pemerintah semestinya berani mengintervensi pasar lebih jauh untuk menyelamatkan nasib rakyat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Korea dan Malaysia menerapkan pembatasan arus modal dan valas ini pada krisis mata uang Asia lalu. Hasilnya, dua negara tersebut berhasil meredam dampak krisis jauh lebih baik daripada negara lain. Negara-negara yang meliberalkan arus modal dan valasnya mengalami dampak paling parah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Modal adalah darah perekonomian. Jika kita mengalami pendarahan akut, kita tidak dapat hanya mengandalkan mekanisme alami tubuh untuk menutup dan menyembuhkan luka tersebut. Pendarahan dalam ekonomi harus distop dulu dengan mengikat sumber pendarahan kuat-kuat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga pemerintah dan BI segera menerapkan pembatasan arus modal dan valas sebelum terlambat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1562759632220561592?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1562759632220561592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1562759632220561592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1562759632220561592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1562759632220561592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/10/pembatasan-arus-modal-atau-krisis.html' title='Pembatasan Arus Modal, atau Krisis!'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-3098786377028762298</id><published>2008-10-09T04:38:00.001-04:00</published><updated>2008-10-09T04:38:38.983-04:00</updated><title type='text'>BI Hanya Menjalankan Tugasnya</title><content type='html'>&lt;p&gt;Ketika Rabu lalu (8/10) BI mengumumkan kenaikan BI rate, sebagian kalangan menyayangkan kebijakan tersebut karena memberatkan dunia usaha. Langkah BI ini dinilai aneh di tengah banyaknya bank sentral di seluruh dunia yang justru menurunkan suku bunga mengikuti inisiatif bank sentral Amerika Serikat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walau kebijakan BI dengan bank sentral lain terlihat kontras, namun mereka sebenarnya sama menjalankan tugasnya masing-masing. Bank sentral negara lain berusaha mengurangi dampak krisis keuangan pada sektor riil karena mereka lebih mengkhawatirkan resesi ekonomi daripada risiko inflasi. Sementara Bank Indonesia menitikberatkan pada pengendalian inflasi karena undang-undang mengamanati mereka dengan tujuan tunggal ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lagipula, pekan-pekan terakhir ini rupiah terus mengalami tren melemah yang didorong penarikan dana oleh investor asing. Karenanya, BI memilih menaikkan suku bunga untuk mengimbangi penurunan selisih suku bunga riil dalam mata uang asing akibat pelemahan rupiah tersebut. Dengan demikian, arus modal keluar dapat diminimalkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimanapun, BI tidak boleh terlalu lama mematok suku bunga pada level tinggi. Suku bunga rendah dan pelemahan nilai rupiah lebih menguntungkan bagi sektor riil domestik. Jika pengusaha tidak terbebani pembayaran bunga kredit yang tinggi, mereka dapat menjual produknya dengan harga lebih rendah, sehingga mendorong ekspor dan menurunkan harga domestik. Nilai rupiah yang rendah juga membuat harga produk ekspor terkesan murah bagi negara lain, sehingga ekspor kita akan meningkat dan cadangan devisa bertambah.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-3098786377028762298?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/3098786377028762298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=3098786377028762298' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3098786377028762298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/3098786377028762298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/10/bi-hanya-menjalankan-tugasnya.html' title='BI Hanya Menjalankan Tugasnya'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1811759437424423659</id><published>2008-09-20T17:38:00.002-04:00</published><updated>2009-01-22T01:48:10.265-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Energi'/><title type='text'>Goyahnya Pendirian tentang Subsidi BBM</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pada postingan saya sebelumnya, anda akan menemukan bahwa saya adalah penganjur pengurangan subsidi BBM. Namun, setelah beberapa diskusi dengan rekan-rekan, terutama mas Nafik rekan saya di FE Unair, pendirian saya pada masalah tersebut mulai goyah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pilihan antara subsidi harga dan subsidi langsung melibatkan &lt;em&gt;trade-off&lt;/em&gt;. Kebijakan subsidi langsung tidak 100 persen unggul dari subsidi harga. Kemudian atas dasar apa kita memilih subsidi langsung daripada subsidi harga? Jika argumen efisiensi yang dikemukakan, maka subsidi langsung pun menimbulkan inefisiensi berupa insentif orang untuk tidak meninggalkan status miskinnya supaya memperoleh subsidi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika argumen salah sasaran penerima subisidi yang dikemukakan, maka kedua jenis subsidi juga mengalaminya. Subsidi harga dirasakan oleh seluruh masyarakat pengguna komoditas yang disubsidi. Manfaat subsidi tersebut tidak membatasi kelompok yang tidak menjadi sasaran utama subsidi dari mengakses komoditas yang disubsidi tersebut. Sebaliknya, subsidi langsung yang membatasi penerima subsidi justru terbentur pada masalah penetapan restriksi tersebut. Banyak orang yang layak mendapat subsidi tetapi tidak memperolehnya, sebaliknya orang yang tidak layak justru mendapatkan subsidi tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Subsidi harga hanya mengalami tipe salah sasaran pertama: orang yang tidak layak disubsidi ikut menerima subsidi. Sedangkan subsidi langsung selain mengalami kesalahan tipe pertama juga mengalami salah sasaran tipe kedua: orang yang layak disubsidi tidak dapat memperolehnya. Kesalahan tipe kedua ini lebih berat konsekuensinya daripada tipe kesalahan pertama karena kita telah menimpakan penderitaan yang lebih berat pada orang yang selama ini paling menderita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya tidak memiliki akses data Susenas terbaru karena tarif akses data tersebut di luar jangkauan saya maupun lembaga afiliasi saya. Beruntung, Ari Perdana memberikan ringkasan pengamatan dari data Susenas tersebut di &lt;a href="http://diskusiekonomi.blogspot.com/2008/07/memprediksi-kenaikan-angka-kemiskinan.html"&gt;blognya&lt;/a&gt;. Ari menyebutkan bahwa 40 persen dari 20 persen orang termiskin tidak menerima BLT, dan Ari menyebutnya sebagai moderat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya tidak mengerti kenapa kita boleh menutup mata pada nasib 40 persen orang yang ikut menderitakan kenaikan harga yang didorong kenaikan harga BBM, tetapi tidak ikut memperoleh kompensasinya. Dengan menyebut angka tersebut sebagai moderat, tersirat Ari memaklumi kegagalan tersebut dan tidak memandangnya sebagai pengganjal bagi kenaikan harga BBM. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua jenis subsidi sama memerlukan ongkos administrasi. Bedanya, pada subsidi langsung biaya administrasi muncul dari pengidentifikasian penerima hingga monitoring pelaksanan, sementara subsidi harga memerlukan pengawasan pemerintah pada penyaluran komoditas bersubsidi tersebut agar tidak masuk ke pasar komoditas yang tidak berhak subsidi. Ironinya, jika pemerintah bermaksud menghilangkan subsidi domestik untuk mencegah penyelundupan internasional, mengapa pemerintah justru membuat sekat pasar bersubsidi dan non-subsidi tersebut di pasar domestik di mana penyalahgunaan lebih mudah dilakukan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika argumen yang diajukan adalah uang penghematan subsidi dapat digunakan untuk program penghapusan kemiskinan lainnya yang lebih efektif, maka perlu ditanya program apakah yang dikategorikan sebagai lebih efektif. Perhitungan BLT vs kenaikan anggaran belanja keluarga miskin yang dikemukakan Ari nampaknya tidak terlalu signifikan (bahkan saya dibingungkan oleh kalimat-kalimat deskripsi perhitungan yang tumpang tindih antara berbasis keluarga dan individu). Kelemahan asumsi dalam perhitungan kenaikan anggaran belanja dapat dengan mudah membuyarkan kesimpulan penghapusan neto kemiskinan dari paket kenaikan harga BBM + kompensasi BLT.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika BLT memang memberikan kompensasi lebih besar daripada kenaikan anggaran belanja keluarga miskin, sebutlah angka 150 persen, akan tetapi hanya 60 persen keluarga miskin yang menikmatinya, maka jika efektivitas diukur dengan mengalikan dua angka di atas begitu saja kita menemukan angka manfaat neto kebijakan baru 90 persen dari kebijakan lama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana dengan program anti kemiskinan lain seperti Raskin, PNPM, asuransi kesehatan, penggratisan biaya pendidikan yang dapat didanai oleh kenaikan harga BBM ini? Persoalan yang nampak jelas dari program-program tersebut adalah ketercakupan yang jauh lebih rendah. Penghematan uang masyarakat jika harga BBM tidak naik juga dapat membuat keluarga miskin mengakses makanan, pendidikan, dan kesehatan yang lebih baik. Mereka dapat membeli makanan yang lebih bergizi dan buku pelajaran yang lebih murah. Lalu apa alasan uang keluarga miskin tersebut harus disetor dulu ke negara sebelum dikembalikan pada mereka?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana dengan argumentasi saya sendiri di posting sebelumnya, bahwa pembangunan infrastruktur dan investasi publik lainnya memberikan imbal lebih besar dari subsidi BBM. Kita bisa yakin akan imbal neto positif bagi seluruh masyarakat. Yang kita tidak bisa yakin adalah distribusi manfaat dan kapan manfaat tersebut dirasakan. Investasi publik tidak selalu berpihak pada orang miskin. Manfaatnya juga baru dirasakan dalam jangka panjang, masa yang menurut Keynes kita semua telah mati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan perbandingan sederhana subsidi harga dan subsidi langsung di atas, tidak ada keunggulan mutlak dari mekanisme subsidi langsung terhadap subsidi harga. Jika demikian, mengapa penggantian subsidi harga oleh subsidi langsung begitu digembor-gemborkan sebagai kebijakan yang rasional?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya menduga latar belakang pengurangan subsidi BBM lebih diwarnai oleh pandangan perlunya membawa harga pada tingkat yang “benar”, yakni tingkat harga yang mencerminkan kelangkaannya. Harga BBM domestik yang lebih rendah dari harga pasar internasional mendorong orang mengkonsumsi BBM secara boros: perilaku keliru dalam situasi kelangkaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kelemahan argumentasi pemborosan terletak pada asumsi bahwa kenaikan harga BBM akan mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Padahal, permintaan bahan bakar bersifat inelastis karena masyarakat tidak memiliki pilihan. Kenaikan harga mungkin mendorong pengembangan energi alternatif dalam jangka panjang karena potensi besar permintaan terhadap bahan bakar alternatif yang lebih murah. Walau upaya riset dan pengembangan bisa merupakan fungsi dari kesempatan yang diberikan oleh situasi pasar, inovasi tetap bersifat eksogen: kita tidak tahu kapan inovasi energi alternatif ini memberikan kita produk yang layak dipasarkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kenaikan harga BBM pada tahun 2008 ini merupakan kenaikan yang telah kesekian kali. Dengan demikian, kita telah memperoleh cukup observasi untuk melakukan eksperimen natural  mengevaluasi dampak neto paket kenaikan BBM + kompensasi, baik dalam bentuk bantuan langsung tunai,  bantuan tunai bersyarat, dan program anti kemiskinan lainnya. Siapa bersedia mengawali evaluasi dampak kebijakan lintas-tempat dan lintas-tahun ini?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1811759437424423659?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1811759437424423659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1811759437424423659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1811759437424423659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1811759437424423659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/09/goyahnya-pendirian-tentang-subsidi-bbm.html' title='Goyahnya Pendirian tentang Subsidi BBM'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-597130617634675734</id><published>2008-09-20T08:34:00.004-04:00</published><updated>2009-01-22T01:48:45.827-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Kegagalan Sistem Keuangan Barat</title><content type='html'>Departemen Keuangan sedang mempersiapkan Draf RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). RUU ini disusun untuk mengatur langkah yang diperlukan jika krisis keuangan terjadi di Indonesia. Kita pernah mengecap pahitnya krisis tersebut sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu, pemerintah telah memperbaiki sistem keuangan dengan mengatur kembali syarat kecukupan modal, merger bank, jaminan simpanan, dll. Seluruh standar regulasi keuangan negara maju berusaha kita praktikkan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironinya, kini negara-negara maju di Amerika dan Eropa yang menjadi acuan regulasi keuangan tersebut justru sedang mengalami krisis keuangan yang sangat parah. Jika negara yang menerapkan praktik terbaik sistem keuangan saja gagal, bagaimana dengan kita yang memiliki praktik lebih buruk? Kita seperti anak ayam kehilangan induk. Kepada siapa sistem keuangan kita harus berkiblat?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan mendasar mengenai krisis keuangan dan penanganannya adalah mengenai apakah krisis ini muncul di seluruh sistem keuangan atau hanya di sistem keuangan tertentu saja, yakni sistem yang saat ini dijalankan di hampir seluruh belahan dunia.  Variasi jawaban dari pertanyaan pertama memiliki konsekuensi penanganan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika krisis ini muncul pada satu model sistem keuangan saja, maka cara terbaik menghindari krisis inia adalah dengan mengganti sistem keuangan yang berlaku dengan sistem yang lebih tahan krisis. Tentunya sangat sulit untuk mengganti sistem keuangan. Perubahan lembaga, aturan, budaya, dan cara pandang memerlukan biaya dan upaya yang sangat besar. Perlu dievaluasi terlebih dulu apakah manfaat dari perubahan sistem keuangan ini, berupa tercegahnya krisis keuangan, memang lebih besar daripada biaya yang diperlukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika krisis ini dapat muncul di sistem keuangan manapun, maka cara termudah dan termurah, walau belum tentu yang terbaik, untuk mencegahnya adalah dengan memperbaiki sistem keuangan yang saat ini sedang berjalan. Ketika proses berpikir kita belum lengkap untuk mengetahui mana jawaban yang tepat, maka kita cenderung meminimumkan risiko dengan mengambil langkah yang membutuhkan biaya paling rendah. Karena itu, selama ini kita hanya menempuh perbaikan tambal-sulam terhadap sistem keuangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar praktisi dan pembuat kebijakan ekonomi masih meragukan adanya sistem keuangan alternatif dari sistem yang telah dipraktikkan oleh negara-negara maju. Walau lembaga-lembaga keuangan Islami sudah menunjukkan eksistensi dan daya tahannya, mereka masih sangsi jika konsep keuangan Islam telah cukup lengkap dan teruji untuk menggantikan sistem yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesangsian pertama dapat dijawab dengan tawaran konsep sistem keuangan yang detil. Namun, menjawab kesangsian kedua akan jauh lebih sulit. Selama belum ada negara yang menerapkan sistem keuangan Islam ini dengan utuh, paling tidak dominan, maka tidak ada verifikasi empiris atas klaim kestabilan sistem keuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem keuangan Islam mungkin pernah ada dalam sejarah ketika khilafah Islam mendominasi dunia. Akan tetapi, pengumpulan data-data yang berusia ratusan tahun sulit dilakukan oleh ekonom umumnya. Hanya sejarawan yang menguasai bahasa Arab yang dapat menelusuri dokumen-dokumen peninggalan khilafah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, kelembagaan ekonomi dunia saat ini sudah sangat jauh berkembang. Tidak mungkin untuk kembali seratus persen pada kelembagaan keuangan Islam di masa khilafah. Perkembangan sistem keuangan yang setelah masa Islam dipimpin oleh Eropa dan Amerika memiliki keunggulan dan kerugian yang perlu dipilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak inovasi keuangan di masa kejayaan peradaban Barat. Inovasi yang kini menjadi raksasa besar adalah pasar modal dan pasar uang. Di kedua pasar ini perputaran uang dan pencapaian harga keseimbangan berlangsung cepat. Masalah asimetri informasi dan prinsipal-agen diminimalkan dengan berbagai regulasi. Asuransi juga menjadi instrumen keuangan yang penting pada negara maju, baik diselenggarakan swasta maupun negara. Bank menjadi perantara yang menyalurkan dana penabung kepada peminjam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi masing-masing lembaga nampak memberi manfaat besar untuk masyarakat. Lalu di mana letak kesalahan mereka sehingga krisis selalu timbul dengan membawa kerugian yang besar pula untuk masyarakat? Perhatian ekonom Barat selalu berfokus pada kehati-hatian, pengawasan, transparansi, dan jaring pengaman. Partai Demokrat menuding kebijakan deregulasi Bush sebagai biang krisis. Ekonom ini menganjurkan pengaturan kembali sistem keuangan. Dani Rodrik bahkan kembali melemparkan gagasan pajak modal untuk mengerem laju uang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seperti biasa, gagasan-gagasan aneh tersebut tidak pernah ditanggapi serius. Gedung putih dan Bank Sentral AS memilih langkah konvensional untuk menangani krisis. Selamatkan institusi-institusi yang terlalu besar untuk gagal, seperti Fannie dan McFaddie. Langkah yang sama dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan menalangi utang konglomerat dan bank-bank yang sekarat pada krisis lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu keheranan besar pada diri saya adalah mengapa seakan-akan terdapat kesepakatan bahwa aktivitas spekulasi haram dikambing-hitamkan. Alasan standar yang melindungi spekulasi adalah bahwa mereka hanya merespon situasi pasar. Pada kondisi normal, spekulan adalah agen yang berjasa mengantarkan harga pasar pada keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menilik konsep ekonomi yang ditawarkan oleh Islam, mekanisme transaksi menjadi perhatian besar selain pada komoditas yang diperdagangkan itu sendiri. Islam melarang transaksi yang mengandung unsur perjudian (maysir), informasi tersembunyi (gharib), dan tambahan tetap atas pinjaman (riba). Transaksi seperti itu menimbulkan kerugian, terutama pada konsentrasi sumber daya pada alokasi non riil atau tidak produktif, rendahnya kewirausahaan, dan perekonomian gelembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ekonom Barat tidak pernah menyinggung mekanisme transaksi dari segala instrumen yang muncul di pasar. Mereka memandang bahwa tiap inovasi instrumen keuangan adalah inisiatif swasta yang bermanfaat untuk masyarakat, sehingga mereka harus dirangsang bukannya dibatasi. Sebagaimana inovasi dalam produk-produk riil, pasar dipercaya mampu mengeliminasi produk keuangan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dalam praktiknya pasar keuangan gagal untuk mengeliminasi produk buruk. Di Indonesia, kombinasi antara utang luar negeri yang terlampau besar dan tak terawasi, kejatuhan nilai mata uang, serta rendahnya supervisi perbankan menyebabkan hancurnya bank-bank yang menjadi urat nadi pemasok dana pada produsen barang dan jasa. Di Amerika Serikat, produk hipotek yang buruk laris terjual karena menjanjikan bunga yang tinggi, sementara kerugian potensial dari gagal bayar tidak terlalu menjadi pertimbangan. Situasi ini mirip dengan kasus lembaga keuangan mikro atau perusahaan pengelola investasi di Indonesia yang menjanjikan bunga tinggi akan tetapi pada akhirnya gagal membayar sesuai janji, atau lebih ekstrim lagi uang nasabah dibawa kabur pemilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruntuhan lembaga-lembaga keuangan besar Amerika terjadi karena mereka memiliki sekuritas hipotek tersebut dalam jumlah besar. Keterkaitan antara perusahaan-perusahaan keuangan melalui kepemilikan silang saham dan surat berharga lain menyebabkan penularan masalah di antara perusahaan tersebut berlangsung cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak semua sekuritas buruk akan membawa dampak yang sama seperti yang ditimbulkan sekuritas hipotek ini. Dampak buruk itu terjadi karena pada saat bersamaan lembaga keuangan besar membelinya dalam jumlah besar, pemerintah memiliki sebagian saham lembaga keuangan besar tersebut, serta perusahaan pemeringkat tidak berfungsi normal pada penilaian sekuritas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan manfaat yang dibawa oleh inovasi keuangan Barat dan menjauhi risiko yang ditimbulkan, kita perlu memeriksa kembali bentuk-bentuk kelembagaan inovasi tersebut. Beberapa kasus negara baru yang tumbuh (China dan India) atau pulih cepat (Rusia dan Argentina) menunjukkan bahwa modifikasi mereka terhadap resep-resep konvensional Barat telah membawa kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengekoran sepenuhnya terhadap sistem keuangan Barat bukanlah merupakan pilihan sadar dari pengambil kebijakan dan praktisi di Indonesia, melainkan merupakan bukti kemalasan mereka untuk berpikir lebih sulit. Sistem keuangan barat sudah sangat sulit untuk dipelajari dan diadopsikan, namun memodifikasinya selain sulit juga tidak populer. Untuk apa memodifikasi sistem yang telah terbukti berhasil dijalankan oleh negara-negara dengan perekonomian termaju di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini alasan kedua tidak lagi relevan. Negara-negara maju tersebut sedang mengalami kehancuran sektor keuangan. Kini kita pantas meragukan sistem keuangan mereka dan mempertimbangkan alternatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis apakah dukungan pemerintah terhadap perkembangan lembaga keuangan Islam pasca krisis dilandasi lebih banyak oleh ketertarikan pada sistem alternatif atau mengikuti kemauan pemilik modal muslim. Keraguan pemerintah akan sistem alternatif ini diwujudkan dengan membiarkan sistem alternatif ini bersaing dengan sistem konvensional di pasar keuangan. Mungkin para pengambil kebijakan itu ingin menonton dulu dari kejauhan apakah sistem ekonomi Islam sebagai pemain baru ini benar-benar mampu mengungguli pemain kawakan sistem konvensional di lapangan, bukan hanya di atas kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi normal, sistem konvensional akan lebih menarik karena ia menciptakan gelembung besar ekonomi yang indah. Sistem konvensional baru akan menunjukkan kenyataan mengerikan di baliknya ketika gelembung itu pecah. Di saat gelembung pecah itu barulah sistem Islam terlihat gagah karena tonggak-tonggaknya terpancang kuat dalam fondasi transaksi yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, krisis satu kali belum cukup meyakinkan para ekonom yang berada di balik pengambil kebijakan mengenai ketangguhan sistem ekonomi Islam. Keraguan itu sebagian besar timbul karena ketidaktahuan bahwa sistem ekonomi Islam telah menyediakan alternatif cukup lengkap, bukan lagi sekedar jargon sebagaimana ekonomi pasar sosial, ekonomi Pancasila, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-597130617634675734?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/597130617634675734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=597130617634675734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/597130617634675734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/597130617634675734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/09/kegagalan-sistem-keuangan-barat.html' title='Kegagalan Sistem Keuangan Barat'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-5770369162079041581</id><published>2008-09-02T10:27:00.001-04:00</published><updated>2008-09-21T19:56:52.647-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketenagakerjaan'/><title type='text'>Simalakama Lapangan Kerja dan Kesejahteraan Pekerja</title><content type='html'>Pengangguran kentara dan terselubung menjadi masalah di sebagian besar negara berkembang. Jika dibiarkan mengikuti hukum pasar, upah akan rendah di negara yang memiliki banyak pengangguran. Upah rendah ini akan&amp;nbsp; mengundang investasi padat karya yang membuka lapangan kerja baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, konsep sederhana di atas tidak senantiasa berlaku di kenyataan. Para pekerja di negara berkembang menuntut perbaikan kesejahteraan. Mereka tidak sabar menunggu realisasi kenaikan upah saat pengangguran semakin berkurang di negaranya. Pekerja tidak puas hanya menuntut perbaikan kesejahteraan melalui perundingan dengan perusahaan. Mereka menuntut pemerintah agar meregulasi kompensasi pekerja supaya dapat hidup layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pekerja terkadang menuntut terlalu banyak. Ketika regulasi memenuhi tuntutan mereka dan mulai membebani perusahaan dengan banyak biaya kesejahteraan pekerja, pengusaha tidak lagi merasa betah meneruskan dan mengembangkan usahanya. Sebagian alasan mereka rasional, yakni mereka melihat bahwa kenaikan biaya kesejahteraan untuk pekerja telah membuat usaha mereka tidak lagi menguntungkan. Sebagian alasan lebih bersifat emosional, yakni mengikuti gerak kawanan. Mereka mungkin enggan untuk mencurahkan perhatian pada negosiasi atau menangani pekerja yang "bandel, atau mereka mengikuti teman-teman mereka yang menutup atau beralih usaha karena alasan tersebut walau mereka sendiri belum mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, banyak pengusaha beralih dari sektor padat karya ke sektor padat modal atau bahkan melarikan modalnya ke negara lain. Modal baru pun enggan datang. Pengangguran bukannya berkurang, justru bertambah dengan banyaknya karyawan yang di-PHK perusahaan yang investornya beralih sektor atau hengkang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah simalakama itu muncul. Kita tidak menginginkan pertambahan pengangguran ini. Di sisi lain, kita juga tidak menginginkan pekerja dibayar dengan jumlah yang tidak mencukupi keperluan hidup yang layak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi atas simalakama tersebut dalam jangka panjang adalah dengan memperbaiki ketrampilan pekerja kita, sehingga mereka dapat bekerja pada bidang pekerjaan yang memberikan gaji yang layak. Jika penawaran pekerja tidak trampil semakin berkurang, tingkat upah mereka juga akan meningkat, sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju lain. Akan tetapi, solusi ini membutuhkan upaya jangka panjang dan penggarapan yang serius, suatu yang sulit ditemukan pada birokrasi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis alternatif adalah dengan mengelola persaingan agar tidak memaksa perusahaan untuk membayar buruh pada tingkat upah yang tidak layak. Akan tetapi, kelemahan alternatif ini adalah intervensi persaingan akan meniadakan insentif efisiensi dan pengembangan kualitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-5770369162079041581?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/5770369162079041581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=5770369162079041581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5770369162079041581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5770369162079041581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/09/simalakama-lapangan-kerja-dan.html' title='Simalakama Lapangan Kerja dan Kesejahteraan Pekerja'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7469286432995185395</id><published>2008-08-15T22:07:00.001-04:00</published><updated>2008-08-15T22:07:14.529-04:00</updated><title type='text'>Siapa Penyusun Pidato Kenegaraan Presiden?</title><content type='html'>Presiden SBY kembali melakukan kesalahan dalam pidato kenegaraan kemarin. Ia kembali membanggakan prestasi semu penurunan angka kemiskinan. Penurunan kemiskinan dikatakan semu karena angka yang digunakan adalah hasil survey sebelum kenaikan harga bbm. Hampir dipastikan angka kemiskinan itu kembali melonjak pasca kenaikan harga bbm.&lt;p&gt;Tahun 2006 Presiden telah melakukan kesalahan yang sama dengan membanggakan penurunan angka kemiskinan yang datanya juga diperoleh dari survey sebelum kenaikan harga bbm. Bagaimana bisa Presiden tersandung batu yang sama dua kali? Atau Presiden salah dalam  merekrut penyusun naskah pidato kenegaraan yang  begitu naif, asal comot data yang terlihat bagus. Semoga tidak ada ekonom yang terlibat dalam tim penyusun naskah pidato tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7469286432995185395?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7469286432995185395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7469286432995185395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7469286432995185395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7469286432995185395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/08/siapa-penyusun-pidato-kenegaraan.html' title='Siapa Penyusun Pidato Kenegaraan Presiden?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6135719360037117345</id><published>2008-08-01T23:55:00.001-04:00</published><updated>2008-08-01T23:55:38.579-04:00</updated><title type='text'>Kemiskinan turun?</title><content type='html'>BPS baru saja menerbitkan statistik kemiskinan yang menunjukkan turunnya jumlah orang miskin pada maret 2008 sebesar 2,21 juta orang dari angkanya pada maret 2007. Hanya saja perlu dicermati bahwa harga bbm naik setelah survey tersebut, sehingga kemungkinan besar angka tersebut sudah berubah drastis saat ini. Arah perubahan angka kemiskinan bergantung pada seberapa besar BLT mampu menghapus dampak kenaikan harga bbm.&lt;br&gt;Bagaimana jika kemiskinan naik pasca kenaikan harga bbm, apa yg harus dilakukan?&lt;br&gt;Prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengentasan kemiskinan adalah tidak ada solusi tunggal untuk seluruh kasus kemiskinan yang memiliki beragam penyebab. Namun tiap kasus dapat dikelompokkan menurut faktor penyebab yang paling dominan. Tiap kelompok ini bisa didekati dengan cara serupa.&lt;br&gt;Upaya pengentasan kemiskinan selama ini berfokus pada membuka lapangan kerja dan pengembangan kredit mikro. Akan tetapi, banyak dari orang miskin tidak tersentuh kedua program ini. Sampai sekarang, Lapangan kerja baru lebih banyak tercipta di kota dan hanya dapat diakses oleh warga yang berpendidikan dan memiliki akses informasi ke lapangan kerja di kota. Kredit mikro hanya diperoleh warga yang menjadi pemilik usaha. &lt;br&gt;Penduduk desa yang bermigrasi ke kota banyak terlempar ke sektor informal dan membentuk kaum miskin kota. Kemiskinan di desa diekspor ke kota.&lt;br&gt;Kaum miskin kota ini tidak akan kembali ke desa karena mereka juga tidak memiliki aset dan pekerjaan di desa. Walau banyak juga yang masih meninggalkan keluarga di desa dan mengirimkan hasil kerja mereka di kota ke desa.&lt;br&gt;Revitalisasi pertanian dan reformasi agraria di desa menjanjikan pengurangan kemiskinan dan penurunan beban kota. Sebaliknya, penataan kota mampu pula memperbaiki kualitas hidup dan memperluas penyerapan lapangan kerja sektor formal sehingga menurunkan kemiskinan. Penyebaran kawasan industri mampu meratakan perkembangan ekonomi dan meningkatkan efisiensi jika didukung infrastruktur memadai. Di sinilah letak leher botol ekonomi kita: kurang infrastruktur. Euforia demokrasi meningkatkan kesulitan koordinasi untuk membangun infrastruktur. Kapasitas kita untuk tumbuh sudah memadai. Jika sumbat infrastruktur ini dapat dilepas dengan dorongan kuat, pertumbuhan ekonomi akan segera mengalir deras.&lt;br&gt;Perlulah pemerintah menambah utang untuk membiayai dorongan kuat tersebut?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6135719360037117345?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6135719360037117345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6135719360037117345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6135719360037117345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6135719360037117345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/08/kemiskinan-turun.html' title='Kemiskinan turun?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-9048514447812986632</id><published>2008-05-07T06:38:00.004-04:00</published><updated>2008-05-07T07:07:46.543-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Energi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Sesat Pikir tentang Subsidi BBM dan Persoalan Timing Pencabutan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Mencermati tanggapan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;berbagai kalangan mengenai perlu-tidaknya kenaikan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;harga BBM bersubsidi, saya menemui beberapa kesalahan asumsi dan penyimpulan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan defisit APBN.&lt;/span&gt; Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan pendapatan dan belanja sekaligus, sehingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ceteris paribus &lt;/span&gt;dampak totalnya akan tidak signifikan, baik positif maupun negatif. Kenaikan defisit APBN 2008 lebih didorong oleh penurunan asumsi lifting minyak mentah dalam negeri, sehingga semakin banyak impor minyak yang diperlukan untuk mencukupi konsumsi domestik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Defisit ini harus dijaga agar tidak melebihi 2 persen. &lt;/span&gt;Doktrin tersebut adalah ajaran Washington Consensus yang dikampanyekan oleh IMF. Adalah wajar bagi suatu perekonomian dalam resesi jika pemerintah melakukan defisit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Memang dalam resesi saat ini yang bersumber dari sisi penawaran, kebijakan ekspansif berisiko meningkatkan inflasi. Namun jika memang inflasi yang dikhawatirkan pemerintah dari besarnya defisit ini, maka kenaikan harga BBM bersubsidi tidak konsisten dengan kekhawatiran tersebut. Lalu untuk apa pemerintah menjaga defisit tetap rendah jika konsekuensinya justru meningkatkan inflasi sekaligus mengerem pertumbuhan ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak ada cara lain untuk mengurangi defisit kecuali kenaikan harga BBM bersubsidi&lt;/span&gt;. Sebaliknya, banyak cara selain  kenaikan tersebut. Pemerintah bisa melakukan efisiensi anggaran lebih jauh, menahan windfall profit kenaikan harga minyak mentah yang menjadi hak daerah, pembatasan BBM bersubsidi, dll. Kenaikan harga BBM bersubsidi sekarang lebih dimotivasi untuk memanfaatkan momentum dukungan sebagian masyarakat, khususnya dari asosiasi pengusaha dan sebagian ekonom, kepada kenaikan ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya hanya ingin menjelaskan duduk perkara agar tidak terjadi kesalahpahaman. Saya sendiri mendukung kenaikan harga BBM bersubsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Timing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hanya saja, saya masih mempertimbangkan satu argumentasi keberatan pada kenaikan tersebut, yakni persoalan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;timing&lt;/span&gt;. Baru saja pada awal tahun ini rakyat menderita akibat kenaikan harga komoditas pangan yang merupakan masalah internasional. Belum pulih dari penderitaan itu, rakyat harus lagi menderita jika harga BBM bersubsidi naik dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira sebaiknya kenaikan itu tidak dilakukan di awal bulan mendatang. Tunggulah sampai kuartal empat, sehingga masyarakat sudah cukup melakukan penyesuaian dengan kenaikan harga komoditas pangan lalu. UKMK sudah sempat menaikkan harga produknya dan para buruh sudah berhasil meminta kenaikan upah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-9048514447812986632?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/9048514447812986632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=9048514447812986632' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/9048514447812986632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/9048514447812986632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/05/sesat-pikir-tentang-subsidi-bbm-dan.html' title='Sesat Pikir tentang Subsidi BBM dan Persoalan Timing Pencabutan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1063268733706966544</id><published>2008-04-30T02:57:00.006-04:00</published><updated>2008-04-30T04:55:30.504-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><title type='text'>Kenihilan Rancangan Realokasi Subsidi BBM dari Depkeu</title><content type='html'>Dari berbagai berita dan sumber selama ini, terkesan pemerintah akan bertahan untuk tidak menaikkan harga BBM pada tahun ini. Namun, &lt;a href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/30/0818270/juni.bbm.bakal.naik"&gt;Kompas.com hari ini (30 April 2008) &lt;/a&gt;memuat isu bahwa Depkeu sedang mengkaji kenaikan harga BBM bersubsidi hingga 28,7 persen pada Juni 2008.  Kenaikan itu diestimasi akan menghemat APBN Rp 25,877 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan pada berita bahwa Rp 11,5 triliun dari penghematan akan dialokasikan untuk pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 19,1 juta rumah tangga miskin (RTM) untuk periode Juni 2008-Mei 2009 sebesar Rp 100.000 per RTM. Nampaknya ada kekeliruan dari narasumber atau pengutipannya, karena perkalian jumlah RTM, jatah BLT, dan 12 bulan pemberian seharusnya sekitar Rp 22,8 triliun, dua kali lipat dari angka yang disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selain itu, penghematan juga akan digunakan untuk menambah cadangan risiko (Rp 3 triliun ), pengurangan defisit (Rp 8,377 triliun), dan tambahan subsidi raskin (Rp 3 triliun).  Disebutkan pula bahwa diperkirakan rasio penduduk miskin dapat turun menjadi 14,2 persen dari perkiraan 19,5 persen jika tidak ada kebijakan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tertarik pada optimisme pengurangan kemiskinan yang disebutkan di atas. Saya teringat pada optimisme sama yang pernah dinyatakan pemerintah saat menaikkan harga BBM dibarengi membagi BLT pada tahun 2005. Kenyataannya, penduduk miskin bertambah 4,2 juta orang sepanjang periode Maret 2005- Februari 2006.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun ini saja kita sudah berulang  kali mendengarkan optimisme semu pemerintah akan kenaikan harga BBM, target inflasi, dan target pertumbuhan. Sejak awal pemerintah mengumumkan asumsi dan target tersebut, banyak analis sudah menggelengkan kepala. Nampaknya, pemerintah masih belum jera bermimpi indah di siang bolong. Kosong!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya berkata seperti itu bukan karena menentang kenaikan harga BBM. Sebaliknya, saya mendukungnya, namun dengan syarat penghematan tersebut dialokasikan untuk program yang mengkompensasi masyarakat bawah dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Simulasi Depkeu di atas baru memenuhi syarat pertama, namun tidak syarat kedua. Dari rancangan alokasi penghematan, nampak bahwa Depkeu hanya memikirkan penyelamatan anggaran, bukan penyelamatan ekonomi. Program BLT dan Raskin hanyalah kamuflase untuk mengurangi penolakan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenaikan tingkat kemiskinan akibat kenaikan harga BBM tidak akan terelakkan. Depkeu seharusnya lebih memperhatikan bahwa motif para ekonom dan kaum bisnis mendukung kenaikan harga adalah agar pemerintah memiliki keleluasaan anggaran untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur yang kondisinya kini sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Realokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur (yang disarankan banyak ekonom) maupun untuk pembangunan sektor pertanian (&lt;a href="http://ekonomi-baru-indonesia.blogspot.com/2008/04/minyak-untuk-pangan.html"&gt;yang lebih saya pilih&lt;/a&gt;)  akan mendorong ekonomi tumbuh lebih cepat sehingga dalam jangka panjang akan memberi manfaat neto positif ke seluruh lapisan masyarakat. Tanpa itu, pergeseran alokasi anggaran dari subsidi harga BBM ke BLT hanya akan meredistribusi penerima manfaat, namun secara keseluruhan ekonomi tidak menjadi lebih baik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;zero sum game&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1063268733706966544?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1063268733706966544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1063268733706966544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1063268733706966544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1063268733706966544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/04/kenihilan-rancangan-depkeu-untuk.html' title='Kenihilan Rancangan Realokasi Subsidi BBM dari Depkeu'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-487759397836575587</id><published>2008-04-15T02:55:00.007-04:00</published><updated>2008-04-15T05:46:03.796-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><title type='text'>Pekerjaan Deptan: Banyak tapi Belum Cukup</title><content type='html'>Pada posting lalu yang mengkomentari artikel Khudori berjudul "Daulat Pangan", saya menanyakan apa kerja departemen pertanian selama ini. Setelah saya telusuri di website mereka, saya menemukan &lt;a href="http://setjen.deptan.go.id/deptan/berita/06-2007/kinerja_pembang_tan_2006.pdf"&gt;laporan kinerja pembangunan pertanian tahun 2006&lt;/a&gt;. Pelaporan program dari Deptan sendiri ada pada bab 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan Deptan sudah cukup banyak. Namun sayangnya semua itu belum signifikan mengangkat kesejahteraan petani.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Laporan itu sendiri sekilas terkesan sekedar menyampaikan seluruh data program dan hasil. Analisis, jarang ditemui, kalaupun ada hanya 1-2 kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kesulitan mencerna apakah kenaikan harga produk pertanian dapat dianggap sebagai kinerja, karena kenaikan itu lebih banyak dinikmati oleh pedagang daripada oleh petani, sementara konsumen jelas dirugikan oleh kenaikan tersebut. Saya belum menemukan keterangan mengenai apakah strategi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani berupa kenaikan harga dan pembatasan impor, di mana konsekuensinya harus mengorbankan kesejahteraan konsumen. Mungkin saya perlu membaca lebih teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, selama jalur distribusi produk pertanian masih dikuasai segelintir pedagang, setiap kenaikan harga lebih banyak memberikan keuntungan pada mereka daripada pada petani. Kenyataannya, nilai tukar petani masih belum kembali ke tingkat semula setelah turun sejak pertengahan 2002. Grafik berikut diambil dari &lt;a href="http://www.bps.go.id/releases/files/ntp-03mar08.pdf?"&gt;laporan BPS Maret 2008&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_IHL47SJOnd8/SARxZgZZMwI/AAAAAAAAAEk/Et1TjcRR8CI/s1600-h/NTP+00-07.GIF"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_IHL47SJOnd8/SARxZgZZMwI/AAAAAAAAAEk/Et1TjcRR8CI/s400/NTP+00-07.GIF" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189397353644765954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Selain membenahi pengelolaan distribusi, skala usaha petani perlu ditingkatkan dan operasi mereka diefisienkan. Dua langkah tersebut akan meningkatkan marjin laba petani sekaligus menurunkan harga di tingkat konsumen. Dengan demikian, pemerintah tidak perlu lagi menghadapi simalakama pilihan untuk menguntungkan konsumen atau produsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thailand bisa mengembangkan pertaniannya. Kenapa kita tidak? Tentunya bukan sekedar perbedaan besar wilayah dan jumlah penduduk menyebabkan perbedaan capaian kita dengan Thailand. &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/berita/0607/26/opi01.html"&gt;Bungaran Saragih&lt;/a&gt; menduga penyebab keterbelakangan pertanian kita adalah ketidaksinkronan sektor lain dengan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, keterbelakangan sektor pertanian bukan kesalahan Deptan semata? Hmm... walaupun sektor dan departemen lain harus mendukung, koordinasi semua sektor yang terkait dengan pertanian tetap harus dipantau oleh Deptan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah awal, Deptan perlu memperbaiki sistem perencanaan dan evaluasinya agar mudah mengetahui letak kesalahan dari apa yang telah dilakukan Deptan selama ini. Amat disayangkan kalau kerja keras Deptan selama ini hanya menumbuhkan tanaman yang layu dan buah yang masam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-487759397836575587?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/487759397836575587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=487759397836575587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/487759397836575587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/487759397836575587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/04/banyak-tapi-belum-cukup-pekerjaan.html' title='Pekerjaan Deptan: Banyak tapi Belum Cukup'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_IHL47SJOnd8/SARxZgZZMwI/AAAAAAAAAEk/Et1TjcRR8CI/s72-c/NTP+00-07.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2518704546051643480</id><published>2008-04-14T00:08:00.004-04:00</published><updated>2008-04-14T00:37:38.377-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><title type='text'>Kredibilitas Target Inflasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Belakangan ini cercaan ekonom kepada Pemerintah yang tidak realistis dalam menetapkan target inflasi dan pertumbuhan semakin menguat. Saya jadi ingat pada artikel yang saya kirimkan ke Koran Tempo pada 9 Januari 2008, di mana saat itu Pemerintah dan BI baru saja mengumumkan target inflasi 5 persen. Karena saat itu tidak dimuat di Koran Tempo dan isunya justru menghangat saat ini, saya posting saja artikelnya berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat harga minyak dunia yang terus bertahan di atas 90 dolar per barel, hampir semua kalangan menduga akan terjadi kelesuan ekonomi dan tekanan inflasi pada 2008. Anehnya, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) masih percaya diri untuk menetapkan target inflasi tahun 2008 sebesar 5 persen plus minus satu. Padahal, realisasi inflasi 2007 saja telah mencapai 6,59 persen. Secara implisit, pemerintah dan BI sedang menyatakan bahwa mereka mampu mengurangi inflasi sebesar 1,59 persen pada skenario wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pernyataan implisit tersebut menjadi tidak konsisten dengan penyesuaian target inflasi yang turun sebesar 0,5 persen tiap tahun hingga 2010. Selisih target tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah dan BI bahwa mereka hanya bisa mengerem inflasi dengan perlambatan 0,5 persen per tahun. Lalu mengapa mereka berani menetapkan target inflasi 2008 yang turun drastis dari inflasi tahun lalu? Apalagi jika kita mengingat bahwa mereka tidak mencetak prestasi dalam pengereman inflasi selama tahun 2007, yang selisihnya dengan inflasi tahun 2006 hanya sebesar 0,1 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      BI sendiri memperkirakan inflasi tahun 2008 akan mencapai batas atas target pemerintah sebesar 6 persen jika harga minyak dunia berkisar pada 75-85 dolar per barel. Pada saat yang sama, Menteri Keuangan mengungkapkan program pengamanan APBN 2008 yang terdiri dari tiga skenario harga rata-rata minyak mentah Indonesia, yaitu 90 dollar AS per barel, 95 dollar AS per barrel, dan 100 dollar AS per barrel. Jika skenario harga minyak mentah dari Menteri Keuangan dimasukkan ke metode simulasi Bank Indonesia, sudah pasti akan didapatkan perkiraan inflasi tahun 2008 di atas 6 persen. Pernyataan-pernyataan pemerintah dan BI tersebut telah mementahkan target yang mereka buat sendiri. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertaruhan Kredibilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pemerintah dan BI menetapkan target inflasi tiga tahun ke depan untuk mempengaruhi ekspektasi masyarakat. Melalui pengumuman target inflasi yang rendah, tim berharap bahwa masyarakat akan memiliki ekspektasi inflasi yang rendah pula. Dengan demikian, faktor ekspektasi pada inflasi inti akan berkurang dan inflasi menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Akan tetapi, masyarakat tidaklah begitu naif untuk membentuk ekspektasi dengan mengikuti target yang ditetapkan pemerintah. Masyarakat hanya akan mengadopsi target inflasi ke dalam acuan ekspektasi jika pemerintah dan BI memiliki kredibilitas sebagai pengendali ekonomi makro yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Masalahnya kini, tim ekonomi justru sedang menggiring kredibilitas mereka kepada kehancuran dengan menetapkan target-target yang tidak realistik. Masyarakat akan menyadari bahwa realisasi inflasi melenceng jauh dari target. Setelah itu, masyarakat akan kapok untuk menjadikan target inflasi yang diumumkan pemerintah dan BI sebagai acuan. Alhasil, pemerintah dan BI kehilangan kesempatan untuk mengendalikan ekspektasi masyarakat. Upaya pemulihan kredibilitas akan membutuhkan waktu lama karena kesan awal yang ditanamkan sudah terlalu buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perkiraan kenaikan inflasi tahun 2008 bukanlah sekedar kecemasan yang jika dituruti justru berpotensi memenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecies). Tanda-tanda kegagalan pencapaian target inflasi dapat dilihat dari perkembangan faktor-faktor fundamental. Faktor paling kuat adalah kenaikan harga minyak di atas asumsi BI dan pemerintah. Semua faktor pendorong kenaikan harga minyak tahun lalu masih belum akan hilang pada tahun 2008 ini. Pertumbuhan Cina masih akan terus berlangsung sehingga permintaan energi masih akan tumbuh pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Di sisi penawaran, produksi minyak masih belum dapat ditingkatkan dengan cepat karena pemasangan fasilitas eksploitasi memakan waktu. Interupsi produksi karena kerusuhan sosial di negara-negara pengekspor minyak seperti Irak juga sepertinya masih akan menghambat pasokan minyak. Sementara, kelanjutan ancaman serangan Amerika Serikat terhadap Iran masih menunggu dan akan bergantung pada siapa yang terpilih menjadi presiden di negara adidaya tersebut. Pelemahan dolar secara umum dan pelemahan rupiah terhadap dolar semakin mengerek naik harga minyak dalam rupiah. Imbas kenaikan harga minyak pada harga produk industri yang menggunakan minyak non-subsidi tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Komoditas penting lain yang berpotensi mendorong inflasi adalah bahan makanan, terutama beras. Produksi beras diperkirakan menurun pada 2008 ini karena banyak lahan sawah terendam banjir di awal tahun. Walaupun luas lahan yang terendam tidak seberapa, dampaknya pada ekspektasi masyarakat akan signifikan. Ekspektasi yang sudah terbentuk pada masyarakat akan dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang  besar untuk menaikkan harga. Mereka dapat memupuk ekspektasi tersebut dengan cara sengaja menciptakan kelangkaan di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Banjir juga telah merusak prasarana sehingga distribusi segala macam komoditas akan tersendat. Konsumsi bahan bakar pun akan meningkat dan berimbas pada kenaikan harga komoditas tersebut. Keterlambatan pasokan juga berujung pada kelangkaan produk yang sementara namun sering berulang. Hal ini semakin mengakumulasi ekspektasi masyarakat bahwa harga akan naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kemunduran sisi penawaran akibat faktor-faktor di atas memberikan buah simalakama pada pemerintah. Jika pemerintah ingin mencapai target pertumbuhan dengan menerapkan kebijakan ekspansif, inflasi akan semakin meninggi. Sebaliknya, jika pemerintah ingin mengerem laju inflasi, pertumbuhan ekonomi akan tersendat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Beberapa rencana kebijakan pemerintah dan BI menandakan bahwa mereka lebih memilih opsi pertama. Gubernur BI mengungkapkan rencana untuk mendorong pertumbuhan kredit sebesar 23 persen untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Tidak seperti target inflasi, angka 23 persen ini cukup realistik mengingat pertumbuhan kredit pada tahun lalu mencapai 25 persen. Namun perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan tahun lalu dicapai dengan penurunan BI rate berkali-kali, dari 9,5 persen pada Januari 2007 menjadi tinggal 8 persen di akhir tahun. Kemungkinan penurunan BI rate lebih jauh sangat bergantung pada situasi ekonomi eksternal, terutama untuk mencegah keluarnya modal asing secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Menjelang pemilu 2009, pemerintah juga dikhawatirkan akan cenderung mengobral uang untuk mencapai kinerja yang memuaskan publik. Realisasi pembangunan infrastruktur yang selama ini tertunda akan diakselerasi pada tahun 2008, tercermin oleh salah satunya kebijakan dana cadangan dan patokan harga pembebasan tanah untuk pembangunan jalan tol. Menko Kesra juga berencana menggelontorkan puluhan trilyun untuk program pengentasan kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Revisi target inflasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      Jika faktor-faktor lain tidak berubah dari tahun lalu, perkawinan antara kebijakan ekspansif pemerintah dan kemunduran sisi penawaran akibat kenaikan harga minyak sudah cukup memastikan adanya akselerasi inflasi pada tahun ini. Realisasi inflasi hampir dipastikan akan meleset dari target yang telah ditetapkan Menkeu. Karena itu, pemerintah dan BI sebaiknya segera merevisi target inflasi jika ingin menyelamatkan kredibilitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Upaya pengendalian ekspektasi merupakan strategi baru pemerintah dan BI dalam mengurangi inflasi. Pada masa awal penerapannya, pemerintah dan BI lebih baik memprioritaskan pembangunan kredibilitas dengan cara menetapkan target-target yang dapat dicapai. Manuver target penurunan inflasi yang drastis justru dapat menggulingkan lokomotif kredibilitas sehingga gerbong ekspektasi masyarakat akan melaju tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2518704546051643480?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2518704546051643480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2518704546051643480' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2518704546051643480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2518704546051643480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/04/kredibilitas-target-inflasi.html' title='Kredibilitas Target Inflasi'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-4390028278094897842</id><published>2008-04-06T22:37:00.005-04:00</published><updated>2008-04-30T04:50:25.159-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><title type='text'>Urgensi Kenaikan harga BBM</title><content type='html'>Menghadapi kenaikan harga minyak mentah internasional, banyak ekonom dan praktisi bisnis telah menyatakan perlunya rasionalisasi (kenaikan) harga BBM bersubsidi dalam negeri. Saya sudah menemui dukungan tersebut dari berbagai kelompok: Sri Adiningsih dari UGM, Faisal Basri dan Chatib Basri dari UI, Fadhil Hasan dari INDEF. Pengusaha pun, diwakili oleh APINDO dan KADIN, sudah menyatakan dukungannya terhadap kenaikan harga BBM tersebut, selama tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kenaikan sudah sangat jelas dan sangat banyak. Alokasi subsidi BBM dalam APBN sudah terlampau besar. Akibatnya, APBN menjadi terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Pembangunan modal fisik dan manusia sulit dilakukan karena tidak tersedia cukup dana. Subsidi juga mendorong pemborosan energi yang semakin langka dan menimbulkan penyelundupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Pemerintah terus berkeras untuk mempertahankan harga BBM. Kabinet SBY-JK tidak berani mengambil kebijakan yang tidak populis pada tahun terakhir masa jabatannya. Apalagi, inflasi sudah sangat tinggi karena didorong kenaikan harga BBM industri dan kenaikan harga pangan. Kenaikan harga BBM bersubsidi akan semakin menambah penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa usulan kebijakan telah diajukan. Yang paling ekstrim adalah pencabutan subsidi keseluruhan, di mana secara teori opsi ini adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;first-best policy&lt;/span&gt;. Sebagian besar ekonom mendukung kenaikan harga secara bertahap. Faisal Basri menyebutkan angka 5 persen per tahun, sedangkan Chatib Basri 10 persen. Saya sendiri cenderung menyarankan kenaikan 15-25 persen per tahun untuk mengimbangi kenaikan harga minyak dunia yang sejak tahun 2000 mencapai rata-rata 20 persen. Bahkan, jika kita menyepakati untuk menghilangkan subsidi secara bertahap, kenaikan harga BBM tiap tahun minimal 30 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opsi lain yang diajukan pemerintah mengenai pembatasan BBM bersubsidi juga menarik untuk dikaji. Saya sudah membahasnya pada posting lalu berjudul "Pembatasan Minyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opsi manapun yang berdampak pada kenaikan harga akan menghadapi resistensi dari masyarakat. Dan pemerintah tidak akan berani mengambil opsi-opsi tersebut jika resistensi sangat tinggi. Karena itu, hal yang kini perlu dipikirkan adalah bagaimana jalan mengurangi resistensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat akan kurang resisten jika pemerintah dapat menjelaskan bahwa alokasi subsidi BBM itu dialihkan untuk hal lain yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan mereka. Masyarakat harus merasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;better-off&lt;/span&gt; pasca kebijakan ini, terutama masyarakat lapis terbawah. Karena itu, pengalihan subsidi BBM untuk infrastruktur akan sulit diterima masyarakat karena dampaknya baru dirasakan beberapa tahun mendatang. Pengalihan tersebut harus dirasakan manfaatnya segera setelah kenaikan subsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa berangkat dari mengevaluasi pengalihan subsidi BBM yang pernah dilakukan tahun 2005. Hasil evaluasi &lt;a href="http://www.smeru.or.id/report/research/blt/blt_dki_ind.pdf"&gt;SMERU (2006)&lt;/a&gt; menunjukkan bahwa program Bantuan Langsung Tunai berhasil memberikan manfaat besar pada penerimanya. Akan tetapi, jumlah penduduk miskin tetap naik menjadi 39,3 juta pada tahun 2006 dari sebelumnya 35,1 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua faktor menyebabkan kegagalan program BLT mencegah kenaikan kemiskinan. Pertama, tidak tercakupnya sebagian keluarga miskin akibat kelemahan identifikasi dan kolusi pada pelaksanaan. Faktor kedua adalah singkatnya masa pemberian BLT, yakni hanya tiga bulan, padahal penurunan pendapatan riil masyarakat bawah akibat kenaikan harga BBM &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;terus&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan Chatib Basri mengenai pengalihan subsidi minyak menjadi subsidi pangan cukup menggiurkan karena manfaatnya dapat dirasakan cepat. Saya menambahi usulan tersebut dengan pembenahan sektor pangan pada posting saya berjudul &lt;a href="http://ekonomi-baru-indonesia.blogspot.com/2008/04/minyak-untuk-pangan.html"&gt;"Minyak untuk Pangan"&lt;/a&gt; di blog Ekonomi Baru Indonesia. Prinsipnya, realokasi subsidi BBM ini perlu disalurkan ke dua arah: kompensasi bagi masyarakat miskin dan peningkatan produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Direvisi terakhir 30 April 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-4390028278094897842?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/4390028278094897842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=4390028278094897842' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4390028278094897842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/4390028278094897842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/04/urgensi-kenaikan-harga-bbm.html' title='Urgensi Kenaikan harga BBM'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-5487775841839654265</id><published>2008-04-01T07:37:00.004-04:00</published><updated>2008-04-01T07:51:07.660-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Daulat Pangan--Khudori</title><content type='html'>Khudori memberikan rekomendasi menyeluruh mengenai pembangunan sektor pertanian yang perlu dilakukan untuk mencapai kedaulatan pangan. Masing-masing poin yang ia sebutkan dapat menjadi obyek kajian sendiri terkait biaya-manfaat dan kelayakan politiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat seluruh rekomendasinya, mungkin terbersit dalam benak kita, "apa kerja menteri pertanian selama ini?". Sepertinya, institusi berupa departemen tidak dapat diharapkan untuk melakukan terobosan. Mungkin, kita perlu komite atau dewan khusus berisikan pakar-pakar pertanian yang fokus bertugas membenahi sektor pertanian. Komite ini perlu diberi segala kewenangan yang diperlukan, terutama pada bidang pembenahan yang rawan seperti reformasi agraria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.01.0043303&amp;channel=2&amp;mn=158&amp;idx=158"&gt;Daulat Pangan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 1 April 2008&lt;br /&gt;Oleh Khudori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasyarat ketahanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan pangan merupakan prasyarat ketahanan. Ketahanan pangan baru tercipta jika kedaulatan pangan dimiliki rakyat. Dari perspektif ini, pangan dan pertanian seharusnya tak ditaruh di pasar yang rentan, tetapi ditumpukan pada kemampuan sendiri. Untuk menciptakan kedaulatan pangan, pemerintah harus menjamin akses tiap petani atas tanah, air, bibit, dan kredit. Di tingkat nasional, kebijakan reforma agraria, air untuk pertanian, aneka varietas lokal unggul, dan kredit berbunga rendah harus jadi prioritas. Dalam konteks alam, petani perlu perlindungan atas aneka kemungkinan kerugian bencana alam, seperti kekeringan, banjir, dan bencana lain. Negara perlu memberi jaminan hukum bila itu terjadi, petani tidak terlalu menderita. Salah satu caranya, perlu UU yang mewajibkan pemerintah mengembangkan asuransi kerugian atau kompensasi kerugian bagi petani atas bencana alam/hal sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup sosial-ekonomi, negara perlu menjamin struktur pasar yang menjadi fondasi pertanian. Ini harus dikembangkan guna mengatasi struktur pasar yang tidak adil di dalam negeri dan siasat atas struktur pasar dunia yang tak adil bagi negara berkembang. Pendek kata, semua yang menambah biaya eksternal petani, menurunkan harga riil produk pertanian dan struktur yang menghambat kemajuan pertanian, perlu landasan hukum yang kuat (Pakpahan, 2004). Bagi Indonesia, dengan segenap potensinya, tidak ada alasan untuk tidak berdaulat dalam pangan.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-5487775841839654265?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/5487775841839654265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=5487775841839654265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5487775841839654265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5487775841839654265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/04/daulat-pangan-khudori.html' title='Daulat Pangan--Khudori'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2028777905181256414</id><published>2008-04-01T06:52:00.004-04:00</published><updated>2008-04-02T06:55:39.099-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Indonesia Tak Siap Hadapi Krisis?--Sri Adiningsih</title><content type='html'>&lt;a href='http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.01.00421412&amp;amp;channel=2&amp;amp;mn=158&amp;amp;idx=158'&gt;Sri Adiningsih&lt;/a&gt; mengingatkan kita bahwa besarnya belanja subsidi untuk mempertahankan taraf konsumsi masyarakat bukannya tanpa biaya. Korban terbesar dari pembengkakan subsidi adalah belanja infrastruktur yang semakin menciut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kemandekan pembangunan ekonomi dan ketidaksiapan Indonesia menghadapi krisis membuat ekonomi Indonesia ada pada posisi berbahaya jika pengelola ekonomi masih terus menjalankan kebijakannya selama ini. Apalagi jika kebijakan fiskal lebih banyak dimensi politiknya daripada mengatasi masalah ekonomi yang sedang dihadapi bangsa dan mengabaikan pertimbangan rasional dari sisi ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dalam kondisi keuangan negara yang masih berat, kondisi fiskal belum sustainable, pengelolaan fiskal yang tidak rasional akan memperburuk kondisi ekonomi. Kita terjebak kepentingan jangka pendek dari pihak-pihak yang memegang kekuasaan sehingga kepentingan rakyat dikorbankan. Sementara itu, pembangunan berjalan di tempat, infrastruktur penting banyak yang rusak berat. Namun, otoritas tampaknya tidak melihat itu semua, atau tidak mau melihat itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah untuk melihat persoalan itu kita harus mendengarkan profesor asing yang menguliahi kita seperti Steve Hanke. Dia saja dari jauh dapat melihat ada masalah dalam kebijakan ekonomi kita. Di mana alokasi anggaran yang berat pada subsidi (padahal banyak yang tidak tepat sasaran) sehingga anggaran untuk infrastruktur dan SDM yang penting untuk membangun ekonomi Indonesia ke depan justru dikorbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga karena subsidi yang membengkak membuat defisit APBN melesat, yang akhirnya harus dibiayai dengan tambahan utang. Artinya, generasi mendatang harus membiayai konsumsi generasi sekarang. Sungguh kasihan anak cucu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pola itu masih akan berlangsung pada tahun-tahun mendatang, jelas akan membuat ekonomi kita tidak maju, bahkan mengalami kemerosotan. Padahal, jika anggaran yang disalurkan untuk subsidi tahun ini digunakan membangun jalan bebas hambatan (kualitas jalan tol) bisa mencapai 4.000 km, dalam dua tahun akan bisa dibangun 8.000 km. Ini akan membuat infrastruktur kita setara dengan China sehingga mampu menjadi modal&lt;br /&gt;bagi kebangkitan ekonomi, bisa memperbaiki kehidupan kita pada masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan fiskal memegang peran penting dalam pengelolaan ekonomi suatu negara. Alokasi anggaran dan cara membiayainya akan memeng aruhi perekonomian suatu negara.Apalagi bagi negara yang memiliki beban utang besar seperti Indonesia, yang ekonominya masih ”terpuruk” (jumlah pengangguran dan kemiskinan masih besar). Belum lagi dana terbatas dari APBN yang seharusnya digunakan untuk membangun agar ekonomi dapat bangkit malah dihamburkan untuk konsumsi, dalam bentuk subsidi yang banyak salah sasaran. Padahal, nilainya bisa mencapai 20 persen dari anggaran tahunan dan sebagian dibiayai dari utang. Akankah ini dibiarkan terjadi?&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kesejahteraan di masa depan hanya dapat dicapai dengan peningkatan pendapatan. Untuk itu, ekonomi memerlukan investasi pada modal fisik maupun modal manusia. Subsidi harga selain mengurangi alokasi anggaran untuk investasi publik juga mendorong konsumsi agregat. Dari sudut pandang ini, subsidi merupakan kebijakan yang berdampak buruk pada masa depan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari sudut pandang lain, subsidi berperan penting bagi ekonomi bukan hanya di masa sekarang, namun juga di masa depan. Tanpa subsidi, masyarakat miskin akan mengurangi jumlah dan kualitas asupan gizi, pemeliharaan kesehatan dan mutu pendidikan. Akibatnya, anak-anak dari keluarga miskin akan kehilangan kesempatan untuk keluar dari kemiskinan dan berkontribusi lebih besar pada ekonomi di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan yang mengkompromikan dua perspektif di atas adalah pengalihan subsidi harga menjadi subsidi langsung pada keluarga miskin. Subsidi langsung membutuhkan anggaran jauh lebih kecil daripada subsidi harga, sehingga alokasi anggaran untuk investasi publik dapat diperbesar. Akan tetapi, pengalaman menunjukkan bahwa subsidi langsung menghadapi kendala identifikasi penerima. Ketidaktepatan distribusi subsidi di banyak tempat menimbulkan masalah konflik sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan baru memang tidak pasti berdampak neto positif pada kesejahteraan masyarakat. Namun kita tahu pasti bahwa model pengelolaan anggaran saat ini tidak layak diteruskan. Kita perlu berani membanting setir agar terhindar dari lubang yang telah jelas terlihat di depan walau kita tidak tahu pasti risiko apa yang kita hadapi setelah arah kendaraan ekonomi berubah. Kita akan antisipasi dan memperbaiki langkah kita sambil meneruskan perubahan arah. Paling tidak, kita punya harapan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2028777905181256414?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2028777905181256414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2028777905181256414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2028777905181256414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2028777905181256414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/04/indonesia-tak-siap-hadapi-krisis-sri.html' title='Indonesia Tak Siap Hadapi Krisis?--Sri Adiningsih'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2489921149648437935</id><published>2008-03-18T00:53:00.003-04:00</published><updated>2008-03-22T04:58:40.224-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Reregulasi Pasar Keuangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=52122&amp;Itemid="&gt;Investor Daily&lt;/a&gt; (18/3) memberitakan bahwa krisis finansial di AS mendorong spekulan memindahkan uangnya dari surat berharga ke komoditas primer, sehingga harga komoditas terdorong naik. Yang menarik adalah tanggapan dari penulis berita terhadap perilaku investor finansial ini.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menyalahkan ulah para investment banker dan hedgefunds yang kini menyerbu komoditas pangan. Kegiatan utama mereka adalah melipatgandakan keuntungan. Di mana ada potensi keuntungan, ke sana mereka pergi. Seperti air yang selalu mengalir ke tempat yang rendah, para pengelola dana pun selalu mencari lahan investasi yang memberikan keuntungan.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah perbuatan investor finansial ini tidak salah? Apakah ada permasalahan etik di industri keuangan? Jika ada permasalahan etik, perlukah ditegakkan dengan regulasi?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah-benar bergantung pada standar yang digunakan. Jika standar etika digunakan, maka orang biasanya berkelit dengan mempertanyakan standar etika siapa yang akan digunakan.  Maka standar paling jelas adalah hukum yang berlaku. Selama hukum tidak melarang perbuatan investor tersebut, maka tidak ada yang salah dari perbuatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, dalam negara demokrasi yang tidak mengenal absolutisme hukum, masyarakat dapat mengupayakan perubahan hukum yang merugikan mereka. Jika masyarakat merasa bahwa kegiatan spekulasi investor merugikan mereka, maka masyarakat dapat menuntut lembaga perwakilan untuk membuat aturan yang melarang kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, suatu aturan tidak dapat diterbitkan hanya berdasarkan reaksi masyarakat awam. Pendapat para ahli juga menjadi pertimbangan. Di sinilah ekonom berperan menyampaikan argumentasi apakah aturan lama (baru) telah (akan) membawa manfaat atau bencana pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi yang membawa manfaat langsung pada masyarakat adalah pembelian alat dan bahan produksi pada awal dan selama beroperasinya perusahaan. Aktivitas di pasar keuangan yang berkaitan langsung dengan investasi ini berada di pasar primer. Sementara pasar sekunder hanya memindahkan kepemilikan instrumen investasi di antara para investor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen derivatif lebih renggang lagi terkait dengan aktivitas riil perusahaan atau perekonomian. Instrumen derivatif menjadi pisau bermata dua. Pada satu sisi, instrumen derivatif bermanfaat untuk melindungi pembelinya dari risiko. Di sisi lain, instrumen derivatif sering digunakan untuk spekulasi yang justru membawa risiko pada perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pihak ketiga yang menjadi pengawas dari aktivitas keuangan yang mempromosikan jenis-jenis transaksi dan instrumen keuangan yang bermanfaat dan menyeleksi agar transaksi yang merugikan masyarakat tidak dilangsungkan. Pihak ketiga ini biasanya adalah pemerintah, melalui badan pengawas pasar uang. Departemen Keuangan telah memiliki Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Akan tetapi, Bapepam belum menjalankan fungsi seleksi jenis transaksi tersebut. Jangankan Bapepam, House Financial Services pemerintah AS saja baru mengeluarkan wacana pengetatan supervisi dan regulasi terhadap pasar finansial yang kembali menjerumuskan AS ke dalam krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas modal ke berbagai negara membuat negara-negara kesulitan meregulasi aktivitas pasar uang. Pemerintah masing-masing negara khawatir jika mereka meregulasi aktivitas investor, investor tersebut akan melarikan uangnya ke negara lain di mana mereka dapat lebih bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas modal lintas-negara ini hanya dapat diatur melalui regulasi yang juga bersifat lintas-negara. Koordinasi kebijakan pengaturan pasar keuangan antarnegara akan mempersempit pilihan investor karena banyak negara menerapkan peraturan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2489921149648437935?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2489921149648437935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2489921149648437935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2489921149648437935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2489921149648437935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/reregulasi-pasar-keuangan.html' title='Reregulasi Pasar Keuangan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7626295997975221453</id><published>2008-03-14T07:23:00.003-04:00</published><updated>2008-03-14T07:31:23.821-04:00</updated><title type='text'>Flight to commodities, sampai kapan? - Helmi Arman</title><content type='html'>Analisis Helmi Arman di Bisnis Indonesia (10/03/2008) pada perkembangan harga komoditas primer menyimpulkan bahwa kenaikan harga belakangan ini disebabkan lebih banyak oleh pengalihan arus likuiditas dari instrumen keuangan daripada faktor fundamental atau pelemahan dolar AS. Untuk kasus minyak, saya menilai pengalihan arus likuiditas itu hanya memperkuat tren kenaikan yang memang didorong oleh kekurangan pasokan minyak. Sedangkan kenaikan harga emas dipengaruhi bersamaan oleh pelemahan dolar dan spekulasi dari pengalihan likuiditas ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;a href="http://web.bisnis.com/artikel/2id1009.html"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Flight to commodities, sampai kapan?&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Helmi Arman (Ekonom Bahana Securities)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, dunia menghadapi anomali. Di tengah prospek melesunya pertumbuhan ekonomi dunia, harga komoditas primer justru melambung tinggi. Sampai kapankah tren ini berlanjut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya alam yang menjadi sumber energi memang semakin langka. Namun, kenaikan harga komoditas primer belakangan ini yang cepat tampaknya sulit dijustifikasi dengan alasan kelangkaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan permintaan dunia terhadap komoditas primer hampir dipastikan melambat. Hal ini karena prospek resesi di Amerika Serikat dan dampak negatifnya terhadap perekonomian global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang sering dikemukakan untuk menjelaskan pesatnya kenaikan harga komoditas belakangan ini adalah melemahnya nilai dolar AS terhadap mata uang negara-negara besar lainnya. Sejak pertengahan tahun lalu, dolar AS melemah sebesar 16% terhadap yen dan 19% terhadap euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perdagangan komoditas primer didenominasikan dalam satuan dolar AS, kenaikan harga komoditas itu sering diasosiasikan dengan pelemahan mata uang tersebut. Namun, argumentasi ini dapat dengan mudah disanggah, karena penurunan nilai dolar AS jauh lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga komoditas primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, dalam kurun waktu yang sama, harga minyak mentah dunia naik hampir 40%. Harga emas pun meningkat 60%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, harga komoditas memang semakin mahal bagi keseluruhan dunia terlepas dari pelemahan mata uang yang menjadi kuotasi harganya. Mengapa hal ini bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan premi spekulatif dalam kenaikan harga komoditas primer tampaknya memang sangat kental. Awal 2007, perekonomian Asia diprediksi mampu bertahan menghadapi penurunan pertumbuhan ekonomi AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ekspektasi tersebut mulai sirna. Hal ini terlihat dari kecenderungan melemahnya kinerja berbagai indeks harga saham di Asia sejak kuartal ketiga 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, indeks harga saham di Korea (Kospi), Jepang (Nikkei), bahkan Filipina (PSE) turun lebih dari 20% dibandingkan dengan posisi tertingginya pada akhir 2007. Hanya indeks harga saham di Indonesia [Bursa Efek Indonesia] yang cukup bertahan, itu pun hanya ditopang oleh kenaikan nilai saham perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pertumbuhan ekonomi dunia melemah, kita sering menyaksikan terjadinya gejala flight to quality, yaitu beralihnya arus likuiditas global mencari instrumen investasi yang dianggap paling aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis, surat perbendaharaan negara AS (US Treasury Securities) banyak menjadi tujuan pelarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saat ini kondisinya berbeda. Karena dolar AS berada dalam tren melemah dan tekanan inflasi di Negeri Paman Sam itu meningkat, flight to quality menuju US Treasurys tampaknya tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data, pembelian neto US Treasury Securities oleh investor di luar AS justru menunjukkan tren menurun. Rata-rata berjalan (six month moving average) pembelian neto surat berharga US Treasury turun dari US$94 miliar pada Juni 2007 menjadi hanya US$36,2 miliar pada Desember 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pada saat pertumbuhan dunia melambat dan investasi saham dijauhi, tidak terlihat adanya flight to quality signifi-kan menuju pasar US-treasury. Lantas, kemanakah likuiditas dunia mengalir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang kita saksikan sekarang adalah flight to commodities! Komoditas primer, terutama energi, menjadi tujuan investasi, karena dianggap semakin langka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan ini tidak bisa dibuktikan. Namun, sulit pula dipungkiri, karena pada Februari saja, misalnya, indeks harga komoditas naik hampir 20%!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapankah tren ini berlanjut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada alasan kuat mengapa kita boleh memperkirakan harga komoditas akan tetap berada dalam tren menanjak tahun ini. Periode kontraksi perekonomian di AS biasanya terjadi dalam kurun waktu 6-16 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat besarnya dampak krisis subprime mortgage yang dihadapi saat ini, sangat mungkin AS masih berada dalam kondisi resesi selama 2008. Dalam kondisi seperti itu pula, the Fed diperkirakan terus memotong suku bunga dan memimpin pelemahan nilai dolar AS. Selama itu pula, komoditas primer bisa terus menjadi tujuan penempatan dana investor global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prospek berlangsungnya flight to commodities ini membawa implikasi yang serius bagi Indonesia. Isu yang paling hangat adalah menyangkut RAPBN-P 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi harga rata-rata minyak mentah dunia tahun ini kemungkinan besar berada dalam asumsi RAPBN-P 2008, yaitu sebesar US$83 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, beban subsidi BBM berisiko membengkak melebihi anggaran. Defisit anggaran pun bisa melebar dan lebih mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7626295997975221453?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7626295997975221453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7626295997975221453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7626295997975221453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7626295997975221453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/flight-to-commodities-sampai-kapan.html' title='Flight to commodities, sampai kapan? - Helmi Arman'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-8070907666609365807</id><published>2008-03-14T04:26:00.007-04:00</published><updated>2008-03-14T04:42:38.478-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><title type='text'>Kaum Petani dan Paradoks Produktivitas Hasil Pertanian - Khudori</title><content type='html'>Kompas (6/3/2008) memuat analisis Khudori mengenai karakteristik sektor pertanian padi dan kebijakan pembelian Bulog. Struktur pasar gabah merugikan petani sebagai produsen, sementara struktur pasar beras merugikan konsumen. Pada kedua pasar tersebut, pengolah dan pedagang menjadi pihak yang menikmati rente. Pemerintah sendiri tidak berbuat banyak untuk memperbaiki situasi ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.02392653&amp;channel=2&amp;mn=158&amp;idx=158"&gt;Kaum Petani dan Paradoks Produktivitas Hasil Pertanian&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;Khudori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap usaha tani, tak terkecuali usaha tani padi, memiliki ketergantungan terhadap cuaca dan iklim. Ketergantungan ini menghasilkan irama tanam dan panen yang (hampir) ajek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi beras utama dihasilkan pada empat bulan panen raya (Februari-Mei), mencapai 60 persen-65 persen dari total produksi nasional. Produksi berikutnya dihasilkan pada musim panen gadu I (Juni-September) dengan produksi 25 persen-30 persen. Sisanya dihasilkan pada musim paceklik (Oktober Januari). Perubahan iklim membuat irama tanam dan panen kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irama panen yang tidak merata membuat harga berfluktuasi. Harga gabah/beras melorot ketika panen raya, sebaliknya harga gabah/beras naik tajam saat paceklik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib petani terombang-ambing di antara dua kutub itu. Ini terjadi karena daya tawar petani lemah dalam perdagangan gabah sebab surplus jual dan kemampuan menyimpan gabah rendah, sedangkan kebutuhan likuiditasnya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani menjual seluruh gabah segera setelah panen dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Padahal, kualitas gabah amat dipengaruhi cuaca. Saat hujan/mendung mutu GKP amat buruk. Dengan karakteristik demikian, pasar gabah bersifat monopsonistik dan tersegmentasi secara lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penawaran gabah petani amat inelastis. Pasar gabah lokal di tingkat petani tak sempurna, inefisien, dan sangat tidak adil (merugikan petani, tetapi menguntungkan pedagang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan antara produksi padi yang fluktuatif, penawaran gabah yang inelastis, dan pasar gabah yang monopsonistik membuat fluktuasi harga gabah di level petani amat tinggi dan tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, di samping risiko produksi, petani juga menghadapi risiko harga. Jadi secara keseluruhan risiko usaha tani padi amat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fluktuasi produksi dan harga juga jadi risiko usaha pedagang gabah (mitra Bulog). Namun, karena daya tawarnya tinggi, risiko diinternalisasikan pedagang ke ongkos (margin) pemasaran yang tinggi. Terjadilah paradoks produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi terbesar nilai tambah peningkatan produktivitas usaha tani dinikmati mereka yang di luar usaha tani. Akibatnya, pendapatan riil petani kian tertinggal jauh dari pendapatan mereka di sektor non-usaha tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik yang sama terjadi pada pasar beras: harga produksi pertanian di tingkat konsumen dan di tingkat produsen bersifat asimetri (Simatupang, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti peningkatan harga beras di tingkat konsumen ditransmisikan tidak sempurna dan lambat ke harga gabah di tingkat petani. Adapun penurunan harga beras di tingkat konsumen ditransmisikan sempurna dan cepat ke harga gabah di tingkat petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, peningkatan harga gabah di tingkat petani ditransmisikan sempurna dan cepat ke harga beras di tingkat konsumen, sedangkan penurunan harga gabah di tingkat petani ditransmisikan tidak sempurna dan lambat ke harga beras di tingkat konsumen. Artinya, fluktuasi harga beras atau gabah cenderung merugikan petani dan konsumen. Kalaupun ada manfaatnya, yang menikmati adalah pedagang dan penggilingan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Bulog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, rencana Bulog (Kompas, 19/2/8) memberlakukan tiga syarat tambahan baru—derajat sosoh 95 persen, butir kuning maksimal 3 persen, dan kandungan menir maksimal 2 persen—di luar dua syarat instruksi presiden (kadar air GKG maksimal 14 persen dan kadar hampa maksimal 3 persen) merupakan malapetaka baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulog boleh berdalih, syarat itu untuk menaikkan kualitas beras. Namun, dalih ini tak lebih sebagai upaya lepas tangan dan usaha Bulog menekan harga jual gabah/beras petani. Selama ini untuk memenuhi dua syarat instruksi presiden saja petani sudah kesulitan, bagaimana jadinya bila ditambah syarat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meminimalkan risiko ini, pemerintah melakukan intervensi. Lewat Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perberasan, pemerintah mematok harga pembelian pemerintah (HPP) atau procurement price: GKP Rp 2.000 per kg, gabah kering giling (GKG) Rp 2.575 per kg, dan beras Rp 4.000 per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, HPP bukanlah perlindungan harga, baik harga langit-langit (ceiling price) maupun harga dasar (floor price). Batu pijak konsep HPP adalah kuantitas: membeli sejumlah tertentu beras/gabah (untuk raskin dan stok nasional) pada harga yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena sifatnya target kuantum, pengaruh pembelian terhadap tingkat harga di pasar menjadi residual. Konsep HPP yang diterakan sejak tahun 2002 itu punya limitasi kembar. Ketika pasar beras terbuka, procurement price tidak lagi menyentuh kepentingan petani. Demikian pula saat harga gabah/beras anjlok. Sebaliknya, saat harga naik, procurement price juga tidak menyentuh kepentingan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diktum-diktum di Instruksi Presiden No 3/2007 cuma mengatur pengadaan beras Bulog. Tak jelas siapa yang bertanggung jawab atas perlindungan harga (naik/anjlok). Akhirnya jadi terang benderang, syarat tambahan baru itu menunjukkan kekompakan pemerintah-Bulog: sama-sama lepas tangan dan tidak mau tahu atas risiko besar yang ditanggung petani.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-8070907666609365807?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/8070907666609365807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=8070907666609365807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8070907666609365807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/8070907666609365807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/kaum-petani-dan-paradoks-produktivitas.html' title='Kaum Petani dan Paradoks Produktivitas Hasil Pertanian - Khudori'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7465714045874747875</id><published>2008-03-13T04:12:00.006-04:00</published><updated>2008-03-14T04:38:13.237-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><title type='text'>Analisis APBN P 2008 - Faisal Basri</title><content type='html'>Faisal Basri menulis di Jawa Pos hari ini (13/03/2008) mengenai APBN P 2008. Ia menyoroti penggelembungan anggaran subsidi lebih dari dua kali lipat terutama karena kenaikan harga minyak dunia. Basri menyarankan agar pemerintah mengurangi subsidi minyak dengan menaikkan harga 5 persen per tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima persen per tahun? Rata-rata kenaikan harga minyak mentah tiap tahun saja sebesar 8,4 persen jika dihitung dari tahun 1947, bahkan 20,7 persen jika dihitung dari tahun 2000 (inflationdata.com). Kenaikan lima persen per tahun akan menyisakan selisih kenaikan harga yang harus ditutup dengan kenaikan subsidi. Sepertinya, Basri menyebutkan angka 5 persen hanya berdasarkan batas psikologis kenaikan harga yang tidak mengejutkan dan membebani masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&amp;id=330372"&gt;Analisis APBN P 2008&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Faisal Basri, staf pengajar Fakultas Ekonomi UI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Membelenggu Diri Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum genap satu triwulan berjalan, pemerintah masih saja berkutat dengan asumsi-asumsi APBN 2008. Tak tanggung-tanggung, yang dilakukan ialah perombakan drastis atas hampir semua asumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target pertumbuhan ekonomi dikerek turun dari 6,8 persen menjadi 6,4 persen. Koreksi paling besar untuk lifting minyak, yakni dari 1.034 ribu barel per hari menjadi 910 ribu barel per hari. Juga untuk asumsi harga minyak, dari 60 dolar AS menjadi 83 dolar AS per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi laju inflasi diperlonggar dari 6,0 persen menjadi 6,5 persen. Demikian pula asumsi nilai tukar rupiah, dari Rp 9.100 menjadi 9.150 per dolar AS. Hanya asumsi suku bunga SBI yang tidak diutik-utik, yakni tetap 7,5 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah asumsi-asumsi baru tersebut cukup menggambarkan kecenderungan dinamika jangka pendek sepanjang tahun ini, sehingga realisasi APBN 2008 tidak lagi melenceng jauh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, yang paling mungkin meleset ialah asumsi pertumbuhan ekonomi. Hampir seluruh negara diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sebagai akibat tekanan berbagai arah: dampak krisis keuangan di Amerika Serikat yang belum kunjung menunjukkan tanda-tanda berakhir, serta ancaman inflasi dunia sebagai akibat kenaikan harga minyak mentah serta komoditas pangan dan tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah perekonomian Indonesia cukup memiliki tenaga ekstra untuk melawan arus, mengingat target yang dikoreksi ke bawah tetap lebih tinggi dari realisasi laju pertumbuhan 2007 sebesar 6,3 persen? Menghadapi perkembangan yang sangat bergejolak dewasa ini, tampaknya bisa menembus 6,0 persen saja sudah prestasi yang cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target inflasi tampaknya juga sulit terpenuhi. Dua bulan pertama tahun ini saja laju inflasi selalu di atas 7 persen. Padahal, potensi kenaikan harga-harga tetap besar. Sampai seberapa tahan pemerintah bersikukuh tak menaikkan harga BBM dan tarif listrik? Harus diingat bahwa harga bersubsidi ini tidak berlaku bagi kalangan dunia usaha, sehingga kenaikan harga pasar energi otomatis menambah ongkos produksi, yang pada gilirannya berdampak pada harga barang dan jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Diikuti Koreksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya, mengapa koreksi terhadap asumsi laju inflasi tak diikuti koreksi terhadap asumsi suku bunga? Bukankah kedua variabel itu sangat terkait erat? Bukankah meningkatnya ancaman inflasi akan mempersempit kemungkinan penurunan suku bunga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari evaluasi umum di atas, tampaknya sekalipun pemerintah telah merombak asumsi-asumsi APBN 2008 secara drastik, tetap saja menyisakan masalah yang menggantung. Perombakan drastis lebih disebabkan asumsi-asumsi yang ditetapkan sebelumnya teramat ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, alangkah baiknya momentum perubahan sekarang ini tak dilakukan setengah-setengah, sehingga memperkecil kemungkinan dilakukan perombakan besar-besaran lagi pada tahun anggaran yang sama tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar pertimbangan, ada baiknya mengedepankan skenario alternatif, dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: laju pertumbuhan ekonomi 6,1 persen, laju inflasi 6,9 persen, suku bunga 7,8 persen, harga minyak 85 dolar AS per barrel, lifting minyak 900 ribu barel per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan skenario alternatif di atas, sisi penerimaan negara tak banyak berubah. Yang bermasalah adalah sisi pengeluaran, terutama pos subsidi BBM dan listrik. Pada rancangan APBN-P 2008, subsidi total menggelembung lebih dua kali lipat dibanding APBN 2008, yakni dari Rp 98 triliun menjadi Rp 209 triliun. Lebih dari tiga perempat subsidi ini disedot untuk subsidi energi, masing-masing Rp 106 triliun untuk subsidi BBM dan Rp 55 triliun untuk subsidi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi yang menggelembung membuat postur anggaran negara sangat tidak sehat. Belanja non K/L (kementerian/lembaga) telah melampaui belanja K/L, masing-masing Rp 369 triliun dan Rp 272 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan itu disebabkan di satu pihak belanja non K/L naik tajam, di lain pihak belanja K/L justru sebaliknya. Sebagian penurunan belanja K/L memang mencerminkan upaya penghematan, tapi sudah barang tentu berdampak pada kualitas pelayanan publik. Mengingat, selama ini besarnya konsumsi pemerintah umum akhir (final general government consumption) - yang mencerminkan kapasitas dan kualitas pelayanan publik- sudah tergolong sangat rendah dibanding negara-negara lain, terutama negara tetangga dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos pengeluaran untuk subsidi sangat berpeluang semakin menggelembung jika harga minyak tetap bertengger di atas 100 dolar AS untuk kurun waktu cukup lama. Apalagi, jika diiringi harga-harga komoditas pangan yang tetap tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi jika terjadi kegagalan panen padi sehingga Indonesia terpaksa mengimpor beras dan gula. Pemerintah terpaksa menggelontorkan lebih banyak dana untuk subsidi pangan. Yang terakhir ini secara politik tak mungkin disampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang paling mungkin ditekan ialah subsidi BBM. Dengan melakukan kenaikan rata-rata 5 persen setahun, pemerintah memiliki ruang gerak lebih leluasa untuk mengalokasikan anggaran bagi kepentingan rakyat miskin, sehingga lebih tepat sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah jauh lebih realistik, secara politik sekalipun, menaikkan harga BBM secepatnya ketimbang pada akhirnya nanti pemerintah tidak punya pilihan lain ketika masa pemilihan umum kian dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersikukuh pada posisinya seperti sekarang, sama saja artinya pemerintah membelenggu diri sendiri, sehingga mengakibatkan pilihan-pilihan alternatif kebijakan kian tak rasional. Karena itu, pada akhirnya kos politik dan sosial yang harus dibayar bertambah mahal.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7465714045874747875?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7465714045874747875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7465714045874747875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7465714045874747875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7465714045874747875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/analisis-apbn-p-2008.html' title='Analisis APBN P 2008 - Faisal Basri'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-5565257806416405475</id><published>2008-03-13T03:47:00.004-04:00</published><updated>2008-03-14T04:39:14.567-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbankan'/><title type='text'>Obesitas Keuntungan Perbankan - L Wiji Widodo</title><content type='html'>Artikel Widodo di Republika (11/3) berikut membuat kita merenungkan ketimpangan kemajuan antara sektor finansial dengan sektor riil, terutama sektor pertanian yang menjadi pencaharian mayoritas rakyat Indonesia. Ada dua mazhab terkait masalah ketertinggalan sektor pertanian. Pertama, bahwa sektor pertanian sudah kelebihan penawaran tenaga kerja. Perbandingan lahan terhadap pekerja sudah sedemikian kecil sehingga upah pekerja pertanian menjadi sangat rendah. Solusinya adalah industrialiasi untuk menyerap kelebihan tenaga kerja ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab kedua melihat bahwa endowment sumber daya alam dan manusia di sektor pertanian justru memberikan peluang untuk dijadikan andalan. Mazhab kedua ini memprediksi bahwa pembangunan sektor pertanian akan mendistribusikan hasilnya dengan lebih merata daripada pembangunan sektor manufaktur dan jasa yang dikuasai oleh segelintir penguasa dan pemilik modal. Widodo berada pada mazhab kedua ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=326502&amp;kat_id=16"&gt;Obesitas Keuntungan Perbankan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;L Wiji Widodo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Staf Pusat Dokumentasi dan Publikasi Ilmiah (PDPI) Fakultas Ekonomi Univ Brawijaya Malang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2007 alunan merdu didendangkan kinerja perbankan kita. Bagaimana tidak, laba bank tumbuh 23,6 persen, bank umum mencetak laba bersih Rp 35,015 triliun. Angka ini pun setelah dipangkas oleh pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perolehan ini sungguh sangat menyejukkan mata bila disandingkan dengan perolehan laba tahun 2006 yang hanya mengantongi Rp 28,3 triliun. Total aset pun berhasil dikerek lebih tinggi. Pada 2006 sebesar Rp 1.693,85 triliun, lalu pada 2007 total aset lebih membara lagi, mencapai Rp 1.986,5 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melacak peran perbankan dalam mengucurkan kredit juga terjadi lonjakan. Pada 2006 kran kredit yang dialirkan sebesar Rp 792,29 triliun dan pada 2007 dibuka lebih deras lagi, Rp 1.002,01 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelontoran kredit yang melonjak seolah sebagai jawaban atas imbauan pemerintah kepada bank-bank untuk lebih dermawan mengucurkan kredit. Tentu menjadi pertanyaan, ke manakah derasnya arus kredit mengalir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberpihakan bank&lt;br /&gt;Keberpihakan bank lewat kredit adalah sebagai sebuah darah segar, tetapi yang sering tersaji ketimpangan kucuran kredit. Persentase kredit perbankan untuk perindustrian menghadirkan disparitas yang sangat tajam, yakni mencapai 23,28 persen, sementara untuk pertanian dan perikanan hanya 5,39 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan penyebaran kredit yang menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok, di mana Rp 382,87 triliun disebar di Provinsi DKI yang merupakan 49 persen dari total kredit perbankan nasional. Padahal, pertumbuhan sektor pertaniannya hanya 0,69 persen (BPS 2000). Sisanya, sebanyak 51 persen disebar di 32 provinsi, di mana di daerah ini sektor pertanian lebih banyak mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kalau ditinjau dari penerima kredit, tampaknya kredit perbankan begitu royal terhadap properti mewah, seperti apartemen. Untuk yang disebut terakhir ini, kredit yang dikucurkan mencapai Rp 33.069 miliar. Bandingkan dengan agrobisnis yang hanya menerima kucuran kredit sebesar Rp 11.329 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini tidak mengalunkan kecemasan seandainya sektor industri dihuni lebih sesak dari pada sektor pertanian. Tetapi, kenyataan sektor pertanian lebih riuh tenaga kerja. Pada 2006 ada 42,32 juta yang berteduh di sektor pertanian, meningkat lagi pada 2007, mencapai 42,61 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, serapan tenaga kerja pada sektor industri pada 2007 hanya 12,09 juta jiwa, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya 11,58 juta jiwa. Maka, dengan bahasa sederhana, ketika kucuran kredit lebih digelontorkan pada sektor pertanian, tentu dapat bermanfaat lebih banyak. Laju pertumbuhan pertanian tentu dapat didorong lebih kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasio yang diperankan perbankan sedikit sekali pada sektor pertanian. Pada awal musim tanam kekurangan modal sering menjadi pil pahit yang harus ditelan petani. Di sinilah seolah dosa perbankan, permohonan kredit yang berbelit dan berliku membuat petani harus bersimpuh di kaki para pengijon, tengkulak, bahkan rentenir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, diperlukan akses yang lebih besar untuk pembiayaan bagi petani lewat perbankan. Pihak perbankan diharapkan mempunyai skenario baru yang lebih fokus terhadap sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganak tirikan pertanian yang sering diperankan perbankan selama ini dikarenan sektor ini dianggap mempunyai risiko kegagalan yang sangat tinggi walaupun alasan ini akan mentah bila kita mau melongok Thailand. Begitu mesranya hubungan perbankkan dan pertanian di Negara Gajah Putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara tersebut menyadari bahwa pertanian dapat dijadikan sebuah jalan untuk menuju kemakmuran. Berbagai elemen membahu untuk mewujudkan sekaligus meruntuhkan sekat yang menghalangi kemajuan di sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petinggi yang berkuasa di Thailand menyadari bahwa transformasi ekonomi yang benar ialah dengan memperkuat fondasi yang memang mereka yakin bisa bersaing dalam hal tersebut. Dengan kemajuan pertanian yang telah dicapai, maka sedikit demi sedikit masalah krisis ekonomi yang melanda negara tersebut dapat teratasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sekarang Thailand menjadi salah satu negara agraris yang hasil pertaniannya dapat memenuhi kebutuhan dinegara ASEAN. Tak hanya mencukupi, tetapi dapat membanjiri pasar-pasar buah di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani Thailand boleh dibilang tidak punya persoalan dengan bibit unggul baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Departemen Pertanian dan juga pengusaha berada di garda paling depan untuk menyediakan bibit yang dibutuhkan para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian untuk mencari varitas unggul telah menjadi keharusan di Thailand. Petani juga tidak harus menunggu dan melalui alur yang rumit untuk mengajukan kredit sebagai tambahan modal. Thailand memiliki Bank for Agriculture and Agricultural Cooperatives (BACC) yang memang khusus menjadi lembaga keuangan untuk sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah kemesraan antara perbankan dan pertanian di negara ini kapan akan dihadirkan. Gendutnya perolehan laba dan royalnya kucuran kredit dari perbankan tampaknya belum mampu menghangatkan ruang sektor pertanian dan kubangan kemiskinan pun masih cukup dalam karena 23,61 juta jumlah penduduk miskin dari total 37,17 juta orang itu berada di daerah perdesaan. Umumnya terlibat atau berhubungan dengan sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, 72 persen kelompok petani miskin adalah dari bidang pertanian pangan. Maka sulitnya permodalan bagi petani masih subur diperankan oleh para tengkulak dan rentenir dan belum dapat disandarkan pada perbankan nasional. Gemerlapnya kondisi perbankan tahun kemarin dengan lebatnya perolehan laba, moncernya kucuran kredit serta mengelembungnya total aset hanya akan menjadi figura indah dalam potret kesedihan bangsa. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-5565257806416405475?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/5565257806416405475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=5565257806416405475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5565257806416405475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5565257806416405475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/obesitas-keuntungan-perbankan-l-wiji.html' title='Obesitas Keuntungan Perbankan - L Wiji Widodo'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-9222007395315163940</id><published>2008-03-13T02:55:00.004-04:00</published><updated>2008-03-14T04:40:57.342-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Finansial'/><title type='text'>Perang moneter global-Yanuar Rizky</title><content type='html'>Mulai saat ini, saya akan mempostingkan salinan artikel dari para analis ekonomi yang dimuat di berbagai media. Dengan demikian, pengunjung Komentar Ekonomi akan dimudahkan karena dapat membaca analisis dari berbagai ekonom di satu tempat. Saya sendiri untung karena lebih mudah memperoleh materi untuk direferensi dan didiskusikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel pertama berikut saya ambilkan dari milik Yanuar Rizky yang dimuat Bisnis Indonesia (10/03/2008). Saya sangat menyukai gaya analisisnya yang membaca pikiran masing-masing pemain di sektor finansial.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://web.bisnis.com/kolom/2id1010.html"&gt;Perang moneter global&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Yanuar Rizky, Analis Independen-Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai analis, ada dua kejadian menarik dalam dua minggu terakhir ini. Pertama, menjadi nara sumber di acara investor gathering sebuah perusahaan sekuritas (1 Maret 2008). Kedua, dengar pendapat di Komisi XI DPR-RI terkait pemilihan Gubernur BI periode 2008-2013 (5 Maret 2008). Kedua acara tersebut serupa dari sisi potret perang moneter global, meski berbeda sisi pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kedua acara tersebut, saya memulai gambaran tentang posisi pasar finansial seperti yang telah dibahas di kolom rutin ini. Yaitu, perang moneter antara Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Cina (PBC). Saya pun memulai dari memetakan potret posisi lapangan finansial pada 2005 yang berulang di 2007, dengan jebakan off-side yang sama, yaitu harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya di 2007, The Fed mendapat tekanan internal, sehingga perlu mengatur permainan di lapangan tengah, disaat politik dalam negerinya menuntut penurunan tempo sang play maker (The Fed) berupa Fed rate rendah. Di sisi lain, PBC bertanding dengan posisi lebih siap untuk tidak terjebak off-side, dengan cadangan energi alternatif yang telah dikumpulkannya, sehingga sang play maker (PBC) bermain lebih menyerang dengan menaikkan rate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di manakah posisi Indonesia? Suka atau tidak, di kedua periode pertarungan kita merupakan penonton dan berpotensi menjadi korbannya. Faktanya, kejadiannya batuk-batuk pasar finansial global pada 2005 dan 2007 telah menimbukan efek yang sama, yaitu tergerusnya kebebasan fiskal negara. Tekanan ke masyarakat pun sama, harga-harga naik disaat daya kerja terus menggerus daya beli itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dan Bank Indonesia selama ini hanya sebatas mengatur lalu lintas penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kelompok mampu yang dapat membeli tiket di dalam lapangan finansial, sehingga madu permainan (tim asing) tentu dapat pula dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kelompok kurang beruntung yang tak mampu membeli tiket (ataupun kurang pengetahuan) untuk masuk stadion, sehingga hanya mendengar riuh-rendah sorak sorai dan tak jarang menjadi korban tawuran atas pertandingan yang tidak dia tonton langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perbandingkan pasar finansial China dan Indonesia, meriah dimulai dari tahun yang sama, yaitu 2002. Bedanya, pada 2005, Cina sudah menjadi pemain. Dan 2007, semakin mantap sebagai pemain utama peta moneter gobal. Yang dilakukan Cina sederhana saja secara teori ekonomi, yaitu memanfaatkan momentum perbaikan parameter makro untuk menggerakan kembali sektor riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggerakkan sektor riil berarti memicu daya kerja masyarakat untuk menopang daya beli konsumen itu sendiri. Layaknya sebuah mesin, untuk bergerak dibutuhkan pelumas dan bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah fungsi stimulus fiskal dari sisi belanja negara dan intermediasi sistem keuangan dari sisi transaksi antar masyarakat. Kuncinya jelas, harmonisasi kebijakan perekonomian negara (fiskal) dengan moneter. Dan pengemudinya jelas kepala negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2002-2005, China menyeimbangkan kenaikan cadangan devisa dari masuknya hot money dengan menyalurkannya ke sektor riil. Instrumen jaminan sosial berbasis investasi (melalui sekuritisasi sovereign wealth fund/SWF) maupun menyeimbangkan penyaluran kredit perbankan (LDR). Dalam banyak pidato anggota Dewan Gubernur PBC, jelas dinyatakan bahwa LDR difokuskan ke sektor terfokus ke penyerapan tenaga kerja yang sekaligus memperkuat fundamental perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaiknya parameter makro untuk menggerakkan sektor riil akan meningkatkan jumlah penonton ke lapangan finansial, sekaligus memicu semangat tim negaranya untuk masuk ke lapangan pertandingan. Itulah fakta dari pertumbuhan orang sejahtera di Cina (Hong Kong dan Cina), yang saat ini telah berada di kisaran angka pertumbuhan 100% jika dibandingkan 2002 (Riset Merill Lynch-Capgemini, rata-rata pertumbuhan orang sejahtera di Cina dan Hongkong rata-rata 15-30% per tahunnya sejak 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Indonesia, meski indeks bursa merangkak fantastis dari kisaran 350 (awal 2002) ke kisaran 2.700 (awal 2008) dengan rata-rata nilai transaksi harian dari Rp350 Miliar ke Rp5,3triliun, angka penonton di stadion masih berada di kisaran 0,01% populasi penduduk produktif. Data rekening efek (KSEI) menunjukan angka 228.157 (agregat tersebut tentu tercampur pula penonton (investor) asing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi aset penonton di stadion finansial tersebut, pada 2007 investor lokal mampu menaikan nilai asetnya sebesar 95,06% dibandingkan 2006 dan investor asing meningkat sebesar 52,39%. Dari sisi jumlah aset investor lokal masih 61,38% dari total aset investor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua implikasi dari data tersebut, yaitu: Pertama, masih dominannya penonton asing menikmati pertandingan dari negaranya di pasar negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia; Kedua, meluasnya kesenjangan antara penonton lokal di dalam dan luar stadion finansial, sehingga tak heran angka pengangguran meningkat menyertai kenaikan indeks itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teradap dua fenomena tersebut, tentu tergantung dari mana kita mengambil angle-nya. Kalau dari sisi kebijakan ekonomi negara, tentu inilah tantangan riil perekonomian negara. Dari sisi pelaku pasar, sepanjang mampu membaca arah pertandingan, maka keuntungan finansial akan diperoleh. Sedangkan masyarakat luas tentu saja semakin tertekan, yang tercermin dari jeritan kenaikan harga-harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi indeks yang menaik di periode sebelumnya perlu dicermati ke arah penurunan. Karena tren rekening kontrak RePO, SLTD dan TAF di rekenig The Fed telah menunjukan akhir dari open position pembentukan harga atas untuk ambil untung. Di minggu berikutnya, indeks menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir minggu ini rekening The Fed kembali menunjukan angka kenaikan 34,16% (year on year). Itulah peta riil pertarungan moneter global yaitu negara maju mengambil financial netting untuk mengatasi kontraksi likuiditas dari penurunan rate. Di sisi ini, China masih menunjukan pertumbuhan devisa-nya dengan bermain menyerang melalui kenaikan rate dan disiplin di pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda beruntung dengan feel pasar, maka tentu saja akan ikut beruntung sebagai penonton. Dan jika itu terjadi, ada baiknya Anda membaginya dengan membelanjakan ke pasar riil di luar stadion. Agar raktyat banyak ikut menikmati madunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi negara, tentu tantangan tidak ringan bagi pemerintah dan Bank Indonesia. Itulah tantangan riil bagi Gubernur Bank Indonesia berikutnya. Suka atau tidak, di 2005 saat otoritas moneter (Bank Indonesia) tidak dihinggapi politisasi, dalam fluktuasi rupiah, angka OPT (Operasi Pasar Terbuka) yang dihabiskan lebih kecil dari 2008 dengan diikuti peningkatan cadangan devisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Februari 2008 memang cadagan devisa kembali meningkat (Rp57 triliun), meski belum menyetuh angka sebelum intervensi besar di pasar kurs 29 Januari 2008 tatkala politisasi menyentuh kembali kredibilitas BI (Rp58 triliun). Kalau dilihat rekening Devisa BI, maka sumber peningkatannya adalah dari terserapnya Obligasi Pemerintah. Sementara, rekening OPT meningkat dan uang beredar (primer dan giro) mengalami tekanan penurunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipetakan secara fair dan ojektif, Gubernur BI ke depan menghadapi masalah yang tidak ringan. Untuk itu, kemampuan team work sebagai jalan keluar dari politisasi lembaga adalah keharusan. Bukan soal dari luar dan dalam BI, tapi seorang dengan kapasitas lebih dalam membaca, merasakan dan memengaruhi ekspektasi pasar haruslah di atas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh, di Amerika Serikat, Presiden Ronald Reagen melakukan branding atas figur Alan Grenspan dari setahun sebelum dicalonkan. Demikian pula Presiden Bush Jr dan Grenspan melakukan branding terhadap Bernanke (Gubernur The Fed saat ini) setahun sebelum dicalonlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, jejak rekam kedua calon GBI versi pemerintah belum menunjukan ke arah tokoh kharismatik tersebut. Itu karena, Presiden SBY tidak pernah melakukan komunikasi publik untuk menyakinkan kapasitas calonnya (Branding).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin politik selalu asyik di dalam stadion-nya (kotak kenikmatan) dan melupakan bahwa bagi rakyat banyak yang dibutuhkan adalah stabilitas makro termanfaatkan untuk menjalankan intermediasi penyediaan lapangan kerja (financial deepening). Quo vadis perekonomian Indonesia. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-9222007395315163940?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/9222007395315163940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=9222007395315163940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/9222007395315163940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/9222007395315163940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/perang-moneter-global-yanuar-rizky.html' title='Perang moneter global-Yanuar Rizky'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-5066793585742882366</id><published>2008-03-12T23:40:00.002-04:00</published><updated>2008-03-12T23:46:17.638-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Moral Hazard Layanan Kesehatan</title><content type='html'>Senin (3/3) saya dikabari bahwa bapak saya opname. Saya pulang hari Rabu dan ikut menunggu Bapak di RS hingga keluar. Selama waktu menunggu tersebut, saya melihat sendiri dampak dari cacat mekanisme pasar layanan kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak jatuh dari tangga hari Jumat, namun baru dironsen hari Senin. Hasil ronsen menunjukkan adanya retak tulang belakang. Dokter ortopedi baru memeriksa hari Rabu dan menawarkan pilihan untuk operasi atau digips. Karena mempertimbangkan bapak sudah sepuh dan memiliki penyakit jantung, kami memilih untuk digips saja. Gips dipasang hari Kamis. Sejak selesai pemasangan hingga saat penulisan artikel ini (Senin, 10/3), dokter ortopedi tidak pernah datang lagi untuk memeriksa kondisi Bapak. Kami juga tidak diberikan perkiraan kapan Bapak selesai rawat inap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak memiliki pengetahuan apakah perbedaan perawatan rumah sakit dengan rawat di rumah sendiri benar-benar signifkan mempengaruhi kesembuhan Bapak. Namun sejak pemasangan gips itu, perbedaan layanan yang diberikan rumah sakit hanya infus. Pengukuran tensi dapat kami lakukan sendiri. Selama di rumah sakit, kami mengontrol sendiri konsumsi obat yang diberikan dokter. Apakah infus ini cukup berharga hingga menimbulkan tambahan biaya kotor nominal bagi kami senilai minimal 130 ribu rupiah per hari? Saya cenderung menilai infus tidak memberikan tambahan manfaat yang sebanding.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, bukan praktik yang lazim pasien memutuskan sendiri kapan ia selesai rawat inap. Risiko yang kami hadapi jika kami melakukannya adalah hubungan kami dengan dokter ortopedi bersangkutan akan memburuk. Sebenarnya, dokter ortopedi tersebut telah mengawali hubungan buruk dengan menimbulkan kerugian bagi kami. Menghentikan hubungan buruk ini sedini mungkin adalah upaya meminimumkan kerugian kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga bahwa dokter tersebut tidak memiliki insentif untuk mempertahankan kami sebagai pelanggannya jika melalui RS pemerintah. Ia tidak kehilangan apapun jika kami dan pasien lain segera menyelesaikan rawat inap. Ia mendapatkan gaji dari pemerintah untuk bekerja di RS ini pada jumlah yang tetap, berapapun banyaknya pasien yang ia rawat. Sebaliknya, ia mengeluarkan biaya waktu dan upaya pada setiap pasien yang dirawatnya. Ia dapat memaksimumkan manfaat bersih dengan meminimumkan jumlah pasien yang ia rawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, keluar dari rumah sakit secepatnya adalah ekuilibrium di antara dokter dan kami pasiennya. Lalu mengapa kami tidak segera meninggalkan rumah sakit ini? Sebagaimana diterangkan di atas, kami menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi Bapak, apakah memang sudah cukup aman untuk dirawat jalan. Kami menghindari kemungkinan sekecil apapun yang dapat memperparah atau memperlama kesembuhan Bapak. Sebaliknya, dokter ortopedi bersangkutan juga tidak memiliki insentif untuk sekedar datang sekali memeriksa pasien di RS pemerintah sehingga kami bisa mendapatkan kepastian mengenai apakah Bapak boleh dirawat jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola rumah sakit bahkan memiliki insentif untuk mencegah kami segera keluar, sehingga mereka tidak berusaha menuntut dokter untuk memberikan kepastian pada kami. Pengelola rumah sakit relatif rugi jika pasien rawat inap di paviliun segera keluar karena pemasukan akan berkurang. Walaupun kamar paviliun akan segera terisi oleh pasien baru atau pindahan dari kelas yang lebih rendah, jumlah penerimaan akan lebih besar jika pasien paviliun saat ini tidak pergi sementara pasien baru masuk di kamar kelas lebih rendah yang masih kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin siang kami mendapatkan keputusan bahwa Bapak boleh dirawat jalan, namun bukannya oleh dokter ortopedi, melainkan oleh dokter lain yang biasa mengecek tekanan darah. Given motivasi dia untuk mengunjungi pasien setiap hari, pertanyaan kami kepadanya mengenai kapan Bapak boleh pulang tiap kali ia datang merupakan biaya psikologis untuknya. Beban psikologis itu terakumulasi tiap kali pertanyaan itu didapatkannya. Pada akhirnya, ia merasa beban psikologis itu lebih berat daripada risiko yang ia hadapi jika memutuskan sendiri mengenai kebolehan pasien untuk dirawat jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga memposting artikel berjudul &lt;a href="http://ekonomi-baru-indonesia.blogspot.com/2008/03/metode-pembayaran-tetap-pada-layanan.html"&gt;"Metode Pembayaran Tetap pada Layanan Kesehatan"&lt;/a&gt; di blog &lt;a href="http://ekonomi-baru-indonesia.blogspot.com"&gt;Ekonomi Baru Indonesia&lt;/a&gt; mengenai gagasan untuk mengeliminasi moral hazard di atas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-5066793585742882366?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/5066793585742882366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=5066793585742882366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5066793585742882366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5066793585742882366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/03/moral-hazard-layanan-kesehatan.html' title='Moral Hazard Layanan Kesehatan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-1050101305067745126</id><published>2008-02-27T04:38:00.001-05:00</published><updated>2008-04-07T08:30:43.247-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><title type='text'>Pembatasan Minyak</title><content type='html'>Pemerintah berencana melakukan pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi dengan menggunakan kartu pintar. Gagasan ini sangat asing sehingga mengejutkan semua orang. Selama ini, wacana kebijakan subsidi minyak ketika menghadapi kenaikan harga minyak internasional selalu berputar di antara perlu-tidaknya kenaikan harga minyak. Masih banyak orang berpendapat agar harga minyak tidak dinaikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, masyarakat disodori alternatif pembatasan BBM bersubsidi. Mana yang lebih baik, kenaikan harga BBM atau pembatasan BBM bersubsidi? Adakah alternatif usulan yang lebih baik dari kedua pilihan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah menyatakan bahwa pembatasan BBM bersubsidi bertujuan mencegah kenaikan harga BBM tanpa meningkatkan defisit anggaran. Selama ini, kritik atas kenaikan harga BBM selalu menyorot penderitaan rakyat miskin yang daya belinya menurun karena inflasi yang mengiringi kenaikan harga BBM. Kompensasi subsidi BBM dinilai tidak mampu menjangkau semua rakyat miskin yang menjadi korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ternyata juga mengundang reaksi dari semua kalangan, baik akademisi, politisi, maupun praktisi bisnis. Banyak ekonom berpendapat bahwa kebijakan ini lebih buruk daripada kenaikan harga. Selain ongkos administratif yang besar, mereka menyangsikan pemerintah akan dapat menjalankan kebijakan ini, bercermin pada kekacauan semasa konversi minyak tanah ke gas elpiji. Praktisi mengeluhkan bahwa mereka kesulitan mengkalkulasi dampak kebijakan tersebut bagi bisnis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap kerancuan persepsi masyarakat atas rencana kebijakan pembatasan tersebut. Apakah pembatasan dilakukan ke semua BBM, atau hanya pembatasan BBM bersubsidi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan BBM tidak mungkin diterapkan pada semua jenis BBM, karena efeknya akan sangat buruk pada perekonomian. Produksi dan permintaan agregat akan terkendala oleh kuota BBM ini. Walau banyak calon penumpang, bus yang telah kehabisan kuota BBM tidak dapat mengantar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan BBM hanya mungkin diterapkan pada BBM bersubsidi. Setiap penerima subsidi hanya berhak membeli BBM bersubsidi hingga kuantitas tertentu. Kelebihan kebutuhan mereka dari kuota masih dapat mereka beli pada harga non-subsidi. Mekanismenya akan mirip dengan raskin. Hanya saja, tidak ada perbedaan kualitas produk antara BBM bersubsidi dengan BBM non-subsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja subsidi pemerintah akan sebesar selisih harga pasar dengan harga BBM subsidi yang ditetapkan dikalikan dengan kuota. Belanja pemerintah untuk subsidi BBM akan lebih terkendali karena pemerintah telah menetapkan kuota sejak awal. Akan tetapi, selisih harga masih bergantung pada pergerakan harga pasar minyak. Selain itu, realisasi kuantitas BBM yang disubsidi masih bergantung pada perubahan jumlah kendaraan yang berhak mendapatkan subsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R_n_ivjB1XI/AAAAAAAAAEY/U_ywLUmzX7s/s1600-h/IC+kuota+subsidi.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R_n_ivjB1XI/AAAAAAAAAEY/U_ywLUmzX7s/s400/IC+kuota+subsidi.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186457418237859186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengikuti saran dari komentator anonym untuk melakukan analisis individual dengan kurva indifferen. Kurva di atas menunjukkan pilihan bundel konsumsi seorang pada tiga situasi yang diwakili oleh tiga warna garis anggaran dan kurva indiferen. Warna hitam mewakili situasi subsidi penuh seperti saat ini. Warna merah mewakili situasi di mana seluruh subsidi BBM dicabut, sehingga konsumen mengurangi konsumsi BBM maupun komoditas lain akibat efek pendapatan. Kebijakan kuota pembelian BBM bersubsidi membuat konsumen tersebut masih menghadapi harga biasa (garis anggaran awal) hingga level kuota, kemudian setelahnya menghadapi harga non-subsidi (garis anggaran biru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan manapun akan membuat konsumen mengurangi konsumsi BBM. Apakah konsumsi barang lain bertambah atau berkurang bergantung pada efek pendapatan atau substitusi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8UwTTgIRkI/AAAAAAAAADw/90iBw8hyzzc/s1600-h/analisis+subsidi+individual.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8UwTTgIRkI/AAAAAAAAADw/90iBw8hyzzc/s400/analisis+subsidi+individual.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171592855315564098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik di atas menggambarkan respon jangka pendek individu akan mekanisme kuota subsidi harga BBM. Konsumen A yang biasa mengkonsumsi BBM kurang dari kuota pada harga bersubsidi tidak akan merubah perilaku konsumsinya. Konsumen B dan C akan mengurangi konsumsinya daripada saat menikmati harga subsidi. Hanya saja, konsumen B akan berhenti konsumsi tepat pada kuota sehingga masih menikmati harga subsidi. Sedangkan konsumen C tetap mau mengkonsumsi lebih dari kuota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jangka panjang, konsumen akan mengubah strategi konsumsi BBM. Sebagian konsumen akan beralih pada tipe-tipe kendaraan yang berhak mendapatkan harga subsidi. Misalkan, jika tipe mobil sedan tidak berhak subsidi, sedangkan tipe mobil niaga berhak, maka secara bertahap tren permintaan sedan akan turun sedangkan tren permintaan mobil niaga akan naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kendaraan pribadi tidak berhak atas subsidi, sebagian konsumen akan beralih menggunakan kendaraan umum. Jika mobil pribadi yang digunakan untuk bisnis masih mendapatkan subsidi, perusahaan akan semakin banyak memiliki kendaraan dinas memenuhi permintaan pemilik atau pengelola yang ingin menghindari penggunaan kendaraan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain subsidi ini perlu memperhatikan dampaknya pada perubahan perilaku masyarakat. Pemerintah perlu merancang mekanisme subsidi yang membawa pada penghematan konsumsi BBM, bukan sekedar upaya penghindaran sebagaimana kasus pengalihan kendaraan pribadi ke kendaraan dinas di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, saya melihat bahwa kebijakan pembatasan subsidi yang dirancang dengan teliti berpotensi membawa hasil yang lebih baik daripada alternatif kenaikan maupun mempertahankan harga minyak tanpa adanya kuota. Bagaimanapun juga, keputusan final sebaiknya jangan dulu diambil sebelum melakukan penelitian untuk membandingkan biaya-manfaat dari masing-masing usulan skema subsidi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-1050101305067745126?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/1050101305067745126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=1050101305067745126' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1050101305067745126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/1050101305067745126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/02/pembatasan-minyak.html' title='Pembatasan Minyak'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R_n_ivjB1XI/AAAAAAAAAEY/U_ywLUmzX7s/s72-c/IC+kuota+subsidi.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2527259531539287584</id><published>2008-02-16T06:07:00.001-05:00</published><updated>2008-03-14T04:43:06.990-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><title type='text'>Pertumbuhan, Pertumbuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8PdjTgIRiI/AAAAAAAAADg/yVTkb_o_m3I/s1600-h/Pertumbuhan+2007.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8PdjTgIRiI/AAAAAAAAADg/yVTkb_o_m3I/s400/Pertumbuhan+2007.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171220395751654946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jumat (15/2) Kompas.com memuat 2 berita tentang pertumbuhan. Berita pertama adalah pengumuman BPS tentang pertumbuhan PDB 2007 sebesar 6,32 persen. Berita kedua mengenai penurunan asumsi pertumbuhan ekonomi 2008 pada APBN dari 6,8 persen menjadi 6,4 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menggembirakan dari pertumbuhan 2007 bukanlah karena ia lebih tinggi dari target pemerintah yang 6,3 persen, namun karena ia merupakan kenaikan tinggi dari pertumbuhan tahun 2006 yang hanya 5,5 persen. Sayangnya, kenaikan pertumbuhan sulit diharapkan berlanjut pada tahun ini, sehingga pemerintah menurunkan asumsi pertumbuhan di APBN.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penurunan pertumbuhan didorong oleh dua sisi penawaran dan permintaan agregat. Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan kontraksi penawaran. Penurunan permintaan terutama disebabkan resesi Amerika Serikat yang merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang kedua terbesar setelah Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan asumsi pertumbuhan pada level 6,4 persen merupakan asumsi konservatif. Angka 6,4 persen ini tidak signifikan berbeda dari realisasi pertumbuhan 2007. Pemerintah tidak ingin menunjukkan kinerja buruk dengan penurunan pertumbuhan pada 2008. Akan tetapi, mengharapkan kenaikan pertumbuhan juga tidak realistis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memahami dinamika pertumbuhan, akan lebih baik jika kita meninjau data kuartalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R7bREDgIRgI/AAAAAAAAADQ/w7aFLs-7z-k/s1600-h/gdp_quart.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R7bREDgIRgI/AAAAAAAAADQ/w7aFLs-7z-k/s400/gdp_quart.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167547490043971074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan negatif pada kuartal keempat merupakan kecenderungan musiman, terutama karena akhir tahun merupakan musim paceklik pangan. Walaupun efek musiman ini tidak bisa dihilangkan seutuhnya, perekonomian akan lebih baik jika efek musiman ini minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pertumbuhan senantiasa negatif pada kuartal terakhir, pemerintah tidak akan mengukur kemiskinan pada kuartal ini. Pemerintah cenderung mengukurnya pada kuartal di mana pertumbuhan normal, yakni saat kuartal pertama atau kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja ekonomi kuartalan lebih tepat dilihat dari pertumbuhan satu kuartal dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun lalu. Dilihat dari angka ini, pertumbuhan kuartal empat masih cukup tinggi, yakni 6,25 persen.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8PqJTgIRjI/AAAAAAAAADo/F0vgtrDnvwU/s1600-h/Pertumbuhan+kuartal+yoy.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8PqJTgIRjI/AAAAAAAAADo/F0vgtrDnvwU/s400/Pertumbuhan+kuartal+yoy.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171234242726217266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor yang berkontribusi paling besar pada kinerja pertumbuhan tahun ini adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,4 persen. Pertumbuhan tertinggi sebenarnya dialami sektor tansportasi dan komunikasi sebesar 14,4 persen, akan tetapi porsinya pada PDB yang hanya 7,3 persen membuat kontribusinya tidak terlalu besar bagi pertumbuhan ekonomi total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R7bGWjgIRfI/AAAAAAAAADI/TsNsWN2V54E/s1600-h/laju+dan+sumber+pertumbuhan+by+industri.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R7bGWjgIRfI/AAAAAAAAADI/TsNsWN2V54E/s400/laju+dan+sumber+pertumbuhan+by+industri.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167535713243645426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor yang paling terpukul dengan kenaikan harga minyak kemungkinan adalah transportasi. Sedangkan resesi ekonomi AS cenderung memukul sektor perdagangan dan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan sisi penawaran sebaiknya ditangani dengan kebijakan sisi penawaran juga. Akan tetapi, kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan minyak ini justru semakin menahan ekspansi penawaran. Saya lebih setuju dengan pendapat Chatib Basri untuk menaikkan harga minyak secara (sangat) bertahap dan cukup sering. Saya berharap  telah ada yang melakukan penelitian mengenai mana yang lebih ringan dampaknya pada inflasi, kenaikan besar sekaligus atau kenaikan kecil namun berulang-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi permintaan, penurunan ekspor ke AS perlu disiasati dengan mencari substitusi pasar ekspor baru. China dan India yang sedang mengalami pertumbuhan tinggi, serta negara-negara penghasil minyak yang menikmati kenaikan harga minyak merupakan calon pengganti yang bagus bagi AS. Tentunya komoditas ekspor yang diminta akan berbeda dari yang diminta AS, sehingga redistribusi pendapatan tetap akan terjadi antara eksportir yang kehilangan pelanggan dari AS kepada eksportir yang mendapat pelanggan dari negara tujuan baru tersebut. Hal tersebut tidak dapat dihindari. Kita hanya mengusahakan agar manfaat bersih perubahan tersebut tetap positif untuk rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2527259531539287584?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2527259531539287584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2527259531539287584' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2527259531539287584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2527259531539287584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/02/pertumbuhan-pertumbuhan.html' title='Pertumbuhan, Pertumbuhan'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_IHL47SJOnd8/R8PdjTgIRiI/AAAAAAAAADg/yVTkb_o_m3I/s72-c/Pertumbuhan+2007.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-64401128110877916</id><published>2008-02-05T07:08:00.000-05:00</published><updated>2008-02-05T08:02:56.252-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><title type='text'>Krisis AS Menjalar ke Indonesia, tapi Sedikit</title><content type='html'>Wawancara okezone.com (4/2) dengan Rizal Ramli menyoroti awan mendung perekonomian dunia yang akan membawa badai untuk ekonomi Indonesia, cepat atau lambat. Nuansa kepesimisan akan situasi dan ketidakpercayaan pada pemerintah seperti biasa dibawakan dengan baik oleh Rizal Ramli. Pers amat menyukai gaya Rizal Ramli ini, "bad news is a good news". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita baca kembali argumentasi Rizal Ramli dengan hati-hati. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama dari wawancara ini membahas krisis yang sedang terjadi di Amerika Serikat. Rizal memandang bahwa langkah pemerintah AS dan Bank Sentral mereka tidak akan menyelesaikan masalah. "Karena, kredit macet di sektor perumahan buntut-buntutnya akan terbentur pada kemampuan debitor dalam membayar. Selama tak ada perbaikan terhadap peningkatan pendapatan, maka kemampuan mereka dalam membayar utang nyaris tak ada", kata Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal terkesan menekankan kredit macet di sektor perumahan sebagai masalah utama yang perlu ditangani. Dan ia menegaskan bahwa solusi yang paling efektif adalah peningkatan pendapatan para debitur. Dua poin Rizal di atas memiliki celah dan kontradiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kredit perumahan yang macet merupakan pemicu krisis memang benar. Akan tetapi, kredit macet bukanlah permasalahan utama dari krisis AS, melainkan penurunan permintaan agregat akibat efek beruntun krisis itu. Kenaikan suku bunga hipotek berdampak langsung mengurangi konsumsi pemilik rumah yang masih mengangsur. Banyak perusahaan besar yang memiliki sekuritas hipotek merugi sehingga terpaksa bangkrut atau menciutkan diri. Dampaknya, banyak karyawan perusahaan tersebut kehilangan pekerjaan. Para pengangguran baru ini terpaksa harus mengurangi konsumsi selama belum mendapatkan pekerjaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penggambaran masalah tersebut, apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan bank sentral AS telah tepat. Penurunan bunga oleh the Fed menyelamatkan pasar uang AS dari kehancuran dan mendorong penurunan bunga kredit perumahan. Stimulus fiskal yang digodok pemerintahan Bush dan Senat AS mengurangi pajak pada perusahaan untuk meningkatkan insentif berproduksi dan pada masyarakat bawah untuk menambah pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pemerintah dan bank sentral AS telah melakukan apa yang dipandang Rizal sebagai solusi. Kalaupun ada kekhawatiran pada kebijakan tersebut, sepatutnya diletakkan pada dampak defisit tersebut pada beban utang yang harus dibayarkan generasi mendatang dan tekanan inflasi karena suku bunga terlalu rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua wawancara membahas pengaruh krisis tersebut ke Asia. Rizal tidak mempercayai adanya decoupling (bukan "pengaplingan" seperti dituliskan oleh reporter), yakni pemisahan ekonomi Timur dari Barat, di mana apapun yang terjadi pada perekonomian di belahan Barat tidak akan banyak mempengaruhi perekonomian di belahan Timur, dan juga sebaliknya. Saya sependapat dengan Rizal bahwa penerusan (passing through) krisis akan terjadi melalui saluran perdagangan, namun saya tidak sepakat jika penerusan tersebut juga berjalan melalui pasar uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerusan akan berdampak besar hanya jika salurannya besar pula. Penerusan melalui perdagangan sangat mungkin terjadi karena Amerika mendominasi pasar ekspor negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Analisis Rizal bahwa China dapat membuang overproduksinya yang tidak terserap AS ke Indonesia sangat mungkin terjadi. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi masalah ini agar tidak mematikan produsen dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kemungkinan penerusan pada pasar uang sangat kecil karena salurannya kecil. Hanya sedikit pemodal di Asia yang ikut memiliki sekuritas hipotek AS. Permasalahan hipotek AS juga unik di AS. Mungkin ada masalah yang mirip di sektor properti di Asia, namun belum separah AS. Dengan demikian, kekhawatiran akibat krisis hipotek di AS tidak akan menyebar ke Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis keuangan di Asia sepuluh tahun silam menyebar dengan cepat karena lembaga keuangan di Asia mengalami kerentanan yang mirip. Namun kemiripan tersebut tidak terdapat antara AS dengan Asia sekarang ini, sehingga penyebaran itu kecil kemungkinan akan terjadi. Anjloknya indeks saham di Asia lebih merupakan cerminan ekspektasi pemain pasar uang akan menurunnya pertumbuhan di Asia akibat penerusan yang berjalan melalui saluran perdagangan tersebut, bukan karena kekhawatiran krisis keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga wawancara membahas prospek makroekonomi Indonesia. Saya akan membahasnya pada tulisan lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-64401128110877916?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/64401128110877916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=64401128110877916' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/64401128110877916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/64401128110877916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/02/krisis-as-menjalar-ke-indonesia-tapi.html' title='Krisis AS Menjalar ke Indonesia, tapi Sedikit'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7471621751455284571</id><published>2008-01-31T22:07:00.000-05:00</published><updated>2008-01-31T23:08:39.195-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><title type='text'>Jangan Potong Anggaran Kesehatan!</title><content type='html'>Okezone.com (29/1) memberitakan bahwa Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mau pingsan mendengar anggaran kementerian dan lembaga akan dipotong 15 persen. Sementara Menkeu tetap bersikukuh bahwa pemotongan tersebut tidak dapat dibatalkan demi menyelamatkan APBN dari defisit besar. Ada apa di balik potongan anggaran tersebut?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terakhir saya tentang penghematan anggaran ini menyetujui potongan anggaran tersebut selama sasarannya bukan program terkait pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur. Pengecualian dua jenis program tersebut berdasarkan kriteria prioritas penerima manfaat, kecepatan penyerapan, dan kepentingan ekonomi jangka panjang. Saya awalnya menduga bahwa pendapat saya selaras dengan apa yang direncanakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, motif pemerintah dalam memotong anggaran semata untuk mencegah defisit APBN yang terlalu besar. Pernyataan Menkeu sebelumnya mengenai pengalihan "sebagian" anggaran menjadi subsidi pangan sepertinya hanya pemanis bibir belaka. Saya menduga penghematan tersebut disebabkan besarnya kemungkinan realisasi penerimaan negara yang lebih rendah dari rencana (misal karena realiasi lifting minyak yang semakin menurun) dan pembengkakan anggaran akibat kenaikan harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, potongan tersebut terkesan membabi-buta tanpa melakukan prioritas kementerian/lembaga dari lainnya. Mungkin generalisasi ini dimaksudkan untuk tidak menimbulkan kecemburuan antar Menteri/Kepala Lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Departemen Kesehatan selama ini masih tidak mencukupi kebutuhan pembiayaan program-programnya yang pro kemiskinan. Tahun lalu saja, tunggakan tagihan Askeskin mencapai Rp1,245 triliun. Padahal mayoritas anggaran Depkes telah dialihkan pada program ASkeskin ini untuk menghadapi lonjakan tagihan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2007, program Askeskin telah mencakup 60 juta orang. Program ini merupakan jaring pengaman sosial yang sangat penting karena perawatan kesehatan seringkali menguras aset keluarga yang merupakan hasil tabungan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan minimnya anggaran untuk Askeskin terlihat dari nilai premi yang dibayarkan pada PT Askes sebagai lembaga pengelola Askeskin. Pemerintah hanya membayar premi Rp 5000 per penerima Askeskin. Dengan nilai yang begitu kecil, sulit diharapkan pelayanan yang baik dan perawatan untuk penyakit berat bagi penerima Askeskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, saya merasa tidak sepantasnya anggaran bagi program Depkes masuk ke daftar pemotongan anggaran. Sebaliknya, Depkes layak mendapat prioritas untuk penambahan anggaran, jika ada rencana untuk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya terlalu berempati dengan Menkes?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7471621751455284571?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7471621751455284571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7471621751455284571' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7471621751455284571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7471621751455284571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/15-persen-potongan-anggaran.html' title='Jangan Potong Anggaran Kesehatan!'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-7126346007260034024</id><published>2008-01-30T07:02:00.000-05:00</published><updated>2008-01-30T07:46:16.000-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Properti'/><title type='text'>Subprime Mortgage ala Indonesia?</title><content type='html'>Investor Daily (30/01) memberitakan bahwa Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Menpera)sedang mengupayakan kemudahan kredit perumahan untuk PNS. Sasarannya jelas, agar PNS kecil yang belum punya rumah dapat segera memiliki tempat tinggal yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai program yang menguntungkan rakyat kecil, kemudahan kredit perumahan ini layak didukung. Akan tetapi, pemerintah juga harus mengelola sektor properti ini dengan hati-hati agar kita tidak mengulang krisis subprime mortgage yang dialami Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari 1,2 juta PNS yang belum punya rumah, 114 ribu di antaranya akan mendapat bantuan dana sebesar Rp 442 miliar dari Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (Bapertarum). Bantuan tersebut akan diwujudkan dalam bentuk pinjaman berbunga rendah untuk uang muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinjaman uang muka tersebut akan merangsang PNS untuk segera merealisasikan rencananya untuk membeli rumah. PNS rendahan perlu waktu lama untuk menabung hingga cukup untuk membayar uang muka. Padahal, mereka tidak terlalu bermasalah dengan cicilan karena tinggal dipotong dari gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembang relatif merasa aman jika memiliki klien PNS karena penagihannya mudah (potong gaji) dan hampir tidak ada kemungkinan kehilangan pencaharian. Karena itu, PNS biasanya mendapat perlakuan khusus berupa masa cicilan yang lebih panjang daripada pembeli rumah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insentif pemerintah ini akan mendorong pertumbuhan sektor properti secara nasional. Peningkatan permintaan akan mendorong kenaikan harga. Para investor real-estate akan melihat potensi keuntungan dari kecenderungan kenaikan harga ini. Aksi spekulasi dari investor real-estate akan semakin melambungkan harga dan menimbulkan gelembung di sektor properti. Setelah itu, kita tinggal menunggu waktu terulangnya krisis ekonomi Amerika Serikat yang juga dimulai dari kejatuhan sektor properti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum semua itu terjadi, pemerintah sebaiknya mengkaji struktur industri properti kita. Krisis moneter Asia sepuluh tahun silam memberikan pelajaran bagi kita untuk menerapkan kehati-hatian pada sektor keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dampak buruk dari terlalu berhati-hati adalah pertumbuhan yang lambat. Titik tengahnya, menurut saya, adalah kehati-hatian itu ditujukan terutama kepada aktivitas spekulasi yang menjadi sumber penggelembungan ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghambat spekulasi di sektor properti, saya mengusulkan agar pemerintah menerapkan pajak kekayaan pada orang yang memiliki rumah lebih dari satu. Jika pajak tersebut cukup besar, ekspektasi keuntungan spekulan akan berkurang. Spekulan akan berkurang minatnya untuk melakukan spekulasi di sektor properti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini juga akan menguntungkan pembeli rumah yang sebenarnya, yakni mereka yang memang belum memiliki rumah. Berkurangnya spekulasi pada rumah akan mencegah harga rumah dan suku bunga naik. Mereka dapat membeli pada harga yang lebih murah dan meminjam kredit pada bunga yang lebih rendah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-7126346007260034024?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/7126346007260034024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=7126346007260034024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7126346007260034024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/7126346007260034024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/subprime-mortgage-ala-indonesia.html' title='Subprime Mortgage ala Indonesia?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-856921820750671956</id><published>2008-01-27T08:01:00.000-05:00</published><updated>2008-01-30T06:34:05.073-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi politik'/><title type='text'>Berjasakah Soeharto?</title><content type='html'>Investor Daily (27/1) mengutip komentar Hadi Soesastro tentang Soeharto, "Tentu sederet prestasi yang luar biasa dari kepemipinan beliau yang tidak bisa dilupakan. Namun, kalaupun ada hal negatif seperti berkembangnya kronisme yang mengakar di semua bidang kehidupan, tentu ini adalah bagian kedua dari cerita soal Pak Harto,"&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hanya Tuhan yang berwewenang untuk menimbang mana yang lebih berat antara jasa dan dosa Soeharto pada Indonesia. Secara etik, kita memang tidak layak untuk menjelek-jelekkan orang yang (barusan) meninggal. Lebih pantas bagi kita untuk membicarakan jasa-jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara riil, kepemimpinan Soeharto telah mengentaskan ekonomi Indonesia dari krisis yang amat buruk di penghujung Orde Lama. Soeharto memilih tim ekonomi yang tepat, yakni mereka yang sering disebut Mafia Berkeley. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim ekonomi tersebut berisikan lulusan Amerika Serikat yang sepakat untuk bersikap pragmatis dan efisien. Gagasan pembangunan yang mereka usung tidak akan berjalan tanpa dukungan kekuasaan Soeharto. Gagasan mereka sering bertentangan dengan kepentingan elit politik dan birokrasi. Tanpa dukungan Soeharto, banyak perbaikan tidak dapat kita nikmati seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi melihat Soeharto bukanlah musibah bagi bangsa ini. "Jika" pengganti Soekarno bukan Soeharto, belum tentu keadaan dapat lebih baik. Segala macam penyakit negara (korupsi, nepotisme, ketidakadilan hukum)yang dikambinghitamkan pada Soeharto telah meluas sejak sebelum dia berkuasa. Kesalahan Soeharto adalah ia tidak menumpas penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediktatoran Soeharto adalah pelajaran yang diambilnya dari masa pemerintahan Soekarno. Soekarno sendiri kapok dengan sistem demokrasi liberal yang membuat pemerintahan tidak efektif, sehingga memusatkan kekuasaan pada dirinya. Soeharto belajar dari Soekarno bahwa kediktatoran perlu untuk stabilitas dan efektivitas pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak membenarkan kesalahan Soeharto. Saya sekedar memberikan permakluman bahwa pilihan-pilihan Soeharto pun dibentuk oleh situasi zamannya. Seperti kebanyakan dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada yang dapat dipelajari dari masa lalu baik berupa kegagalan maupun kesuksesan. Soeharto pernah membawa kita keluar dari krisis hingga menjadi salah satu macan Asia. Apakah saat ini kita mampu menemukan pemimpin yang dapat mengulang keberhasilan tersebut? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-856921820750671956?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/856921820750671956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=856921820750671956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/856921820750671956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/856921820750671956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/berjasakah-soeharto.html' title='Berjasakah Soeharto?'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6984637774780106538</id><published>2008-01-27T00:48:00.000-05:00</published><updated>2008-01-30T06:30:30.664-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makro'/><title type='text'>Jangan Khawatirkan Indeks Bursa</title><content type='html'>Rabu lalu (23/1), Kompas online memberitakan pengakuan Menkeu bahwa "...ancaman dari resesi global &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;akibat&lt;/span&gt; menurunnya  pergerakan indeks di bursa saham dunia sangat mungkin memengaruhi proyeksi perekonomian Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada kesalahan arah kausalitas dalam berita tersebut, entah itu pernyataan Menkeu sendiri atau kekeliruan reporter. Pergerakan indeks dipengaruhi oleh ekspektasi pemain bursa terhadap situasi ekonomi masa depan, bukan sebaliknya. Naik turunnya indeks saham  tidak mempengaruhi keputusan belanja modal perusahaan yang sahamnya listing di bursa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks bursa bukan penyebab, namun dapat menjadi signal akan peristiwa masa depan. Penurunan indeks global disebabkan kekhawatiran resesi ekonomi Amerika Serikat dan kasus kerugian bank besar Perancis, Societe Generale, akibat kalah spekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesahihan signal ini tergantung dari apakah ekspektasi pelaku yang mendorong pergerakan indeks tersebut dilandasi oleh informasi dan pertimbangan wajar, atau lebih didorong kepanikan dan optimisme berlebihan yang popouler disebut perilaku kawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada pula kemungkinan perilaku kawanan ini menularkan krisis di sektor keuangan pada krisis di sektor riil. Jika perilaku kawanan ini mendorong perubahan kurs yang drastis, ekspor dan impor menjadi jembatan pengaruh ke sektor riil. Demikian pula,jika ada lembaga keuangan di Indonesia terkena kerugian besar akibat kalah spekulasi di bursa, ada risiko masyarakat akan kehilangan kepercayaan ke seluruh lembaga keuangan sehingga mengganggu fungsi intermediasi yang merupakan pembuluh darah ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini, penurunan indeks bursa di Indonesia yang terpengaruh bursa dunia belum menular ke sektor riil. Perhatian lebih baik kita tujukan pada kasus harga pangan dan minyak yang sangat mempengaruhi ekonomi domestik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6984637774780106538?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6984637774780106538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6984637774780106538' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6984637774780106538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6984637774780106538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/jangan-khawatirkan-indeks-bursa.html' title='Jangan Khawatirkan Indeks Bursa'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-6218431787905893927</id><published>2008-01-26T23:22:00.000-05:00</published><updated>2008-01-30T06:31:32.094-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja pemerintah'/><title type='text'>Penghematan Anggaran</title><content type='html'>Investor Daily (26/1) memberitakan bahwa Pemerintah berusaha menghemat 15% anggaran tiap kementerian dan lembaga untuk dialokasikan sebagian pada subsidi pangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah mungkin berkaca dari tahun realisasi APBN 2007 di mana kementerian dan lembaga tidak mampu cepat menyerap anggaran yang dialokasikan untuk mereka. Penyerapan secara cepat tiba-tiba terjadi pada dua bulan terakhir yang menunjukkan kesan asal menghabiskan anggaran.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan birokrasi untuk menyerap anggaran secara efektif merupakan ironi di tengah kelangkaan infrastruktur dan telantarnya masyarakat miskin. Selama ini pemerintah berlindung di balik alasan cekaknya anggaran ketika mereka menaikkan harga minyak dan tidak mampu menyediakan cukup infrastruktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi lesunya ekonomi dunia pada tahun 2008 akibat kenaikan harga minyak dan krisis keuangan di Amerika Serikat, pemerintah berusaha mempertahankan laju pertumbuhan sesuai target dengan meningkatkan permintaan domestik. Anggaran untuk pos yang selama ini lambat menyerapnya lebih baik dipindahkan untuk pos lain yang lebih cepat menyerap. Program pro kemiskinan termasuk program yang sangat mudah menyerap anggaran. Kenaikan harga bahan pangan merupakan momen tepat untuk memberikan subsidi atau transfer kas agar tingkat konsumsi masyarakat tidak menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek infrastruktur selama ini merupakan pos yang lambat menyerap anggaran. Akan tetapi, pemerintah tidak mungkin mengurangi pos anggaran untuk ini. Penyediaan infrastruktur merupakan syarat bagi masuknya investasi serta lancarnya kegiatan produksi dan distribusi. Proyek infrastruktur yang sebagian besar berupa konstruksi memiliki efek pengganda yang tinggi dan menyerap banyak lapangan kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghematan anggaran lebih baik ditujukan pada program-program birokrasi yang tidak jelas kemanfaatannya dan potensi inefisiensinya tinggi. Perubahan struktur anggaran yang tiba-tiba tanpa disertai kesiapan lembaga yang menerimanya, seperti kasus lonjakan anggaran pendidikan, menimbulkan inefisiensi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-6218431787905893927?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/6218431787905893927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=6218431787905893927' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6218431787905893927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/6218431787905893927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/penghematan-anggaran.html' title='Penghematan Anggaran'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-2744931149493600555</id><published>2008-01-26T07:46:00.000-05:00</published><updated>2008-01-26T08:49:23.185-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komoditi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subsidi'/><title type='text'>Subsidi Kedelai</title><content type='html'>Blog &lt;a href="http://diskusiekonomi.blogspot.com/2008/01/mana-yang-lebih-baik-subdisi-bbm-atau.html"&gt;Diskusi Ekonomi &lt;/a&gt; membahas penanganan jangka pendek kenaikan harga kedelai. Diskusi mengerucut pada penggunaan subsidi yang diarahkan langsung pada orang miskin. Namun masih belum ada kesepakatan bentuk subsidi tersebut. Chatib Basri cenderung kepada subsidi yang masih mengikat, dalam bentuk barang ataupun conditional cash transfer. Sementara Arya Gaduh berpendapat bahwa transfer kas tak bersyarat lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok pengalaman buruk Bantuan Langsung Tunai (BLT), saya cenderung lebih setuju pada bentuk food-stamp. Bantuan kas tak bersyarat membuka potensi penggunaan yang bukan prioritas. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa uang yang mudah didapat akan mudah pula dihabiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model bantuan ini juga lebih unggul daripada model raskin pada beberapa sisi. Pertama, bantuan berupa kupon lebih mudah didistribusikan daripada bentuk komoditas. Kedua, orang miskin dapat memilih kualitas dan kuantitas komoditas sesuai dengan preferensi mereka, sehingga tidak akan terjadi kasus seperti protes dan penjualan kembali raskin karena buruknya kualitas raskin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-2744931149493600555?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/2744931149493600555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=2744931149493600555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2744931149493600555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/2744931149493600555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/subsidi-kedelai.html' title='Subsidi Kedelai'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1936455477148208860.post-5694248297701615309</id><published>2008-01-26T06:08:00.000-05:00</published><updated>2008-01-27T00:36:15.071-05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tata Ekonomi'/><title type='text'>Di Balik Revolusi Korporat</title><content type='html'>Investor Daily, 26/01/2008 memuat berita berjudul Bill Gates Serukan Kapitalisme Kreatif. Dua hari sebelumnya, New York Times memberitakan &lt;a href="http://www.nytimes.com/2008/01/24/business/24walmart.html?em&amp;ex=1201410000&amp;en=0308694432cb2bbd&amp;ei=5087%0A"&gt;Manifesto Sosial Wal-Mart&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan yang bertanggung jawab pada masyarakat merupakan tren baru. Dalam bentuknya yang ekstrim, manajemen perusahaan tidak lagi hanya berkewajiban melayani kepentingan pemilik modal, namun juga melayani kepentingan seluruh stakeholder, mencakup karyawan, pemerintah, dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren ini ditangkap oleh para pemimpin perusahaan besar dunia. Mereka tidak ingin terlihat sebagai pengekor. Jika memang dunia sedang berubah menuju ke suatu arah, mereka harus tetap menjadi yang terdepan Karena itu mereka sekarang bersaing untuk menjadi perusahaan terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadi pelopor, mereka dapat mengendalikan aturan main. Sebelum mereka diatur orang lain, mereka mengatur terlebih dulu. &lt;strong&gt;Inisiatif adalah kekuasaan&lt;/strong&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1936455477148208860-5694248297701615309?l=www.komentarekonomi.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/feeds/5694248297701615309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1936455477148208860&amp;postID=5694248297701615309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5694248297701615309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1936455477148208860/posts/default/5694248297701615309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.komentarekonomi.co.cc/2008/01/di-balik-revolusi-korporat.html' title='Di Balik Revolusi Korporat'/><author><name>Muhamad Said Fathurrohman</name><uri>https://profiles.google.com/112912129601722614368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0ur9I7H_fcY/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAACSc/qVGMlcTGd4M/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
